Kesaksian Glenn Yusuf Buktikan tidak Ada Misrepresentasi

Penulis: Micom Pada: Rabu, 12 Sep 2018, 18:45 WIB Politik dan Hukum
Kesaksian Glenn Yusuf Buktikan tidak Ada Misrepresentasi

MI/Susanto

PENGACARA senior Yusril Ihza Mahendra mengemukakan bahwa inti dakwaan dan tuntutan Jaksa Penuntut Umum terhadap mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Sjafruddin Arsyad Temenggung (SAT) sebagai melakukan perbuatan melawan hukum dengan dalih adanya misrepresentasi oleh Sjamsul Nursalim (SN) tidak terbukti karena peristiwa itu sendiri tidak pernah terjadi.

JPU pada pada sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Senin (3/9) lalu telah menuntut SAT 15 tahun penjara dan denda Rp1 miliar. Pada Kamis (13/9) besok, SAT akan menyampaikan pleidoinya atas tuntutan tersebut.

Yusril menilai, karena peristiwa atau perbuatan/kejadian misrep itu tidak ada atau tidak pernah terjadi, unsur melawan hukum dari SAT tidak terbukti. Ia menampik dakwaan oleh jaksa tentang SN yang menyatakan utang petambak adalah lancar, padahal macet.

"Peristiwa atau kejadian di mana SN menyatakan utang tersebut lancar adalah tidak pernah ada.

Karena tiada seorang pun saksi maupun bukti lain termasuk surat dan pengakuan SN yang membuktikan adanya peristiwa misrepresentasi itu," kata Yusril dalam keterangannya, Rabu (12/9).

Utang petambak merupakan utang para petambak kepada BDNI, dan merupakan salah satu aset BDNI. Sedangkan BDNI telah diambil alih oleh BPPN sejak 3 April 1998, lebih dari 1 tahun sebelum Master Settlement and Acquisition Agreement (MSAA) ditutup (closing) pada 25 Mei 1999. Pada saat pembuatan MSAA, seluruh data neraca dan perhitungan berasal dari BPPN sendiri.

"Bagaimana sekarang setelah 20 tahun baru dinyatakan ada misrepresentansi?" katanya mengherankan.

Apalagi MSAA merupakan suatu perjanjian perdata, yang mana di dalamnya jelas tertera, jikalau ada perselisihan atau argumentasi misrepresentansi harus diselesaikan melalui hukum perdata. Artinya, sebelum ada keputusan Pengadilan Perdata yang berkuatan hukum tetap, tidak ada misrepresentansi.

Dalam argumentasinya, Yusril juga menunjuk pada dua saksi atas sangkaan tersebut yang diajukan JPU, yaitu Glenn M Yusuf dan Rudy Suparman. Glenn Yusuf, mantan Ketua BPPN, mengakui di muka sidang, pada mulanya ia dalam suratnya menyatakan bahwa SN telah menyatakan bahwa utang petambak adalah lancar.

Namun kemudian, setelah mendengarkan keterangan kesaksian Farid Harianto, mantan Wakil Ketua BPPN, bahwa SN tidak pernah hadir dalam rapat, Glenn Yusuf meralat keterangannya sendiri.

Glenn menyatakan, dia baru sekarang mengetahui bahwa SN tidak pernah hadir dalam negosiasi. Seketika ia mengubah pernyataannya dan menyatakan bahwa pernyataan utang itu lancar berasal dari advisor.

Dalam sidang, Glenn juga mengakui bahwa dia sendiri tidak pernah hadir dalam rapat tersebut dan informasi tersebut hanya dia peroleh dari stafnya.

Sementara saksi lainnya, Rudy Suparman, mantan Direktur Utama Danareksa, dalam persidangan menyatakan, SN selaku pemegang saham pengendali BDNI mempresentasikan pinjaman kepada petani tambak sebesar Rp4,8 triliun sebagai pinjaman lancar melalui penasihatnya.

Yusril menyimpulkan, keterangan dua orang saksi tersebut justru membuktikan bahwa tidak ada kata-kata atau keterangan dari SN sendiri yang menyatakan utang petambak adalah lancar. Fakta ini didukung oleh pernyataan Glenn Yusuf bahwa SN tidak hadir dalam negosiasi, dengan demikian SN tidak mungkin menyatakan bahwa utang petambak adalah lancar.

Fakta lainnya, Glenn dan Rudy menyatakan bahwa kata-kata utang lancar tersebut disampaikan oleh penasihatnya.

"Ini justru membuktikan bahwa SN tidak pernah menyatakan sendiri. Apakah betul advisor pernah menyatakan hal tersebut, siapa nama advisor-nya, kapan, di mana, dan terhadap siapa disampaikan?

Semua hal itu tidak pernah dibuktikan di pengadilan karena advisor tersebut tidak pernah diperiksa dan tidak pernah memberikan keterangan di persidangan," ujarnya.

Dan lagipula, tambah Yusril, advisor bukanlah kuasa dari SN, sehingga apabila pun benar (quad non) advisor menyatakan hal itu, tentu SN tidak bisa dimintai pertanggungjawaban karena advisor bukan kuasa dari SN. Advisor tentu hanya dapat menyatakan pendapatnya sendiri, tidak mewakili orang lain. Ini sesuai dengan bantahan SN dalam suratnya tertanggal 12 November 1999, surat mana yang diungkapkan di persidangan.

Yusril juga menyanggah pendapat hukum (legal opinion) LGS bahwa SN telah melakukan misrepresentasi dalam pelaksanaan MSAA.

"Apa yang disampaikan oleh LGS hanyalah pendapat atau opini dan bukan fakta hukum, sedangkan LGS, dalam hal ini Timbul Lubis, memberikan kesaksian sebagai saksi fakta.

Pendapat hukum atau opini belaka bukanlah merupakan keterangan saksi yang sah dan yang dapat diterima berdasarkan Pasal 184 KUHAP. Sehingga keterangannya tidak bernilai secara hukum dan harus dikesampingkan," lanjut Yusril.

Ditambah lagi dalam persidangan Timbul Lubis menyatakan, seluruh data berasal dari BPPN, dan ada sejumlah data yang tidak diberikan karenanya kesimpulannya menjadi tidak lengkap. (RO/OL-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More