Energi Sunaryo di Tangan 20 Perupa Bandung

Penulis: Zubaedah Hanum Pada: Minggu, 16 Sep 2018, 16:45 WIB Weekend
Energi Sunaryo di Tangan 20 Perupa Bandung

MI/Hanum
Karya Joko Avianto

JALINAN bambu raksasa bertumpu pada sebuah pohon besar di atap ruang pamer Bale Tonggoh di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung, Jawa Barat, itu menyambut langkah kami, Minggu (16/9). Tertegun saya dibuatnya.

Mata ini pun terus mendongak ke atas memandangi karya Joko Avianto berjudul Poem of Epiphyte itu, yang dirilisnya dalam pameran berjudul SSAS/AS/IDEAS.

Selain Joko Avianto, SSAS/AS/IDEAS : Bale Project juga menghadirkan karya-karya dari 19 perupa kontemporer dari Bandung dan sekitarnya. Mereka terdiri dari Abdi Karya, Agus Suwage, Arin Dwihartanto Sunaryo, Bandu Darmawan, Cecep M Taufik, Chusin Setiadikara, Hedi Soetardja, I Made Wiguna Valasara, Irfan Hendrian, Iwan Yusuf, M Reggie Aquara, Maharani Mancanagara, Mella Jaarsma, Nurdian Ichsan, Nurrachmat Widyasena, Patriot Mukmin, Windi Apriani, dan Yuli Prayitno.

Jalinan bilah-bilah bambu berukuran besar karya Joko Avianto serupa kepangan rambut. Beberapa bagiannya diremukkan agar bisa menyatu dengan bilah-bilah bambu lain. Perupa kelahiran Bandung itu merespons benalu yang hidup harmonis dengan pohon yang ditumpanginya.

Instalasi seni dari bambu yang dibuat perupa muda lulusan postgraduate program Seni Rupa ITB itu memiliki benang merah yang sama dengan karya Sunaryo, maestro seni rupa Indonesia yang juga pendiri Selasar Sunaryo.

Sunaryo dikenal lewat karya Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monpera) dan patung Jenderal Sudirman di Jakarta. Sejak awal 1990-an, Sunaryo mulai banyak menggunakan material alami seperti rotan, bambu, kayu, padi, batu, hingga air dan api. "Bukan dari sisi karakter visual atau bentuk semata, melainkan pada asosiasi simboliknya," kata kurator pameran Hendro Wiyanto.

Karya-karya Sunaryo menonjolkan kecakapan tangan. Bagian-bagian rinci karyanya kerap menonjolkan teknik menganyam, menjahit, menempel atau mengikat.

Jika Joko Avianto memiliki benang merah yang sama dengan Sunaryo lewat bambu sebagai material alamnya, Patriot Mukmin memiliki karakter serupa lewat teknik anyaman dan sayatan. Lukisan berjudul Al Fatihah #2 yang dibuatnya menghadirkan potret diri seorang tokoh di masa lalu, yakni Kartosuwiryo (1905-1962).

Wajah pemimpin DI/TII itu divisualkan perupa kelahiran Tangerang, 1987 tahun lalu, lewat anyaman kain kanvas dan kain motif loreng khas TNI-AD. Patriot coba menciptakan ilusi optik di atas lukisannya. "Patriot menyebutnya lukisan bidang datar berlapis," ucap sang kurator.

Patriot mengaku dirinya terinspirasi dari ironi kisah Kartosuwiryo yang memiliki korelasi dengan situasi saat ini, saat harmonisasi antara islam dan nasionalisme kembali diperdebatkan.

"Belakangan ini ada kesan, islam taat dan nasionalisme tidak bisa menyatu. Padahal bisa," beber alumnus Seni Rupa ITB yang juga pernah beresidensi di Korea Selatan pada 2016 itu.

Pameran yang berlangsung sampai 4 November 2018 di Bale Project itu dibuka bersamaan dengan pameran tunggal Sunaryo, untuk memperingati 20 tahun eksistensi SSAS. (M-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More