Menyikapi Efek Domino Melemahnya Rupiah

Penulis: Bagong Suyanto Guru Besar Sosiologi Ekonomi FISIP Universitas Airlangga Pada: Kamis, 13 Sep 2018, 03:30 WIB Opini
Menyikapi Efek Domino Melemahnya Rupiah

MI/Tiyok

NASIB rupiah dalam 3-4 bulan terakhir makin memprihatinkan. Ketika perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok berlangsung makin panas, imbasnya ternyata bukan hanya bagi kedua negara tersebut, melainkan juga melanda berbagai negara di dunia, tak terkecuali Indonesia.

Terlepas dari soal kelemahan personal dan sosok Donald Trump yang kontroversial, saat ini kondisi perekonomian AS dilaporkan malah membaik. Di AS, angka pengangguran dilaporkan menurun, nilai tukar dolar AS meningkat dan performa perekonomian AS objektif diakui mengalami sejumlah perbaikan. Sementara itu, di Tanah Air, kondisi rupiah justru sebaliknya, nilai tukar rupiah makin menurun, bahkan ada indikasi hampir menyamai situasi krisis moneter 1998 yang menyebabkan Indonesia terpuruk.

Di berbagai media massa, kurs rupiah terhadap dolar AS dilaporkan sempat menyentuh level Rp15 ribu. Kondisi perekonomian AS yang membaik dan kebijakan kenaikan suku bunga yang dilakukan Bank Sentral AS, The Federal Reserve menyebabkan posisi rupiah justru makin buruk. Jika pada 2017 Indonesia masih bisa sedikit menikmati surplus perdagangan hingga US$12 miliar, pada 2018 situasinya justru berubah 180 derajat, dari surplus menjadi defisit.

Pada April 2018, defisit perdagangan Indonesia mencapai US$1,63 miliar. Posisi cadangan devisi per akhir Agustus 2018 tinggal US$117,9 miliar, menyusut US$400 juta dari bulan sebelumnya. Penurunan cadangan devisa ini terjadi karena tergerus 10,7% atau sekitar US$14,08 miliar dari posisi Januari 2018. Meski angka ini masih aman, tetapi untuk ke depan diprediksi merosot jika rupiah tidak segera membaik.

Pemerintah mengklaim pelemahan nilai tukar rupiah bukan disebabkan kondisi fundamental ekonomi yang rapuh. Di sisi lain, pelemahan rupiah diklaim justru akan menguntungkan para eksportir. Akan tetapi, pelemahan rupiah yang terus berkepanjangan bukan tidak mungkin akan melahirkan efek domino yang kontra-produktif.

Perang dagang antara AS dan Tiongkok kemungkinan besar juga merembet melibatkan Eropa, Kanada, serta Meksiko. Cepat atau lambat akan mengakibatkan peluang Indonesia melakukan ekspor menjadi terhambat. Selain itu, perang dagang yang makin meluas, juga akan berpotensi mengakibatkan masa depan dunia industri di Indonesia menghadapi situasi ketidakpastian, dan iklim persaingan yang makin ketat. Alih-alih mampu meraup devisa dari peningkatan kinerja ekspor, ketika barang impor yang masuk tidak seimbang dengan arus ekspor, yang terjadi ialah ancaman serius pada kelangsungan industri di Tanah Air.

Efek domino
Dampak segera yang terjadi di Tanah Air ketika nilai tukar rupiah terus melemah ialah menyangkut masa depan kelangsungan dunia industri. Berbagai sektor industri yang bahan bakunya sebagian besar masih berasal dari impor seperti industri farmasi, niscaya akan menghadapi situasi yang dilematik.

Di satu sisi, mereka berisiko mengurangi kapasitas produksi karena kenaikan harga bahan baku. Di sisi lain, ketika mereka memilih menaikkan harga jual produknya, bisa saja produk yang dihasilkan menjadi lebih mahal dan tidak kompetitif di pasaran.

Hingga saat ini, mungkin benar bahwa belum ada laporan yang menginformasikan terjadinya kebangkrutan industri di Tanah Air. Akan tetapi, indikasi ke arah sana bukan berarti tidak ada. Sejumlah perusahaan yang menggantungkan bahan bakunya dari impor, sebagian di antaranya terancam gulung tikar. Pemutusan hubungan kerja (PHK), penghapusan uang lembur pekerja, walaupun belum meluas, tapi ditengarai mulai terjadi di beberapa dunia usaha.

Efek domino yang terjadi jika pelemahan rupiah tidak segera dapat teratasi ialah; pertama, terjadi dan bertahannya defisit transaksi berjalan di atas 3 dari Produk Domestik Bruto (PBD), yang menyebabkan nilai tukar rupiah makin merosot tajam, dan sekaligus menyebabkan prospek perkembangan dunia usaha terancam lesu.

Bahkan, bukan tidak mungkin sebagian dunia usaha yang 50% lebih komponen bahan bakunya berasal dari luar negeri terancam gulung tikar karena tidak lagi kompetitif di pasaran. Akibat pelemahan nilai tukar rupiah, sejumlah dunia usaha dilaporkan terpaksa menaikkan harga jual produk sekitar 5%, bahkan mungkin lebih.

Kedua, munculnya warga masyarakat yang termasuk orang miskin baru karena menjadi korban PHK atau usahanya bangkrut karena terjadinya kenaikan biaya produksi. Membiarkan pelemahan rupiah berlangsung terlalu lama dan tak segera teratasi, maka jangan kaget jika dunia usaha di Indonesia akan terguncang dan terpaksa melakukan PHK.

Pelemahan rupiah yang berkepanjangan, niscaya akan menstimulasi terjadinya inflasi dan penggerusan daya beli masyarakat. Ketika produsen terpaksa harus menaikkan harga jual produk, daya beli masyarakat bisa dipastikan akan terpengaruh. Sehingga, ujung-ujungnya berbagai perusahaan harus menanggung risiko barang-barang mereka tak laku, menumpuk di gudang atau toko, hingga akhirnya perusahaan harus mengurangi jumlah karyawan karena stok yang berlebih. Pada titik ini, kemungkinan munculnya orang-orang miskin baru nisaya hanya tinggal waktu.

Menyikapi
Untuk meredam agar keterpurukan rupiah tidak melahirkan efek domino yang menyengsarakan masyarakat, sudah barang tentu langkah-langkah intervensi yang dibutuhkan tidak melulu di ranah ekonomi. Bank Indonesia (BI), misalnya, telah mengambil langkah  tepat menaikkan suku bunga acuan BI agar gejolak rupiah dapat dikendalikan. Pemerintah juga telah berusaha membatasi transaksi dolar agar tidak terjadi spekulasi dan tidak makin memperlemah posisi tawar rupiah dalam struktur nilai tukar mata uang internasional.

Kebijakan lain yang tak kalah penting ialah bagaimana memastikan agar masyarakat tidak menjadi korban dan mampu tetap survive meski dunia usaha terancam gulung tikar atau paling-tidak mengurangi volume produksinya.

Mempersiapkan masyarakat mampu mengembangkan usaha mandiri, memfasilitasi UMKM agar mampu menembus pasar global dengan memanfaatkan teknologi informasi, mendorong masyarakat mengembangkan diversifikasi usaha, dan upaya untuk memperkuat penyangga ekonomi masyarakat ialah kebijakan yang mendesak dikembangkan menyikapi pelemahan rupiah.

Pengalaman di masa lalu menyikapi krisis moneter yang terjadi dua dekade silam ialah pelajaran berharga, yang semestinya membuat kita semua belajar agar tidak dua kali terperosok dalam lubang yang sama.

 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More