Lima Wilayah di NTT Alami Kekeringan Ekstrem

Penulis: Palce Amalo Pada: Rabu, 12 Sep 2018, 16:30 WIB Nusantara
Lima Wilayah di NTT Alami Kekeringan Ekstrem

MI/PALCE AMALO

STASIUN Klimatologi Lasiana, Kupang, Nusa Tenggara Timur melaporkan hari tanpa hujan (HTH) selama Dasarian 1 September 2018 lebih panjang dari biasanya.

Kondisi tersebut mengakibatkan sedikitnya lima wilayah di NTT mengalami kekeringan ekstrem yakni Rendu di Kabupaten Nagekeo, Olafuliha'a di Kabupaten Rote Ndao, Hueknutu dan Kupang di Kabupaten Kupang, serta Weluli di Kabupaten Belu.

"Hari tanpa hujan sangat panjang 31-60 hari, dan hari tanpa hujan kategori panjang 21-30 hari," kata  Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Kelas II Kupang, Apolinaris Geru di Kupang, Rabu (12/9).

Warga di daerah yang mengalami kekeringan ekstrem diharapkan menghemat air untuk kebutuhan minum, mandi, dan cuci. Pasalnya kekeringan ektrem berdampak serius terhadap penyediaan air.

Sebaliknya, menurut Dia, pada Dasarian 1 September, hujan turun di sejumlah wilayah dengan kategori rendaha antar 0-50 milimeter.  Namun pada Dasarian 2 September, umumnya wilayah NTT memiliki peluang curah hujan antara 0-20 milimeter sebesar 90-100 persen.

Sementara itu, Stasiun Meterologi El Tari Kupang mengingatkan adanya potensi kebakaran hutan dan lahan di daerah itu menyusul kekeringan ekstrem, apalagi kecepatan angin di NTT saat ini mencapai 30 kilometer per jam.

Di tempat terpisah, Kepala Balai Taman Nasional (TN) Matalawa, Sumba Timur Maman Surahman mengatakan petugas telah disiapkan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah itu.

"Kami melakukan sosialisasi kepada masyaralat tentang pentingnya mencegah karhutla,  membentuk masyarakat peduli api (MPA), patroli bersama MPA, pembuatan sekat bakar dan pemasangan papan imbauan dan papan peringatan," ujarnya.

Menurutnya pada Juli 2018 muncul sejumlah titik api di luar kawasan hutan di Sumba Timur, namun sejak awal September tidak ada lagi titik api. (OL-3)
 

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More