Scroll to top

Paradoks "Lebih Dulu Telur atau Ayam?", Fisikawan Mengungkapnya

Penulis: Abdillah Marzuqi Pada: Rabu, 12 Sep 2018, 16:15 WIB Weekend
Paradoks "Lebih Dulu Telur atau Ayam?", Fisikawan Mengungkapnya

Ist

PARADOKS ayam dan telur, memang sudah ada sejak lama. Paradoks itu pertama kali diungkapkan filsuf di Yunani Kuno untuk menggambarkan diskursus sebab-akibat. Telur atau ayam, lebih dahulu mana? Apakah telur menjadi sebab ayam ada? Atau malah sebaliknya.

Beribu tahun lalu, Aristoteles (384-322 SM) menggambarkannya sebagai urutan tak terbatas, tanpa asal yang benar. Empat abad kemudian, Plutarch (45-127 M) secara khusus menyoroti pertanyaan itu. Ia menganggapnya sebagai sebagai masalah besar dan berat sebab berkenaan dengan pertanyaan mendasar tentang permulaan dunia. Berikutnya Macrobius (395–423 SM) juga berpendapat bahwa meski pertanyaan itu tampak sepele, tapi harus dianggap sebagai salah satu yang penting.
 
Baru-baru ini, tim fisikawan dari The University of Queensland dan NÉEL Institute urun rembug. Ketika berkaitan dengan fisika kuantum, antara ayam dan telur, ternyata disimpulkan bahwa keduanya bisa muncul lebih dulu. Dr. Jacqui Romero dari ARC Centre of Excellence for Engineered Quantum Systems mengatakan bahwa dalam fisika kuantum, sebab-dan-efek tidak selalu sesederhana seperti satu peristiwa yang menyebabkan yang lain. Dengan begitu, bisa saja ayam hadir lebih dulu, atau telur yang hadir lebih dulu.
 
"Keanehan mekanika kuantum berarti bahwa peristiwa dapat terjadi tanpa urutan yang ditetapkan," terang Jacqui sebagaimana dilansir dari sciencedaily.com.
Ia mencontohkan perilaku berkendara modern bisa memilih untuk berkendara dengan bus atau kereta api. Bisa juga dengan memadukan keduanya dengan menumpang bus lebih dahulu, selanjutnya dengan kereta api. Mungkin juga sebaliknya.
 
"Ambil contoh perjalanan harian Anda untuk bekerja, di mana Anda melakukan perjalanan sebagian dengan bus dan sebagian dengan kereta api," lanjutnya.
"Dalam percobaan kami, kedua peristiwa ini bisa terjadi lebih dulu. Ini disebut 'aturan tak terbatas' dan itu bukan sesuatu yang bisa kita amati dalam kehidupan kita sehari-hari," lanjut Dr Romero.
 
Untuk mengamati efek ini di laboratorium, para peneliti menggunakan pengaturan yang disebut saklar kuantum fotonik. Dr. Udo Fabio Costa mengatakan bahwa dengan perangkat ini urutan peristiwa tergantung pada polarisasi. "Dengan mengukur polarisasi foton pada output dari saklar kuantum, kami mampu menunjukkan urutan transformasi pada bentuk cahaya tidak diatur," terang Costa yang penelitiannya itu diterbitkan dalam jurnal Physical Reviews Letters.
 
"Ini hanya pembuktian sederhana dari prinsip kausalitas. Tetapi pada skala yang lebih besar, kausalitas yang tidak terbatas dapat diaplikasikan secara nyata, seperti efisiensi komputer atau omtimalisasi komunikasi," terus Costa.
 
Paradoks ayam dan telur memang punya bobot lebih ketika dikaitkan dengan soalan sebab-akibat, dan permulaan dunia. Soalan itu termasuk dalam salah satu disiplin penting dalam filsafat yakni metafisika atau ontologi. Namun biar para filsuf bergulat dengan pemikiran itu. Yang jelas, para fisikawan telah membuka kemungkinan untuk mentransformasikan paradoks itu dalam sistem kerja komputer yang bermanfaat bagi kebutuhan manusia. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More