Mengaku Lagi Susah, Novanto Sampai Jual Aset buat Bayar Uang Pengganti

Penulis: M Taufan SP Bustan Pada: Jumat, 14 Sep 2018, 19:40 WIB Politik dan Hukum
Mengaku Lagi Susah, Novanto Sampai Jual Aset buat Bayar Uang Pengganti

MI/Susanto

TERPIDANA korupsi megaproyek pengadaan kartu tanda penduduk elektronik (KTP-E) Setya Novanto menegaskan akan menyelesaikan pembayaran uang pengganti atas korupsi yang dilakukannya ke KPK. Ia menyebut saat ini semua masih berproses.

"Yang pasti saya terus kooperatif untuk bantu (penyidik KPK),” terang Novanto kepada sejumlah jurnalis saat ditemui di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Jumat (14/9).

Novanto mengaku sekarang ini ia sebetulnya sedang dalam kondisi susah. Terlebih, setelah ditetapkan sebagai tersangka semua orang-orang tidak ada lagi yang mau mendekat dengannya.

"Pokoknya sudah susahlah," keluh Novanto.

Bahkan, tambahnya, untuk membayar uang pengganti di KPK ia pun merasa kesulitan, sampai-sampai harus menjual sejumlah aset milik pribadinya.

"Semua uang yang ditagih juga sudah susah. Makanya saya jual aset. Pokoknya rumah yang saya jual. (Tetapi) saya akan terus kooperatif untuk bantu KPK,” tandas Novanto.

Sebelumnya, KPK sudah mengeksekusi rekening Novanto untuk membayarkan uang pengganti sebagaimana putusan PN Tipikor Jakarta Pusat.

Melalui rekening Novanto di Bank Mandiri, KPK mengambil uang sekitar Rp1,11 miliar. Uang pengganti itu pun telah dititipkan di rekening KPK.

Uang tersebut merupakan tambahan dari pembayaran yang sudah dilakukan sebelumnya oleh Novanto sebesar US$100.000 dan pada saat persidangan berjalan sebesar Rp5 miliar yang juga telah dititipkan pada rekening KPK.

Pun telah melakukan beberapa kali pembayaran, tetapi Novanto masih belum menyelesaikan semua kewajibannya. Pasalnya, kewajiban yang harus diselesaikan Novanto sebesar US$7,3 juta dolar atau setara Rp65,7 miliar. (X-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More