Yeni Wahid belum Jatuhkan Pilihan Paslon Presiden

Penulis: Djoko Sardjono Pada: Minggu, 16 Sep 2018, 17:10 WIB Politik dan Hukum
Yeni Wahid belum Jatuhkan Pilihan Paslon Presiden

MI/SUMARYANTO

PUTRI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yeni Wahid, hingga saat ini belum memutuskan ke mana arah dukungannya pada pemilihan Presiden 2019.

Memang, kata Yeni, ia sudah didekati tim dari calon Presiden Joko Widodo-KH Ma'ruf maupun tim calon Presiden Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno.

"Tapi, saya masih menimbang-nimbang dan belum menjatuhkan paslon mana yang akan dipilih. Karena, belum tahu visi misi mereka," katanya saat ditemui  Media Indonesia di sela acara lebaran ikan di Desa Gemblegan, Klaten, Minggu (16/9).

Sebelum menyatakan bergabung dengan salah satu paslon tersebut, Yeni terlebih dahulu akan mencermati visi misi mereka, yang menurut rencana baru akan diumumkan pada 23 September mendatang.

"Ya, saya akan cermati dahulu visi misi paslon Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin maupun visi misi paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Salahudin Uno," tegasnya.

Karena belum tahu visi misi kedua paslon tersebut, Yeni Wahid kembali menyatakan, bahwa sampai sekarang ia belum bisa menentukan pilihan atau dukungan kepada salah satu paslon pada Pilpres 2019.

"Jadi, saya masih menunggu visi misi kedua paslon. Nah, setelah itu diumumkan akan saya telaah untuk bisa menentukan pilihan paslon. Tentu, visi misi paslon yang selaras dengan komitmen kepada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan kebhinekaan yang layak untuk dipilih," jelasnya.

Selain itu, imbuh Yeni, pemimpin yang mengayomi seluruh kebhinekaan dan keberagaman yang ada di masyarakat, suku, agama, dan etnis. Juga, pemimpin yang mempunyai kepedulian sosial terhadap kondisi warga.

Menyoal usulan debat kandidat dengan menggunaakan bahasa Inggris, menurut Yeni, hal itu tidak perlu karena acara debat itu sebagai sarana bagi masyarakat untuk mengetahui visi misi dan karakter langsung dari para calon pemimpin tersebut.

Melalui debat kandidat, warga masyarakat bisa menentukan calon pemimpin yang akan dipilih. Untuk itu, tentunya bahasa yang tepat digunakan, adalah bahasa Indonesia agar dipahami masyarakat dan bukan bahasa Inggris. Karena, hanya sebagian kecil masyarakat yang bisa mengerti bahasa Inggris, termasuk bahasa Arab.

"Jadi, untuk debat lebih baik menggunakan bahasa Indonesia. Kalau perlu, ya bahasa daerah dan itu lebih bagus," ulasnya. 

Yeni menambahkan, kalau mengaji atau agama itu urusan pribadi sifatnya. Maka, agama tidak untuk dipertontonkan dan dipamerkan. 

"Tapi, agama untuk diamalkan. Itu yang paling penting bagi saya," ucap Yeni Wahid. (OL-3)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More