Pencegahan Stunting tidak Bisa Hanya dari Sektor Kesehatan

Penulis: Indriyani Astuti Pada: Minggu, 16 Sep 2018, 14:20 WIB Humaniora
Pencegahan Stunting tidak Bisa Hanya dari Sektor Kesehatan

ANTARA/Aprillio Akbar

MENURUNKAN prevalensi stunting di Indonesia tidak bisa dilakukan Kementerian Kesehatan sendiri. Menteri Kesehan Nila F Moelek menjelaskan pencegahan stunting dilakukan utamanya melalui perbaikan pola makan, pola pengasuhan, juga kebersihan lingkungan. Karena itu perlu dilakukan secara bersama-sama.

Menkes menyampaikan penyebab stunting tidak hanya faktor gizi. Faktor lingkungan dan kebiasaan, tutur Menkes, juga menentukan pencegahan stunting. Lingkungan yang sehat dapat mencegah timbulnya penyakit.

"Stunting sekarang tidak hanya tanggung jawab Kemenkes, kami melakukan intervensi terbukti tidak berhasil. Ada kementrian lain, kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan tetap bersih penting. Pentingnya sanitasi misalnya jangan sampai anak cacingan yang membuat tenganggunya penyerapan gizi," ujar Menkes dalam acara Jalan sehat cegah stunting di kawasan Hari Bebas Kendaraan (Car Free Day), Jakarta, Minggu (16/9).

Hadir dalam acara itu, Kepala Staf Presiden Jend TNI (Purn) Moeldoko dan Deputi Bidang Kordinasi Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Sigit Priohutomo.

Ia menjelaskan stunting ialah gangguan pertumbuhan pada balita karena kekurangan asupan gizi dalam waktu yang lama (kronis). Stunting tidak hanya berdampak pada terhambatnya pertumbuhan anak tetapi juga fungsi kecerdasan atau kognitifnya.

“Stunting itu kerdil, karena kekurangan gizi kronis dan otaknya ikut kerdil, ini yang saya fokus, jadi artinya anak-anak itu tidak pandai sehingga nanti menjadi beban bangsa," kata Menkes

Pencegahan stunting, imbuh Menkes, dapat dilakukan melalui pemberian air susu ibu (ASI) secara ekslusif pada bayi sampai usia enam bulan, kemudian diteruskan hingga usia dua tahun.

Selain itu, penting bagi para orang tua memberikan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat ketika bayi sudah berusia enam bulan sebab ASI sudah tidak mencukupi lagi kebutuhan gizinya.

"Indonesia subur, semua ada, mulai dari sayur mayur hingga ikan yang mengandung protein dan asupan gizinya lengkap,” jelasnya.

Pencegahan stunting sebaiknya dilakukan sejak masa kehamilan. Para ibu hamil, harus mencukupi kebutuhan gizi anak sejak 1000 hari pertama kehidupan. Seribu hari kehidupan yakni pada masa janin tumbuh dalam kandungan (270 hari)  hingga usia 2 tahun kehidupan (730 hari).

Angka stunting di Indonesia hingga saat ini masih cukup tinggi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2013) menunjukan bahwa 4 dari 10 anak di bawah usia lima tahun atau 37,2% mengalami stunting. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More