Lebih Disebabkan Eksternal, Prediksi Nilai Tukar dan Harga Minyak Semakin Sulit

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Rabu, 19 Sep 2018, 14:42 WIB Ekonomi
Lebih Disebabkan Eksternal, Prediksi Nilai Tukar dan Harga Minyak Semakin Sulit

Antara/Galih Pradipta

HARGA minyak dan nilai tukar rupiah menjadi dua variable uang semakin sulit diprediksi saat ini, demikian disampaikan oleh Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Adriyanto. 

Diakuinya, harga minyak yang memang susah diprediksi karena banyak ketidakpastian di luar variabel ekonomi yang mempengaruhi harga minyak. Sementara nilai tukar saat ini sulit diprediksikan akibat penyebab pelemahan lebih disebabkan faktor non-fundamental.

"Dahulu masih bisa diprediksi, sekarang tambah sulit artinya proyeksi ke depan deviasinya semakin lebar dan bukan faktor fundamental saja yang memenagruhi. Namun non fundamental khususnya saat ini. Nilai tukar sekarang agak sedikit random artinya diluar prediksi," ujar Adriyanto, dalam seminar Kemana Arah Rupiah di ruang Fraksi PPP, Gedung Parlemen, Jakarta, (19/8). 

Sejak 2013, AS melakukan normalisasi kebijakan moneter mereka dan di 2017 perlahan mulai menaikkan suku bunga bank sentralnya, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan mengejar targt inflasinya. AS pun menjadi sangat dinamis.

Kebijakan mereka menaikan tingkat suku bunga The Fed kemudian diantisipasi pasar. Tensi lain yang ditimbulkan kekhawatiran termasuk perang dagang AS dan Tiongkok menimbulkan kekhawatiran di pasar.

Imbal hasil (yield) US treasury bonds 10 tahun sempt mencapai 3%. Para investor kemudian memproyeksi pertumbuhan AS akan lebih baik.

"Di sini kalau kita lihat yield tumbuh 3% menimbulkan spread lebar return investasi dibanding nengara-negara emerging dengan AS. Makanya sekarang kalau banyak investor realokasi aset mereka dari emerging ke tempat return yang lebih safe dan besar bagi keuntungan mereka," ulasnya.

Akibatnya, terjadi pergerakan tekanan di banyak negara termasuk di Indonesia. Di Indonesia harga saham di bursa efek mengalami penuruanan mulai dari awal Januari. Hal sama terjadi pada indeks saham internasional emerging market MSCI.

Realokasi aset saham ini itu timbulkan tekanan di banyak negara seperti Turki dan Argentina. Indonesia, kata Adriyanto, masih jauh lebih baik.

Sebaliknya, Turki dan Argentina krisis mereka disertai masalah ekonomi internal yang juga cukup dalam. Pelarian aset di Turki bergeser dari Lira dipindahkan investor ke dalam dolar AS. Akibatnya  mata uang lira terdepresiasi sampai 40%.

"Tapi dampaknya tidak signifikan di Indonesia," tutur dia. 

Pergerakan yield US treasury juga mendorong imbal hasil SBN Indonesia 10 tahun naik menjadi 8,5%. Tekanan larinya capital outflow karena realokasi aset dari rupiah ke dolar AS juga membuat ketersediaan dolar di dalam negeri berkurang karena investasi asing yang masuk turun kuartal II-2018 lalu.

"Jadi memproyeksikan nilai sekarang agak sulit  Ini menunjukkan bahwa faktor luar sangat pengaruhi pergerakannya. Artinya para investor merasa khawatir akan suatu negara berkembang dan memikirkan kembali investasi di negara tersebut," terang Adriyanto.

Maka, menjadi penting menjaga persepsi para investor. Persepsi positif bisa menimbulkan ketenangan di pasar dan mengurangi tekanan di rupiah.

"Ke depan tantangan tidak hanya di Indonesia. Negara seperti Brasil, Turki ,Pakistan dan Bangladesh juga mengalami dampak signifikan. Namun investor melihat dengan men-generalisasikan negara-negara berkembang. Maka persepsi ini yang perlu dijaga," tukas Adriyanto. (OL-3)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More