Kaca untuk Jakarta

Penulis: Hariyanto Pada: Selasa, 30 Jun 2015, 00:00 WIB Spektrum
no-image.jpg

TAK pernah habis kata untuk bicara tentang Jakarta. Inilah kota tempat kenikmatan dan kesengsaraan bersabung tanpa henti. Batas di antara keduanya pun setipis kulit bawang. Ruang dan waktu seolah membeku.

Seperti di sore itu, kala panas masih menyengat. Lalu lalang kendaraan melaju kencang. Di pinggir trotoar, dua manusia dewasa, laki-laki dan perempuan, duduk termangu berpangku tangan. Bersama mereka seorang balita berdiri di dalam gerobak. Masing-masing asyik sendiri. Orang-orang yang melintas tidak ada yang peduli. Setelah hampir 2 jam berdiam, mereka pun akhirnya pergi.

Elegi itu tercuplik dalam jarak beberapa langkah dari Bundaran HI, Jakarta. Kota yang 22 Juni lalu telah berusia 488 tahun. Kota yang menjadi episentrum bagi berjuta penghuni Nusantara dalam mengejar mimpi mereka. Inilah kota yang menawarkan beragam rasa.

Bagi naluri visual saya, Jakarta bak seorang perempuan yang memiliki daya pikat luar biasa. Dengan segala kemajemukan dan kompleksitasnya ia menawarkan beragam pesona di depan mata. Berjalannya waktu membuat Jakarta kian modis dengan segala macam aksesori yang menempel di sekujur tubuhnya.

Itulah yang menggerakkan saya. Pertengahan 1991 silam ialah kali pertama saya memegang kamera. Itu pun bukan kamera pribadi, melainkan pinjaman dari seorang kawan. Dengan berbekal kamera Konica pinjaman, saya mulai menyusuri sudut-sudut Jakarta. Dari imaji-imaji tentang Jakarta, berbagai juara kontes fotografi pernah saya raih. Salah satunya membawa saya dan Andi Lubis (fotografer harian Analisa saat itu) hunting keliling kota-kota di Inggris Raya.

Sebagai kota megapolitan, Jakarta bisa jadi ialah kota yang paling banyak dipotret di Indonesia. Ibu Kota tak pernah terlelap. Kehidupan berjalan tanpa jeda. Pun begitu dengan manusia-manusia di dalamnya. Perubahan demi perubahan terasa begitu cepat. Singkat kata, sejuta fakta ada di Jakarta.

Jakarta juga masih lekat dengan problematik. Kota ini, selain juara dunia kemacetan, selokannya juga banyak yang mampet. Tiap musim hujan datang, banjir pun terus berulang. Ihwal kesenjangan sosial dan perilaku tidak disiplin sebagian warganya ialah potret sehari-hari hingga kini. Lebih dari sejuta orang Jakarta masih hidup dalam belenggu kemiskinan. Gedung-gedung pencakar langit terus tumbuh tak jauh dari rumah-rumah kumuh.

Fakta-fakta buram itulah yang menorehkan luka di sekujur tubuh Jakarta. Namun, luka itu sejatinya realitas 'istimewa' bagi kita, para pekerja media. Hal serupa ketika kita melihat Ibu Kota yang asyik berdandan, memoles bedak di wajah bopengnya. Kenyataan yang selazimnya milik kita. Kenyataan yang menjadi sebuah keniscayaan untuk kita sampaikan kepada khalayak, utamanya kaum urban.

Kini, hampir semua media arus utama memberi porsi khusus untuk seluk-beluk Jakarta. Sebuah peluang yang tentu tidak boleh kita sia-siakan. Mari memainkan peran, berkarya demi kehidupan Jakarta yang lebih nyaman. Melalui foto jurnalistik, kita berikan cermin yang jernih agar Ibu Kota menyadari kekurangannya. Seperti dalam penggalan bait lirik lagu Iwan Fals 'Jangan kau paksakan untuk berlari. Angkuhmu tak peduli luka di kaki. Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari, bila luka di kaki belum terobati. Berkacalah Jakarta...'.
 

Berita Terkini

Read More

Kolom Pakar

Read More

Poling

Setujukah Anda aparat keamanan untuk mengusut tuntas dan menindak tegas terorisme di Indonesia?





Berita Populer

Read More