Perempuan Jangan Jadi Emak-Emak

Penulis: Agus Utantoro Pada: Sabtu, 15 Sep 2018, 08:20 WIB Nusantara
Perempuan Jangan Jadi Emak-Emak

ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

PRESIDEN Joko Widodo mengajak perempuan Indonesia menjadi Ibu Bangsa, yakni perempuan yang kuat, tegar, dan ulet karena masa depan bangsa ada di pundak Ibu Bangsa.

"Sekali lagi saya sampaikan jadilah Ibu Bangsa karena bangsa yang kuat dan besar ada di tangan Ibu Bangsa," kata Presiden Jokowi pada pembukaan Sidang Umum Ke-35 International Council of Women dan Temu Nasional Seribu Organisasi Indonesia di Yogyakarta, Jumat (14/9). Sidang Umum Ke-35 International Council of Women (ICW) dan Temu Nasional Seribu Organisasi Indonesia itu, dihadiri 150 orang delegasi dari 18 negara anggota International Council of Women (ICW) yang merupakan organisasi perempuan di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Ibu Banga itu, lanjut Presiden, memiliki tanggung jawab yang besar. Masa depan bangsa ini, ulang Presiden, terletak pada Ibu Bangsa, untuk itu jangan jadi emak-emak. "Kaum perempuan harus bangkit menjadi Ibu Bangsa agar bangsa ini ke depan bisa lebih baik dan lebih maju lagi," kata Presiden yang langsung disambut dengan tepuk tangan.

Menurut Presiden, tugas Ibu Bangsa itu tidak gampang karena harus bisa menjadikan anak-anak dan putra-putrinya menjadi generasi yang tangguh demi kelangsungan dan kemajuan bangsa. Untuk itu, Presiden mengaku kurang srek kalau dibilang kaum emek-emak.

"Jadi, kaum emak-emak, tapi jadilah Ibu Bangsa," pinta Jokowi yang kembali disambut dengan tepuk tangan tamu undangan. Kebesaran kaum perempuan Indonesia sudah dibuktikan melalui berbagai prestasi, misalnya dari 31 medali emas yang diperoleh dalam Asian Games, belum lama ini, 12 di antaranya diraih oleh atlet perempuan.

Sebelumnya Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo dalam sambutannya di hadapan Presiden Joko Widodo, menuturkan pihaknya tidak setuju jika kaum perempuan Indonesia disebut dengan panggilan emak-emak. Sebab, menurut dia, perempuan Indonesia sudah memiliki konsep tentang Ibu Bangsa sejak 1953. Giwo menuturkan bahwa konsep tentang perempuan Indonesia sehingga lahir terminologi Ibu Bangsa yang dirumuskan sejak Indonesia belum merdeka itu bukan tanpa tujuan ketika dibuat. Namun, melalui renungan dan perjuangan panjang, jadi kembali lagi pihaknya tidak setuju dengan istilah emak-emak.

Gaji timpang
Pada momentum yang sama Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, putri kedua Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa Yenni Wahid, menyebut masih banyak peroalan perempuan yang belum selesai, di antaranya soal ketimpangan.

Menurutnya, ketimpangan itu antara lain dalam persoalan gaji perempuan yang lebih sedikit jika dibanding laki-laki meskipun pekerjaan yang dilakukan sama. Sebaliknya, imbuh Direktur Wahid Institute itu, jumlah perempuan yang dilibatkan dalam proses pengembilan kebijakan politik masih sangat sedikit. Padahal, kebijakan itu berkaiatan erat dengan perempuan.

Perempuan, ucap Yenni, sebetulnya memiliki potensi mengatasi berbagai macam persoalan atau persoalan yang saat ini tengah mengemuka, seperti ketidaksetaraan gender yang berimbas pada kesejaheteraan masyarakat secara umum, atau radikalisme, dan perdangagan manusia. "Perempuan harus melihat dalam dirinya sebagai solusi bagi persoalan itu, dia harus aktif mendidik yang lainnya untuk mau mencoba bersama-sama mengatasi persoalan itu," pungkasnya. (FU/N-1).

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More