Menkes: Perlu Perbaikan Infrastruktur Untuk Menangani Stunting

Penulis: Putri Anisa Yuliani Pada: Rabu, 19 Sep 2018, 14:22 WIB Humaniora
Menkes: Perlu Perbaikan Infrastruktur Untuk Menangani Stunting

ANTARA/Maulana Surya

MENTERI Kesehatan Nila Moeloek mengatakan pihaknya tak bisa bekerja sendiri dalam mengatasi masalah lambatnya tumbuh kembang anak atau stunting yang tinggi. Perlu kerja sama berbagai pihak untuk menghilangkan penyebab stunting.

Contohnya, Kemenkes telah melakukan berbagai upaya seperti pemberian vitamin, bantuan susu dan makanan sehat penunjang bagi balita untuk mencegah stunting. Tetapi, upaya itu tidak akan berhasil apabila masyarakat tidak memiliki sanitasi yang baik, lingkungan yang sehat serta kemudahan akses ke fasilitas kesehatan.

"Kita sudah berikan macam-macam tapi kalau dia tidak punya sumber air bersih, MCK yang baik, ya sama saja. Bagaimana mau cuci tangan kalau air untuk dikonsumsi saja susah. Dan bukan tugas kami untuk membangun itu semua," ungkap Menkes dalam sambutannya di acara peluncuran buku laporan Aiming High Bank Dunia di Jakarta, Rabu (19/9).

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2014, angka stunting di Indonesia berada pada 37% atau sekitar 9 juta anak yang mengalami stunting. Pemerintah sendiri menargetkan penurunan stunting hingga 2,5% tiap tahun dengan target puncak bisa menurun hingga menyentuh angka 22% pada 2030.

Ia pun meminta seluruh kementerian dan lembaga ikut serta membuat program penanganan stunting. Pun dengan industri, yang memiliki peran serta pada tingginya angka stunting. Menurutnya, saat ini industri telah berjalan tidak seimbang dengan promosi hidup sehat yang dilakukan pemerintah.

"Saya memahami industri punya tujuannya sendiri. Memang tidak mudah menyeimbangkan hal ini. Tapi tetap kita harus membuat bagaimana orientasinya membuat manusia yang berkualitas," terangnya.(OL-6)

Berikut Data Riskedas tentang jumlah stunting :

Tahun 1993: 42,7%

Tahun 1997: 46%

Tahun 2000: 40%

Tahun 2007: 36,8%

Tahun 2013: 37,1%

Target Penurunan Stunting

Tahun 2018: 31%

Tahun 2019: 30%

Tahun 2020: 28%

Tahun 2021: 27%

Tahun 2022: 22%

Data stunting menurut kondisi ekonomi

Tahun 2007

Sangat miskin (SM) 41%, Miskin (M) 39%, Menengah (Mn) 37%, Menengah ke atas (Ma) 34%, Kaya (K) 30%

Tahun 2013

SM 48%, M 42%, Mn 39%, Ma 32%, K 29%

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More