Stok Beras Aman Karena Impor

Penulis: Andhika Prasetyo Pada: Jumat, 14 Sep 2018, 17:03 WIB Ekonomi
Stok Beras Aman Karena Impor

MI/Pius Erlangga

PEMERINTAH, melalui Perum Bulog, saat ini, memiliki persediaan beras yang aman, yakni mencapai 2,32 juta ton. Namun, jika ditilik lebih lanjut, angka aman itu dapat dicapai karena adanya kebijakan impor.

Berdasarkan data Bulog, per 10 September, stok beras sebesar 2,32 juta ton itu sebagian besar berasal dari impor yang mencapai 1,34 juta ton. Sementara, pengadaan dari dalam negeri hanya 968 ribu ton.

Jika hanya mengandalkan serapan lokal, jelas stok yang ada tidak akan aman dalam rangka memenuhi kebutuhan. Pengamat pertanian Khudori memproyeksikan kebutuhan beras hingga akhir tahun sebesar 3,3 juta ton.

Jumlah itu berasal dari kebutuhan untuk cadangan pemerintah 2 juta ton, bantuan sosial Beras Sejahtera sebanyak 1 juta ton serta untuk public service obligation (PSO) yang berkisar 300 ribu ton.

"Peluang satu-satunya untuk memperbesar stok ketika cadangan kecil ya memang dari impor," ujar Khudori kepada Media Indonesia, Jumat (14/9).

Capaian pengadaan beras dalam negeri Bulog sejauh ini tidak bisa memenuhi ekspektasi pemerintah. Sejak awal tahun, perseroan diembani target kepada untuk dapat menyerap 2,2 juta ton beras hingga akhir semester pertama.

Kecilnya serapan, menurut Khudori, karena memang fungsi awal Bulog adalah bukan untuk menyerap beras sebanyak-banyaknya.

Inpres 5/2015 yang mengatur tentang harga pembelian gabah atau beras oleh pemerintah melalui Bulog pun bukan untuk memuluskan tugas itu, melainkan untuk menyelamatkan petani, dengan menyerap seluruh hasil panen mereka, ketika harga sedang jatuh.

"Inpres itu kan ditujukan untuk menyerap beras ketika harga turun, tujuannya untuk menyelamatkan petani. Sekarang kondisinya beda. Bulog diminta menyerap sebanyak banyaknya dengan berbekal inpres itu. Di tengah kondisi harga gabah sedang tinggi, jelas Bulog kalah bersaing," jelasnya.

Jika Bulog memaksa untuk terus menyerap, lanjut Khudori, akan tercipta perebutan stok di lapangan yang pada akhirnya akan membuat harga semakin menanjak.

Ia pun menyebutkan, dari berbagai penelitian yang ada, stok beras memang tidak sebesar apa yang diklaim Kementerian Pertanian.

"Ada banyak penelitian yang saya baca, lima atau enam, semua kesimpulannya sama. Produksi itu dilaporkan lebih tinggi dari kenyataan sebenarnya. Yang membedakan hanya angkanya saja. Ada yang lebih 13%, 17%, 33%," terangnya. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More