Stok Beras di PIBC Masih Berasal dari Petani Lokal

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Jumat, 14 Sep 2018, 14:45 WIB Ekonomi
Stok Beras di PIBC Masih Berasal dari Petani Lokal

ANTARA/Regina Safri

DIREKTUR Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) Arief Prasetyo Adi menyampaikan sampai hari ini pasokan beras relatif stabil. Belum ada beras impor masuk ke Pasar Cipinang, kiriman masih berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

"Jadi tadi pagi sampai pukul 07.00 WIB stok masih 3.000 ton.  Artinya kalau 3.000 itu masih di atas batas aman. Kemudian stok yang ada di seluruh PIBC di atas 40 ribu ton. Jadi sangat stabil, di atas batas aman 25-30 ribu ton. Saat ini masih pakai beras lokal semua," ujar Arief, di Jakarta, Jumat (14/9).

Direktur Pengadaan Bulog, Bachtiar, mengatakan sampai saat ini 1,5 juta ton beras telah digunakan untuk bantuan beras sejahtera (rastra), bencana alam, maupun operasi pasar.

Cadangan beras yang tidak bergerak di gudang Bulog sebesar 2,4 juta ton. Di dalamnya terdapat 1,4 juta ton beras impor, dan sisanya serapan lokal. Serapan tersebut masih terbilang rendah belum mencapai 1 juta ton per 10 September lalu. Padahal target serapan lokal semester 1 sebesar 2,2 juta ton.

Secara real, gudang Bulog mampu menampung 2,2 juta ton beras. Sehingga, sekitar 500 ribu ton harus disimpan di luar gudang. Salah satunya dengan menyewa tempat, biayanya Rp90 ribu per ton per hari per meter. Jadi total biaya sewa bisa mencapai lebih dari Rp45 miliar untuk periode enam bulan sampai akhir tahun ini. Gudang yang disewa tersebut digunakan untuk beras lokal dan impor.

"Berikutnya tahun 2016 kita impor itu harganya US$398(per ton). Sekarang tahun 2018 beli (impor beras) US$ 457,36. Jadi selisihnya itu sekitar Rp7500 dengan dulu Rp6018 per kilogram. Jadi selisihnya hampir Rp1.400 apabila dibandingkan tahun 2016 dengan 2018. Iya harga impornya naik," ujar Bachtiar.

Namun melihat melihat stok beras terkini yaitu 2,4 juta ton, Bulog yakin mereka belum butuh melakukan impor.

"Selisih beras impor dan lokal itu Rp1.400 per kilogram. Dengan selisih harga tersebut maka jatuhnya operasi pasar jadi mahal kalau gunakan beras impor tadi. Makanya dampak ke harga beras karena impornya sudah mahal. Ditambah kalau kurs dolar meningkat. Maka tidak efisien kalau kita impor terus. Kalau ada perintah impor lalu saya harus lakukan berarti bebannya tambah lagi. Harga menjadi tambah naik karena dolar," tutur Kepala Bulog Budi Waseso.(OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More