Emak Era Instagram, antara Pencitraan, Nyinyiran dan Stimulasi Anak

Penulis: Iis Zatnika Pada: Rabu, 12 Sep 2018, 19:53 WIB Weekend
Emak Era Instagram, antara Pencitraan, Nyinyiran dan Stimulasi Anak

Dok Indonesia Montessori Instagram
Sesi temu wicara Art in the Montessori Environment yang digelar Nippon Spot-Less Plus di Jakarta, Minggu (9/9).

Menjadi orangtua di era Instagram, memberi banyak akses agar kian pintar dan prigel dengan mengikuti akun pesohor yang terkenal pintar membuat menu sehat atau menciptakan aktivitas bermain seru, pun dokter yang tak pelit berbagi ilmu.

Namun, cobaan yang juga berat juga mesti dihadapi ketika jempol mengusap layar dan yang keluar adalah gambar-gambar anak-anak nan keren, rumah yang terjaga rapi dan sosok sang emak yang langsing dengan perona pipi nan cantik.    

"Ya, karena saat ini kita bisa melihat langsung ke rumah, bahkan ruang tidur siapa pun yang membuka akses sosial medianya pada publik, ini mungkin yang membedakan dengan dunia parenting generasi sebelumnya," kata Elvina Lim Kusumo, pendiri Indonesia Montessori Center (IMC) dalam sesi temu wicara Art in the Montessori Environment yang digelar Nippon Spot-Less Plus di Jakarta, Minggu (9/9).

Kiat-kiat sukses di dapur, halaman, rumah hingga kamr tidur itu, kata Elvina, juga sebanding dengan risiko yang harus diantisipasi."Mulai over posting, terlalu terbuka hingga melanggar batasan-batasan bersosial media, dan ada pula risiko yang tak kalah pentingnya, efek perasaan panas, frustasi dan tertekan karena merasa menjadi orangtua yang gagal ditengah gambar dan citra di media sosial yang sangat sempurna," kata ibu dua anak yang kini bermukim di Singapura itu.

Elvina pun berbagai kiat-kiat bijak di media sosial yang selama ini diterapkannya dan tentu tervalidasi, karena pengikutnya mencapai 103 ribu dan sebagian menjadikan sosoknya sebagai referensi mendidik anaknya.

Pikir dulu sebelum posting, apa dampak yang akan ditimbulkan setelah memasang foto pun memasang keterangan foto. Apakah melanggar batas privasi, menyinggung orang lain  atau justru bermakna lebih bagi para pengikut, selain buat dokumentasi keluarga.

"Kita tak bisa membatasi opini atau perasaan orang saat melihat Instagram kita, tapi tentu kita punya alat ukur, dampak yang akan   ditimbulkan, apakah semata pamer atau justru berbagi pengetahuan," kata Elvina yang mengajak netizen juga agar tak mudah nyinyir, mencap orang yang memasang foto anaknya yang lucu atau dinilai pintar, bermotivasi pamer. "Lebih baik kita pahami, oh ya dia ingin berbagi, jadi usahakan lihat dari sisi positif."

Foto keren itu wajib, tentu dibutuhkan latar belakang, suasana rumah dan dinding. Jadi kiatnya, pintar memilih meterial rumah dan interior yang selain punya fungsi, juga bisa dimanfaatkan untuk belajar dan tentunya buat latar Instagram.

Dinding dengan cat berbasis air Nippon Spot-Less Plus, lanjut Elvina, misalnya, bisa dimanfaatkan. Selain diklaim dilengkapi fitur anti kuman dan bakteri, sehingga anak-anak yang belajar berdiri atau berjalan aman bersentuhan langsung dengan permukaan dinding, ada pula lapisan yang membuatnya bisa dibersihkan. "Stain-guard membuat dinding mudah dibersihkan bila terkena noda karena eksplorasi dan kreativitas anak-anak, pun minim volatile organic compound yang berpotensi menggangu kesehatan karena baunya yang menyengat dan  menyesakkan," kata Mark Liew, assistant general manager Nippon Paint Indonesia.

Di dinding yang berlapis istimewa ini, kata Elvina, anak bisa melatih indra peraba, menyentuh dan memegangnya hingga mengasah sensori dengan mencoret atau menggambar. Agar anak memahami tentang aturan, berikan pemahaman tentang batas dinding dan aktivitas yang bisa mereka eksplorasi. Ajari pula cara menghapusnya yang cukup dengan kain atau tisu basah.  

Saring informasi yang tersaji di media sosial, serta kembalikan pada referensi untuk memfilter validitas informasi. "Karena ada banyak gaya parenting, sebaiknya kalau bingung ya tanyakan ke dokter atau psikolog. Yang terpenting, coba cari tahu apakah metode yang diterapkan untuk tepat atau cocok buat anak kita, karena kondisi rumah dan setiap anak itu berbeda" ujar Elvina yang mengaku hingga kini membesarkan dua putranya tanpa bantuan asisten rumah tangga.

Jangan pernah mencap diri sebagai orangtua yang gagal ketika melihat Instagram ibu lain yang teramat kece dan tampil sempurna. "Ingat ya yang tampil di media sosial itu tampilan yang sudah dipilih dengan sengaja, jangan terkecoh pada pencitraan. Jangan muda membandingkan lalu depresi sendiri. Aturannya sama seperti di dunia nyata, manusia itu ada kelebihan dan kekurangan, namun yang tampil di Instagram tentu keceriaan, kebahagiaan. Ketika kita masih belum berhasil mengatasi anak sulit makan misalnya, bisa stres jika kita terfokus melihat video anak lain makan dengan lahapnya."
 
Kiat ini, justru yang terpenting, batasi frekuensi menggunakan media sosial. Elvina yang Instagramnya teramat rapi, menulis buku dan mengelola komunitas pengikutnya menjadi semacam klub, mengaku hanya membuka media sosial saat anaknya terlelap di malam hari, tidur siang atau pagi-pagi sekali saat mereka belum bangun.

"Mungkin satu atau dua jam sehari, selebihnya main dan kalau saya, membangun sistem untuk mendidik mereka mandiri dan belajar, sekaligus untuk memudahkan saya mengurus rumah. Misalnya mengatur ada pijakan di wastafel agar anak bisa cuci tangan sendiri." (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More