Dari Jakfariyah ke Dawdiyah, “Lemparan” Real Terakhir

Penulis: Ade Alawi dari Arab Saudi Pada: Jumat, 14 Sep 2018, 08:46 WIB Humaniora
Dari Jakfariyah ke Dawdiyah, “Lemparan” Real Terakhir

MI/Ade Alawi

MENJELANG berakhirnya musim haji 2018. Jemaah dan Petugas Haji sepertinya berlomba “melempar” real alias berbelanja oleh-oleh dari Tanah Suci.

Di Pasar Jakfariyah, kawasan Sulaimaniyah, sekitar satu kilometer dari Masjidil Haram, Mekkah Al Mukarramah, Arab Saudi, siang malam jemaah haji dan petugas haji Indonesia tak ada habisnya berbelanja meski kondisinya tidak seramai satu atau dua minggu sebelumnya.

Bahkan, sebelum puncak haji di Arafah pada 9 Dzulhijjah, jemaah haji Indonesia sudah meluapkan dahaga belanja di pasar yang dikenal sebagai Tanah Abang-nya Mekkah tersebut.

Kini, seiring akan selesai masa tinggal haji di Mekkah pada Minggu (16/9), sebagian besar jemaah sudah bergeser dari Mekkah ke Madinah Al Munawwarah. Bahkan, sebagian besar jemaah sudah pulang ke Tanah Air.
Yang banyak terlihat berbelanja dalam dua hari belakangan ini di Pasar Jakfariyah adalah petugas haji.

“Kami baru sempat ke sini (Jakfariyah) karena kemarin-kemarin kan sibuk melayani jemaah,” ujar seorang petugas perempuan dari Sektor 7 yang menggunakan cadar di Pasar Jakfariyah, Kamis (13/9).

Di Pasar Jakfariyah, petugas ini membeli sajadah dan karpet.

“Harganya murah bila dibandingkan dengan di Tanah Air. Kualitasnya bagus (Jakfariyah) dan murah mungkin karena mau berakhir musim haji di Mekkah ya. Saya mau paketkan semua oleh-oleh ini,” ujarnya.

Seorang petugas Haji, Fikri Nugraha Ramadhani, mengaku baru sempat berbelanja menjelang akhir musim haji, karena sibuk bekerja di Media Center Haji membuat liputan haji. Dia tak hanya memborong oleh-oleh di Pasar Jakfariyah, tapi juga membeli oleh-oleh di Pasar Dawdiyah, Madinah.

“Pilihan lebih banyak di Pasar Jakfariyah ketimbang di Pasar Dawdiyah Madinah. Apalagi kemarin (Rabu, 12/9). Pedagang banyak yang banting harga karena mau bubaran haji,” katanya.

Fikri menunjukkan gelang kokka yang dibelinya satu lusin 20 SR (Rp80 ribu). Semula gelang ini harganya 35 SR untuk satu lusin.  Ada pula kopiah haji buatan Bangladesh yang semula harganya untuk dua buah 15 SR (Rp60 ribu). Semula harganya kopiah satu buah 15 SR.

Barang yang paling banyak diburu jemaah di Madinah adalah sajadah Raudhah. Sajadah yang bercorak tempat mustajab berdoa di Masjid Nabawi ini di Pasar Dawdiyah harganya cukup miring.

“Semula harga satu buah 70 SR (Rp280 ribu), sekarang harganya 50 SR (Rp200 ribu). Saya beli satu,” ujarnya.

Menariknya, di Madinah, lokasi belanja banyak yang hanya sepelemparan batu dari Masjid Nabawi. Harganya juga tidak terlalu mahal. Kurma Ajwa saja per kilogram 25 SR (Rp100 ribu).

“Saya beli kurma Ajwa dua kilogram (50 SR),” kata petugas haji yang juga seorang Youtuber, Dodi.

Dibalik perburuan oleh-oleh haji, ada juga jemaah dan petugas haji membeli obat kuat bernama Hajar Jahannam. Modelnya ada yang dioles, ada juga yang disemprot di alat vital.

“Ini titipan kawan di Jakarta. Katanya bagus buat nganu
,” ujar seorang petugas haji.

Dia membeli yang dioles dengan harga 60 SR (Rp240 ribu) di Pasar Dawdiyah, Madinah. Sementara obat kuat dengan merek yang sama dengan metode semprot dan bentuknya kecil, harganya 20 SR.

“Iya, laris HJ (Hajar Jahannam). Banyak yang beli,” kata seorang pembeli sembari tersenyum.

Apa arti senyuman Tukang Obat Kuat itu?(OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More