Perenungan Besar Era Manusia Data

Penulis: Bintang Krisanti Pada: Sabtu, 15 Sep 2018, 03:40 WIB Weekend
Perenungan Besar Era Manusia Data

Dok MI

DI depan perangkat komunikasi digital, kita tidak ubahnya penduduk asli di abad ke-15 yang baru kedatangan imperialisme Eropa. Manik-manik berwarna yang mereka bawa membuat kita terpukau dan rela menukarnya dengan hasil alam berharga, bahkan berikut pulaunya.

Di era sekarang, sumber daya berharga itu ialah data-data pribadi kita. Sementara itu, manik-maniknya berupa layanan surat elektronik (surel), akun pertemanan, atau sekadar video kucing lucu.

Data menjadi sangat berharga karena ambisi-ambisi besar manusia itu sendiri. Setelah di abad ke-20, dapat mengatasi musuh-musuhnya, yakni kelaparan, wabah penyakit dan perang, manusia pun mencari sukses yang lain.

Sasaran baru itu ialah imortalitas, kebahagiaan, dan keilahian. Dari manusia bijak (Homo sapiens), manusia ingin beranjak ke super/manusia dewa (Homo deus). Manusia mencapai itu dengan sains modern yang punya dua dogma utama, yakni organisme ialah algoritma dan kehidupan hanyalah pemrosesan data.

Sebab itu, pemanenan data besar-besaran menjadi penting. Dengan data, mesin-mesin kecerdasan artifisial dapat mengenali orang dengan mendalam.

Contohnya sudah dilakukan jejaring sosial Facebook. Dalam sebuah studinya, Facebook bisa memprediksi jawaban tes kepribadian yang dilakukan terhadap lebih dari 80 ribu orang pemilik akunnya.

Facebook memanen data dari pemantauan aktivitas like responden itu pada laman, gambar, ataupun klip. Hanya butuh pemantauan terhadap 300 like hingga Facebook bisa memprediksi jawaban tes kepribadian dengan lebih baik dari yang dilakukan pasangan para responden.

Algoritma Facebook hanya satu contoh dari kecerdasan buatan yang kini berlomba-lomba diciptakan orang dan korporasi berduit. Ranah mereka sudah sangat beragam, mulai layanan pelanggan, sopir otonom, apoteker, sampai kemampuan komposer musik sekaliber Bach yang dilengkapi kemampuan pembelajaran mesin. Dengan itu, komposisi musik yang dibuatnya bahkan tidak bisa diprediksi sang profesor pencipta mesin itu sendiri.

Asisten serbapintar seperti Cortana dari Microsoft dan Siri dari Apple juga terus dikembangkan. Di masa depan, bisa saja yang saling berhubungan bukan orang ke orang, melainkan Cortana orang A ke Cortana orang B.

Mesin itu juga bukan lagi penasihat, melainkan juga bisa mengambil keputusan. Dengan kapasitas otak yang begitu besar, mereka akan bisa mengingat setiap aktivitas dan data kita, termasuk data biokimiawi otak yang membuat setiap niat kita bisa diprediksikan.

Itulah cuplikan kehidupan manusia dewa yang ada di buku Homo Deus karya Yuval Noah Harari. Buku yang telah jadi bestseller dunia itu hadir dalam terjemahan bahasa Indonesia pada Mei 2018, sedangkan terbitan aslinya ialah 2015.

Buku ini juga kelanjutan dari Sapiens yang terbit dalam bahasa Israel pada 2011, kemudian bahasa Inggris pada 2014, dan bahasa Indonesia pada 2017. Kuatnya buku-buku itu bukan saja bisa diliat dari penjualan jutaan kopi, melainkan juga nama-nama pemberi kata rekomendasi, di antaranya Barack Obama, Bill Gates, Mark Zuckerberg, serta para peraih Nobel dan Pulitzer.

Evolusi ideologi
Buat pembaca buku Sapiens pasti sudah mahfum jika buku-buku Harari telah menjadi sebuah bacaan yang asik layaknya dongeng, tetapi juga bisa menantang daya pikir dan keyakinan, hingga butuh konsentrasi tinggi untuk mencernanya. Tidak jarang juga Anda perlu meletakkannya sesaat dan merenung karena ide-ide yang out of the box di hampir ada tiap paragrafnya.

Ini terjadi bukan saja karena rujukan dan informasi yang begitu kaya, melainkan juga karena benang merah yang ia jalin di antara berbagai bidang, baik kedokteran, biologi, ekonomi, politik, seni (termasuk berbagai cabangnya), filsafat, maupun agama. Rentang kajiannya juga sangat luas dari era pemburu-pengumpul (awal Homo sapiens) sampai riset terkini Google.

Tidak berhenti di situ, pria kelahiran 1976 yang mendapat gelar PhD dari Oxford University ini membuat peramalan akan evolusi maupun degradasi yang terjadi pada ideologi dan kehidupan masa kini sebagai akibat mencapai Homo deus tadi.

Salah satu benang merah besar ialah peran agama dan ideologi humanisme pada ambisi Homo deus itu. Sains membutuhkan agama untuk justifikasi etis riset. Sebagai imbalannya, agama bisa memengaruhi agenda saintifik dan menggunakan penemuan sains (halaman 226)

Hal itu bukan berdasarkan kejadian pada satu abad lalu saja, melainkan sudah ada di Eropa modern awal. Di masyarakat yang kala itu sangat religius tapi intoleran, justru menjadi tempat lahirnya pelayaran Columbus dan penemuan Copernicus dan Newton.

Agama pula yang memberi justifikasi perkembangan dunia kedokteran dan biologi atas nama penyembuhan penyakit. Namun, ketika rekayasa biologis dan benda-benda nonorganik semakin melintas batas, ilmuwan tidak lagi memandang agama. Humanisme menjadi argumen mereka.

Etika humanisme menyebutkan, "jika terasa baik, lakukanlah" menjadi pembenar berbagai riset. Maka, dunia pun menyaksikan kehadiran, bukan saja manusia cyborg (pada 2015 jumlahnya setidaknya sudah tujuh orang), tetapi juga manusia yang memiliki tiga orangtua (mitokondria untuk telur sang ibu diambil dari donor). Mantra dunia kedokteran berubah. Dari kedokteran untuk menyembuhkan si sakit (abad ke-20) menjadi untuk memperbarui orang sehat (abad ke-21).

Meski begitu, humanisme dan liberalisme juga mendapat pil pahit. Dari riset robot-rat di New York, kita mendapat gambaran bahwa keinginan atau keputusan bisa dibaca dari peristiwa-peristiwa neuron dalam otak. Dari situ pula, ilmuwan bisa mengendalikan pikiran dengan tombol-tombol. Dengan itu, anggapan adanya kehendak bebas dalam diri pun runtuh.

Dari riset-riset seperti itulah ideologi humanisme terdegradasi dan tergantikan dua agama baru, yakni tekno humanisme yang mendorong manusia mengembangkan teknologi yang bisa mengendalikan kehendak; dan dataisme yang menilai manusia sudah rampung sehingga harus menyerahkan estafet ke entitas yang sama sekali baru.

Membuka diskusi
Meski cukup menakutkan, Harari sesungguhnya bukan menciptakan fobia ataupun mengglorifikasi era data. Di beberapa bagian bukunya dituliskan bahwa prediksinya difokuskan pada apa yang dicoba dicapai manusia di abad ke-21, bukan yang dapat dicapai (halaman 64). Di bagian lain, ia menyatakan bahwa masa depan tidak bisa diprediksi karena teknologi bukan determinisktik (halaman 455).

Jika kita mengingat pemaparannya di Sapiens, pendapatnya tampaknya berangkat dari fakta bahwa sejarah bisa membelok sangat jauh dari prediksi. Kemungkinan-kemungkinan yang sudah diperhitungkan justru tidak terjadi sebab ketika manusia telah tahu prediksi itu mereka memilih hal yang sama sekali berbeda atau malah jadi bisa melihat alternatif lainnya lagi.

Maka, membaca buku Homo deus ini sesungguhnya seperti berdiskusi tentang dilema masa kini dan kemungkinannya di masa depan. Itu ditegaskan sendiri di akhir buku, yakni Harari mengajukan tiga pertanyaan untuk perenungan pembacanya.

Namun, tentu saja untuk bisa berdiskusi dengan baik kita harus membiarkan parasut pikiran berkembang sebesar-besarnya. Jangan sampai parasut itu kembali digulung karena pernyataan-pernyataan Harari yang mungkin melukai keyakinan Anda.

Seperti ketika dosen sejarah Universitas Ibrani Yerusalem ini menyebut agama ialah buatan manusia dan karena itu nilainya bisa usang. Ia juga membedakan antara agama dengan spiritualitas.

Menggunakan pola pemikiran Harari sebenarnya kalangan religius pun tidak perlu tersinggung sebab yang dicederai Harari hanya dalam kacamatanya sendiri. Malah dengan membaca rujukan-rujukan yang begitu kaya dari pria kelahiran Haifa ini, kalangan religius bisa menemukan kebenaran ayat suci ataupun hadis.

Misal, dalam soal penemuan bahwa keputusan seseorang sudah bisa diindikasikan sejak beberapa ratus juta detik hingga beberapa detik sebelum orang itu menyadari pilihannya. Semuanya diketahui dari proses kimiawi otak yang bisa merupakan reaksi deterministik atau karena peristiwa acak dekomposisi gen atau kombinasi keduanya.

Jadi, lautan pilihan langkah yang ada di benak kita lahir dari hal-hal itu. Dari dalam diri (yakni gen) dari reaksi terhadap hal eksternal ataupun kombinasi keduanya. Tidak ada yang benar-benar bebas (tidak ada free will).

Bagi umat muslim, ketiadaan kehendak bebas ini mengingatkan tentang firman bahwa semua yang terjadi telah dituliskan di kitab kejadian (Lauh Mahfudz), bahkan keluarnya Adam dari surga pun telah ada dalam Taurat yang dituliskan 40 tahun sebelum penciptaan Adam.

Di luar itu, buku terjemahan ini juga memiliki kelemahan dalam translasi. Seperti dalam buku bahasa Indonesia tidak ada kata iman sehingga pembaca bisa mengira Harari tidak mengakui keberadaan iman. Nyatanya kata faith, selain juga belief dan religion ada di buku bahasa Inggris. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More