Kembali Menang, Abe Menjadi PM Jepang Terlama

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Kamis, 20 Sep 2018, 16:59 WIB Internasional
Kembali Menang, Abe Menjadi PM Jepang Terlama

AFP

PERDANA Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe berhasil memenangkan pemilihan ulang ketua Partai Demokratik Liberal. Kemenangan ini memuluskan langkah Abe untuk mereformasi konstitusi, sekaligus menjadikannya sebagai pemimpin terlama di Negeri Sakura.

Dukungan yang diraup pria konservatif berusia 63 tahun, mencapai 553 suara. Sedangkan 254 suara sisanya berpihak pada kubu calon ketua lainnya, yakni mantan Menteri Pertahanan Jepang Shigeru Ishiba. Setelah ditahbiskan sebagai ketua partai, praktis Abe kembali menduduki kursi PM Jepang selama tiga tahun ke depan. Capaian Abe memecahkan rekor pemimpin Jepang terlama, yang sebelumnya dipegang politisi Taro Katsura dengan periode 1901-1913.

Kemenangan Abe diiringi teriakan "banzai" yang digelorakan anggota partai pendukungnya. Abe pun tersenyum lebar seraya berkomentar, "Pertarungan sudah berakhir, mari kita bangun Jepang baru. Tentunya dengan persatuan dan selalu bergandeng tangan."

Profesor bidang politik dari Universitas Meiji, Shinichi Nishikawa, memandang kemenangan Abe sudah sewajarnya, mengingat banyaknya negosiasi yang digencarkan sebelum pemungutan suara. "Sepertinya dia tidak sepenuh hati menyambut hasilnya. Karena kemenangan yang diperoleh bukan suatu prestasi besar," ujar Nishikawa kepada AFP.

Dukungan publik terhadap Abe, seorang yang berasal dari keluarga politikus, sempat surut. Namun dia berhasil menghimpun kembali dukungan publik, setelah mengatasi isu kronisme dan skandal lainnya.

Abe pun dipastikan hadir dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, serta mengadakan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Pemimpin Jepang dan AS itu sempat menikmati momen kebersamaan di lapangan golf, mencerminkan hubungan diplomatik yang erat. Akan tetapi, keduanya harus menyamakan pemahaman di tengah persepsi AS yang memasukkan Jepang dalam daftar mitra dagang tidak adil.

Sementara itu, fokus perhatian masyarakat Jepang mengarah pada isu ekonomi dan jaminan sosial. Abe pun mencermati kondisi saat ini dengan mendorong reformasi konstitusi di Jepang pasca Perang Dunia II.

Sebagai nasionalis, Abe kerap menyuarakan keinginannya untuk menulis ulang konstitusi pasifis yang dipaksakan AS saat menjajah Jepang. Substansinya ialah mendikte Jepang meninggalkan perang dan tidak mempertahankan pasukan bersenjata.

Dalam pidato tunggalnya di Tokyo, Abe menegaskan setiap perubahan semestinya merujuk pada Pasukan Bela Diri Jepang, untuk memperjelas status mereka. Sebab, kekuatan militer dipandang tidak konstitusional. "Sudah waktunya menetapkan (status) Pasukan Bela Diri dan Pasukan Perdamaian Jepang, dalam konstitusi. Bersama anda semua, mari dorong reformasi," ujar Abe.

Kendati demikian, perubahan sekecil apapun dalam teks pasifis tentunya sangat sensitif bagi Tiongkok dan Korea, yang menjadi korban agresi militer Jepang pada abad ke-20. Pengamat politik dari Universitas Tokyo, Yu Uchiyama, berpendapat apabila Abe bersikeras mereformasi konstitusi melalui parlemen, Abe bisa menghadapi referendum. Bahkan, memunculkan potensi krisis politik seperti Brexit.

"Survei juga menunjukkan bahwa mengubah teks hukum, jauh dari harapan masyarakat Jepang. Pada umumnya, mereka memikirkan persoalan penurunan populasi produktif, serta pelambatan ekonomi," tutur Uchiyama.

Menyoroti situasi ekonomi Jepang, Abe berjanji akan meluncurkan stimulus kebijakan yang lebih berani. Termasuk mempertimbangkan kembali rencana kenaikan pajak penjualan pada Oktober 2019. Laju pertumbuhan ekonomi Jepang dalam beberapa tahun terakhir, cenderung melambat. Kondisi tersebut tidak lepas dari pelonggaran kebijakan moneter Bank Sentral Jepang (BoJ), besarnya belanja pemerintah, hingga pelemahan nilai tukar yen terhadap dolar AS.(AFP/OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More