Prevalensi Stunting di Jakarta Masih Cukup Tinggi

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Minggu, 16 Sep 2018, 14:50 WIB Megapolitan
Prevalensi Stunting di Jakarta Masih Cukup Tinggi

ANTARA/Wahyu Putro A

GUBERNUR DKI Jakarta Anies Baswedan menuturkan angka prevalensi stunting di provinsi DKI Jakarta masih sekitar 27%. Angka tersebut dianggap cukup tinggi meski masih di bawah angka prevalensi nasional.

Stunting, imbuhnya, merupakan permasalahan yang mendasar yang harus segera diselesaikan.Pasalnya, stunting bukan hanya terjadi di pedesaan, melainkan di perkotaan, bahkan di Jakarta sebagai ibu kota Indonesia.

“Kita harus lebih serius memperhatikan makanan yang kita berikan kepada anak-anak untuk pertumbuhan mereka,” ucap Anies dalam acara Kampanye Nasional Pencegahan Stunting secara nasional di kawasan Hari Bebas Kendaraan (Car Free Day), Jakarta, Minggu (16/9).

Hadir dalam acara itu, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko; Menteri Kesehatan Nila Farid Moeloek, Gubernur Banten Wahidin Halim, Wakil Gubernur DI Yogyakarta Sri Paduka Paku Alam X, dan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Sigit Priohutomo, dan Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes  Kirana Pritasari.

Anies menuturkan pentingnya penyadaran masyarakat mengenai bahaya stunting dan upaya pencegahannya. Melalui sosialisasi, diharapkan prevalensi stunting secara nasional bisa diturunkan dari 37,2% (Riset Kesehatan Dasar 2013) menjadi 28% pada 2019.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menambahkan kemajuan bangsa ditentukan kualitas sumber daya manusianya.

Stunting, imbuh dia, berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi negara. Anak-anak yang mengalami stunting, sulit untuk menjadi manusia produktif pada masa mendatang. Oleh karena itu, Moeldoko mengimbau agar kesadaran pencegahan stunting dimulai dari keluarga.

“Kalau sumber daya manusianya juga generasinya lemah, bangsa itu akan lemah. Kita perlu menyadari bahwa ketahanan nasional dimulai dari ketahanan keluarga," tuturnya.

Menteri Kesehatan menjelaskan stunting ialah gangguan pertumbuhan pada balita karena kekurangan asupan gizi dalam waktu yang lama (kronis). Stunting tidak hanya berdampak pada terhambatnya pertumbuhan anak tetapi juga fungsi kecerdasan atau kognitifnya.

“Stunting itu kerdil, karena kekurangan gizi kronis dan otaknya ikut kerdil, ini yang saya fokus, jadi artinya anak-anak itu tidak pandai jadinya, nanti menjadi beban bangsa," kata Menkes

Pencegahan stunting, imbuh Menkes, dapat dilakukan melalui pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif pada bayi sampai usia enam bulan, kemudian diteruskan hingga usia dua tahun.

Selain itu, penting bagi para orang tua memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat ketika bayi sudah berusia enam bulan sebab ASI sudah tidak mencukupi lagi kebutuhan gizinya.

Pencegahan stunting sebaiknya dilakukan sejak masa kehamilan. Para ibu hamil, harus mencukupi kebutuhan gizi anak sejak 1000 hari pertama kehidupan. Seribu hari kehidupan yakni pada masa janin tumbuh dalam kandungan (270 hari)  hingga usia 2 tahun kehidupan (730 hari). (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More