Ratusan WNI Nobar Film Lima di Taiwan

Penulis: Micom Pada: Rabu, 12 Sep 2018, 18:10 WIB Hiburan
Ratusan WNI Nobar Film Lima di Taiwan

Ist

PADA Minggu (9/9) lalu, ratusan warga negara Indonesia yang tengah menetap di Taiwan, bersama mengikuti kegiatan nonton bareng (nobar) film 'Lima', produksi Lola Amaria Production di ruang auditorium Radio Taiwan Internasional (RTI), Taiwan.

Film 'Lima' yang mengambil tema tentang Pancasila, dasar negara Republik Indonesia, merupakan sebuah film keluarga yang berjuang menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana menjadi keluarga Pancasilais, di mana film yang berdurasi 110 menit tersebut juga telah ditayangkan serentak di bioskop-bioskop Indonesia pada 31 Mei 2018 lalu.

Film yang disutradarai oleh lima sutradara muda Indonesia, antara lain Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewo, saat diputar di RTI, berhasil membuat para penonton meneteskan air mata sejak awal hingga akhir.

Lola Amaria bersama dengan dua sutradara lain yakni Shalahuddin Siregar dan Tika Pramesti, turut hadir dalam kesempatan Nobar dengan warga Indonesia di Taiwan. Hal yang cukup membuat Lola Amaria dan tim yang datang ke Taiwan terkejut ialah saat film memasuki pengamalan sila keempat dan kelima, saat adegan Bi Ijah yang diperankan Dewi Pakis, pamit dari keluarga yang diurusnya untuk pulang kampung dan mengurus anak-anaknya, di situ lah penonton terbawa emosi.

"Penonton rata-rata memang TKI. Mereka bekerja di berbagai sektor, baik formal maupun informal, namun pada umumnya mayoritas bekerja pada majikannya di Taiwan sebagai perawat akong atau ama. Mereka terharu dan meneteskan air mata, saat adegan Bi Ijah pamit untuk pulang kampung dan mengurus anaknya-anaknya yang kurang mendapat perhatian darinya selama bekerja. Sampai adegan terakhir sila ke-5 saat Bi Ijah harus mengikuti proses kasus hukum anak-anaknya, di situ lah penonton terbawa suasana," cerita Lola.

Kegiatan Nobar di Taiwan hanya digelar di Kota Taipei saja, mengingat Taipei yang sangat strategis untuk ditempuh oleh para pekerja yang berasal dari berbagai kawasan di Taiwan, bahkan ada pekerja yang rela naik kereta 2 jam dari Chiayi untuk nobar film 'Lima'. Film ini juga mendapat sambutan yang hangat dari Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, PCI NU cabang Taiwan, Banteng Muda Indonesia Taiwan, media IndoSuara di Taiwan, komunitas pelajar, bahkan hingga staf dari RTI sendiri.

Usai nobar, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama berkenaan dengan film tersebut. Lola juga mengimbau para peserta untuk tidak melupakan dasar negara Indonesia, Pancasila, yang merupakan satu-satunya pemersatu bangsa dengan turut menjaga keragaman yang dimiliki oleh Indonesia, mulai dari keragaman agama, suku, budaya, etnis, ras, dan lain sebagainya.

Pemutaran film 'Lima' di Taiwan yang digagas sejak dua bulan sebelumnya, memang dimaksudkan agar dapat menumbuhkan rasa persaudaraan sesama warga Indonesia saat berada di tanah rantau, Taiwan. Selain itu juga untuk membangkitkan kembali rasa cinta kepada Tanah Air, semangat nasionalisme, membantu meningkatkan derajat perekonomian bangsa dengan turut mencintai hasil produk dalam negeri.

Di sisi lain, kegiatan nobar yang awalnya ditargetkan untuk warga Indonesia yang berada di Taiwan, tetapi seiring dengan kebijakan baru menuju selatan yang diusung oleh pemerintah Taiwan, dalam ajang nobar juga terlihat sekitar sepuluhan penonton yang ternyata kewarganegaraan Taiwan.

Hal ini juga menjadi sebuah kesempatan pertukaran kebudayaan bidang perfilman, serta turut mempromosikan Indonesia bagi warga Taiwan, mempererat tali silahturahim antara Indonesia dan Taiwan yang telah terjalin sejak lama. (RO/OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More