Demi Stabilitas Rupiah BI Tetap akan Intervensi Pasar

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Jumat, 14 Sep 2018, 23:50 WIB Ekonomi
Demi Stabilitas Rupiah BI Tetap akan Intervensi Pasar

ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

MESKI nilai tukar rupiah terus menguat, Bank Indonesia (BI) terus mewaspadai tekanan ekonomi eksternal dengan melancarkan intervensi ganda dan juga mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga acuan.  

Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo melihat tekanan ekonomi eksternal, terutama perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, masih membayangi pergerakan nilai tukar rupiah.

“Kami masih kombinasi dari situ. Jadi, kalau kami masih intervensi, artinya kami masih lihat dulu rupiah belum stabil,” kata dia,  Jumat (14/9). 

Intervensi ganda BI dilakukan di pasar valuta asing dan di pasar surat berharga negara (SBN), dengan bank sentral membeli SBN yang dilepas investor asing di pasar sekunder.

Pernyataan Dody muncul di tengah tren penguatan rupiah. Namun, dia menyebutkan nilai tukar belum sesuai fundamennya. Pada penutupan perdagangan sore kemarin, rupiah ditutup di level 14.806,5, menguat 33,5 poin (+0,23%) dari penutupan sebelumnya 14.840 per dolar AS.

Penguatan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir, kata dia, banyak disebabkan tekanan ekonomi global yang mereda dan nilai dolar AS yang melemah. Berkurangnya tekanan global itu juga berhasil membawa modal asing kembali ke instrumen keuangan SBN pemerintah. “Walaupun secara nett masih ada dana keluar, beberapa hari ini sudah mulai masuk,” katanya.

Dody tidak memungkiri bahwa Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih dihadapkan pada potensi-potensi gejolak perekonomian global. Sumber gejolak yang paling sulit dikalkulasi ialah perang dagang global antara ‘Negeri Paman Sam’ dan Tiongkok. Selain itu, dampak dari krisis mata uang lira Turki dan Argentina juga masuk radar BI.

Sejauh ini, BI sudah menaikkan suku bunga acuannya lima kali dengan dosis 1,25 % pada tahun ini guna menangkal tekanan terhadap rupiah. Selain itu, cadangan devisa sejak akhir 2017 hingga akhir Agustus 2018 ini telah menurun US$12,3 miliar, yang salah satu penggunaannya untuk keperluan stabilisasi nilai tukar rupiah berdasarkan perhitungan merujuk pada data BI.

Perang dagang mereda
Dody mengatakan bank sentral masih mempertimbangkan opsi kenaikan suku bunga acuan pada September 2018 dengan menyesuaikan pada perkembangan data ekonomi terbaru. Kebijakan itu mungkin akan diputuskan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 26-27 September 2018. “Kami hanya tunggu pengumuman dari The Fed (bank sentral AS). Harapannya RDG kami taruh pada pekan keempat September, kami sudah tahu posisi suku bunga Federal Reserve,” ujar Dody.

Dalam perdagangan kemarin, sejumlah mata uang juga menguat tak hanya rupiah. Hal itu lantaran kabar terkini bahwa AS mengajukan negosiasi dagang baru dengan Tiongkok.  Research Analyst FXTM Lukman Otunuga mengatakan yuan Tiongkok menguat karena berita bahwa ­Washington berkomunikasi dengan Beijing untuk melanjutkan negosiasi dagang, dan berbagai mata uang pasar berkembang Asia juga menguat karena peningkatan selera risiko.

“Investor sepertinya ingin tetap optimistis bahwa kesepakatan mengenai masalah yang telah berlarut-larut ini dapat segera tercapai,” ujarnya,  Jumat (14/9). (E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More