Dana Korupsi Masuk Partai, PDIP: Gotong Royong, Bukan Gotong Nyolong

Penulis: Astri Novaria Pada: Senin, 17 Sep 2018, 21:51 WIB Politik dan Hukum
Dana Korupsi Masuk Partai, PDIP: Gotong Royong, Bukan Gotong Nyolong

MI/M. Irfan

KETUA DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hendrawan Supratikno menanggapi pernyataan Bupati Purbalingga nonaktif Tasdi yang mengaku uang suap yang diterimanya dalam proyek pengadaan barang dan jasa di kabupaten tersebut pada 207-2018 diperuntukkan bagi kebutuhan partai berlambang banteng moncong putih itu.

"Ini yang sering merepotkan. Kader Ketua DPC yang kebetulan juga menjadi pejabat seperti Bupati sering tidak tegas membedakan urusan partai dan urusan pemerintah," ujar Hendrawan saat dihubungi Media Indonesia, Senin (17/9).

Dalam hal pendanaan partai, sambung Hendrawan, prinsipnya adalah gotong royong, bukan gotong nyolong. Menurutnya hal ini yang sering tidak bisa dibedakan oleh kader partai yang juga menjadi pejabat publik sehingga terjadi pelanggaran hukum.

"Dalam gotong royong, ada sumbangan fraksi di DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR RI. Ini yang dikelola secara bertanggung jawab. Jadi tidak usah aneh-aneh dan merugikan kepentingan yang lebih besar," tandasnya.

Sebelumnya, Tasdi saat diperiksa sebagai saksi untuk empat terdakwa kasus suap dalam proyek pengadaan barang dan jasa di kabupen Purbalingga pada 2017-2018 di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (17/9) hari ini, mengaku uang suap yang diterimanya sebesar Rp500 juta diperuntukkan bagi kebutuhan PDIP.

Sebagai Ketua DPC PDIP Purbalingga, Tasdi ditarget meraih suara 70% di wilayahnya untuk memenangkan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin yang diusung PDIP dalam Pilgub 2018 kemarin. Menyangkut hal ini, PDIP membantah target tersebut arahan dari DPP.

"Target itu selalu bottom up, artinya masukan dari bawah, dari Pak Tasdi dan jajarannya sendiri," pungkasnya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More