Dukungan Kepala Daerah ke Jokowi kian Masif

Penulis: Rudy Polycarpus Pada: Kamis, 20 Sep 2018, 08:05 WIB Politik dan Hukum
Dukungan Kepala Daerah ke Jokowi kian Masif

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Sitti Rohmi Djalilah -- ANTARA

DUKUNGAN kepala daerah kepada bakal calon presiden petahana Joko Widodo dalam Pemilihan Presiden 2019 terus mengalir.

Setelah delapan dari sembilan gubernur baru yang terpilih pekan lalu menyatakan dukungan kepada Jokowi, kemarin dukungan yang sama juga dinyatakan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Sitti Rohmi Djalilah. Sitti mengikuti jejak adiknya, Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang, keluar dari Partai Demokrat. Tak hanya keluar, Sitti pun mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019.

"Saya sudah mundur dari Demokrat, tidak lama setelah TGB mundur," ujar Sitti seusai dilantik Presiden Jokowi bersama Gubernur NTB Zulkifliemansyah di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Karena alasan moril, Sitti enggan menjelaskan alasannya mudur dari Partai Demokrat. Kini, Sitti mengaku belum memiliki partai. Karena itu, ia pun menyatakan bersedia bergabung dalam tim kampanye Jokowi-Ma'ruf. "Bersedia, selama itu hal yang baik," pungkasnya.

Adapun Zulkifliemansyah, ia mengakui dekat secara personal dengan Jokowi dan mengakui kinerjanya. Akan tetapi, ia masih enggan menyatakan dukungan secara terbuka. Pasalnya, kata dia, fokus utama dia saat ini sebagai Gubernur NTB ialah merekonstruksi wilayah akibat gempa Lombok.

Dalam pelantikan, Presiden memang berpesan kepada Gubernur-Wakil Gubernur NTB 2018-2023 agar fokus pada pelaksanaan rekonstruksi gempa Lombok.

"Langsung bekerja. Ada persoalan besar yang segera harus diselesaikan, yaitu rehabilitasi dan rekontruksi rumah-rumah yang kemarin menjadi korban gempa," ujar Presiden seusai melantik Zulkifliemansyah-Sitti.

Bupati-wali kota

Dukungan kepada pasangan Jokowi-Ma'ruf, kemarin, juga dideklarasikan sembilan kepala daerah dan Gubernur Riau. Menurut deklarator Cakra 19 yang juga juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf untuk Riau, Supirman, kesembilan kepala daerah itu ialah Bupati Siak Syamsuar, Wali Kota Dumai Zulkifli AS, Bupati Pelalawan Harris, Bupati Indragiri Hulu Yopi Arianto, Bupati Indragiri Hilir Wardan, Bupati Kampar Azis Zaenal, Bupati Kuantan Singingi Mursini, Bupati Rokan Hilir Suyatno, dan Bupati Bengkalis Amril Mukminin.

Sebelumnya, 10 bupati dan wali kota di Sumatra Barat juga telah menyatakan dukungan yang sama.

Pengajar sejarah politik dari Universitas Andalas Padang, Israr Iskandar, menilai deklarasi 10 kepala daerah di Sumbar itu merupakan simbol beralihnya dukungan masyarakat Sumbar dari Prabowo ke Jokowi. Pada Pilpres 2014, Jokowi kalah dari Prabowo di Sumbar.

Sikap para bupati dan wali kota tersebut, menurut Israr, disebabkan mereka melihat kinerja Jokowi.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Johnny G Plate, menilai apa yang dilakukan para kepala daerah yang meninggalkan atribut partai dan mendukung Jokowi sebagai sebuah konsekuensi logis dan realistis. Ia memandang hal itu bukan langkah pragmatis.

Menurut Sekjen Partai NasDem tersebut, langkah itu pilihan realistis dari para kepala daerah. Salah satu sebabnya, menurut Johnny, wilayah mereka merasakan betul dampak dari pembangunan yang dilakukan pemerintahan Jokowi.

Koordinator Nasional Jaring-an Pendidikan Pemilih untuk Rakyat, Sunanto, menyebut dukungan kepala daerah itu sah-sah saja sejauh tidak memanfaatkan kekuasaan sebagai gubernur-wakil gubernur, wali kota-wakil wali kota, atau bupati-wakil bupati. (Dro/YH/Opn/X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More