Dari Sirnas Menuju Pentas Dunia

Penulis: Nurul Fadillah Pada: Jumat, 14 Sep 2018, 07:00 WIB Olahraga
Dari Sirnas Menuju Pentas Dunia

ANTARA FOTO/Wahyu Putro A

DJARUM Sirkuit Nasional (Sirnas) tidak hanya menjadi ajang perburuan poin bagi atlet-atlet klub bulu tangkis di Indonesia. Bagi klub PB Djarum, ajang itu juga menjadi jalan bagi para atlet menuju level dunia.

Pelatih tunggal taruna dan dewasa putra PB Djarum, Imam Tohari, mengatakan di setiap musim sirnas, atletnya ditekankan menatap target lebih tinggi daripada sekadar menjadi juara di Sirnas.

“Jadi, istilahnya Sirnas itu merupakan kejuaraan lokal yang menjadi jalan menuju pentas dunia. Dari sinilah perjalanan atlet-atlet sekaliber Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Jonatan Christie dimulai sebelum mereka bersaing di level internasional. Jadi, Sirnas tentu bukan menjadi tujuan utama, melainkan hanya sebagai jalan untuk mendidik pemain dari berbagai sisi, seperti teknik, mental, cara berpikir, dan tujuan utama,” ujar Imam kepada ­Media ­Indonesia di Gelanggang Olahraga Re-maja Tanjung Priok, Jakarta, kemarin.

“Nah itu kita latih di sini karena tujuan dari PB Djarum memang untuk dunia, tetapi jalannya kan dari sini. Yang terbaik dari Indonesia otomatis ke depannya akan bisa mewakili Indonesia,” lanjutnya.

Menilik persaingan di level Sirnas musim ini, Imam mengatakan klub-klub besar masih mendominasi. Selain PB Djarum, terdapat pula PB Exist, Jaya Raya, dan Mutiara Cardinal Bandung yang selalu menjadi pesaing terberat klub asal Kudus itu.

Persaingan pun terasa lebih ketat dengan hadirnya atlet pelapis nasional binaan ­Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) dan pebulu tangkis Jepang. Meski demikian, Imam menanggapi positif persaingan tersebut. Menurutnya, hal itu dapat menaikan level permainan para atlet didikannya.

“Hadirnya atlet pelatnas dan Jepang menjadi motivasi atlet klub. Ini menjadi suatu pemikiran dan motivasi yang bagus. Seharusnya di tingkat dewasa juga harus bersaing dengan pelapis keduanya pelatnas PP PBSI. Mereka harus turun untuk menaikkan standar permainan para atlet di level klub,” tandasnya.

Ditambahkan Imam, dirinya bahkan menurunkan atlet taruna U-17 dan U-19 untuk bermain rangkap di level dewasa. Hal itu dilakukan untuk menambah jam terbang dan pengalaman atlet, serta meningkatkan level permainan mereka.

Beri kejutan
Sementara itu, ganda campuran taruna PB Djarum, M Lucky Andres Apriyanda/Hele-na Ayu Puspitasari tampil mengejutkan di Djarum Sirnas Premier Jakarta Terbuka 2018. Lucky/Helena yang tidak diunggulkan justru mampu tembus semifinal. Di perempat final kemarin, Lucky/Helena mengalahkan pasangan Jaya Raya Jakarta, Viorel Joan Fernando/Dhe Bunga Anjani, 21-18, 20-22, 21-19.

“Kita tidak ada target sama sekali, hanya ingin main sebaik mungkin dan tampil maksimal. Iya kita baru dua kali tampil, kita pasangan baru. Jadi tidak ada target khusus,” tandas Helena.

Di semifinal hari ini, Lucky/Helena akan berjumpa rekan satu klub, Dwiki Rafian Restu/Aldira Rizki Putri. Dwiki/Aldira melangkah ke empat besar setelah menang tiga gim atas Alif Rafsyah Mauthuthihona/Rayhan Vania Salsabila, 21-15, 12-21, dan 26-24. (R-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More