Ekspor RI Tumbuh di Tengah Perang Dagang

Penulis: Andhika Prasetyo Pada: Rabu, 19 Sep 2018, 08:45 WIB Ekonomi
Ekspor RI Tumbuh di Tengah Perang Dagang

DI tengah konflik perdagangan yang terjadi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, kinerja ekspor Indonesia dilaporkan tercatat tetap baik, bahkan tumbuh jauh bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Secara kumulatif, total perdagangan ke luar negeri selama Januari hingga Agustus tahun ini tercatat sebesar US$120,1 miliar, melonjak 10,39% dari periode yang sama di 2017 (lihat grafik).

Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kementerian Perdagangan Kasan Muhri mengatakan perselisihan dagang antara AS dan Tiongkok memang tidak secara langsung berdampak negatif kepada Indonesia.

Pasalnya, kedua negara itu, sebut Kasan, tidak menganggap Indonesia sebagai negara besar dengan kontribusi dagang yang tinggi. Di sisi lain, Indonesia melihat kedua negara itu ialah tujuan utama.

"Indonesia kini hanya perlu meningkatkan daya saing untuk berkompetisi dengan produk-produk negara tetangga seperti Vietnam dan Thailand yang juga cukup besar ke negara-negara itu," ujar Kasan di Jakarta, kemarin.

Bagian menariknya ialah AS dan Tiongkok menjadi dua negara yang justru paling membantu Indonesia dalam mencapai naiknya nilai perdagangan tersebut.

Total ekspor ke Tiongkok selama delapan bulan pertama 2018 dilaporkan tumbuh 31,95% jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dengan angka itu, 'Negeri Tirai Bambu' menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia.

Di posisi ketiga bercokol AS dengan nilai perdagangan ke negara itu US$12,3 miliar.

Tiongkok

Sementara itu, Tiongkok dilaporkan tidak tinggal diam setelah mengetahui pengumuman putaran tarif baru dari Amerika Serikat yang berlaku pekan depan.

Pemerintahan Donald Trump sebelumnya menyatakan akan mengenakan tarif bea masuk sebesar 10% terhadap komoditas impor Tiongkok senilai US$200 miliar.

Kemarin, pemerintah Tiongkok menyatakan akan segera mengambil tindakan balasan.

"Semestinya kami mengutamakan hak dan kepentingan perdagangan global, tetapi tidak ada pilihan selain melemparkan tindakan balasan sebagai senjata pamungkas," demikian bunyi keterangan resmi dari Kementerian Perdagangan Tiongkok.

Kendati demikian, tindakan balasan yang dimaksud belum dijelaskan secara eskplisit, termasuk potensi pengenaan tarif bea impor atas komoditas AS senilai US$60 miliar apabila 'Negeri Paman Sam' kembali mendorong gelombang perang dagang.

"AS berkeras meningkatkan tarif (terhadap komoditas dari Tiongkok). Hal itu membawa ketidakpastian baru terhadap proses konsultasi di antara kedua belah pihak," lanjut pernyataan resmi tersebut.

Seorang pejabat senior pemerintah AS menyatakan tarif bea masuk sebesar 10% mulai diberlakukan pekan depan. Namun, untuk produk konsumen seperti jam pintar dan peralatan bluetooth yang diekspor Tiongkok dikecualikan dari daftar pengenaan tarif baru.

"Sebenarnya kami berupaya mencari solusi agar produk konsumen tidak terdampak kebijakan tarif. Akan tetapi, berbagai produk jaringan tipe router harus dikenai tarif baru," ujar pejabat tersebut, sebagaimana diberitakan CNN.

Pemberlakuan tarif baru bagi Tiongkok dimulai 24 September 2018. Jika Tiongkok membalas serangan, Trump mengancam kembali menaikkan tarif komoditas lain senilai US$267 miliar. (AFP/Tes/X-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More