Memaksimalkan Potensi Positif Golden Age

Penulis: Ali Usman Guru pesantren di Yogyakarta, menamatkan studi S-1 filsafat dan program magister di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Pada: Senin, 10 Sep 2018, 10:10 WIB Opini
Memaksimalkan Potensi Positif Golden Age

PERNAHKAH kita membayangkan, apa jadinya jika seorang anak sejak usia dini telah didoktrin dan distimulasi untuk melakukan tindakan-tindakan yang menjurus pada perilaku kekerasan? Ironisnya, stimulasi negatif itu diajarkan baik sengaja atau tidak sengaja di lembaga pendidikan tempat mereka menimba ilmu.

Padahal bukan mustahil, di antara mereka, sebagai generasi penerus bangsa, nantinya akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa. Lalu, masihkah ada harapan kita mempunyai seorang pemimpin yang dapat membawa perubahan bangsa ke arah lebih baik? Dari manakah kita bisa memperolehnya?

Pertanyaan itu sangat penting direfleksikan dan dicari jawabannya hingga ke akar permasalahan. Selama ini pendidikan telah dianggap menjadi aspek penting untuk mendukung terbentuknya jiwa kepemimpinan seseorang. Hampir semua mantan presiden dan wakilnya, dan termasuk calon presiden-calon wakil presiden yang hari ini berebut simpati rakyat, melewati jalur pendidikan formal maupun informal.

Pendidikan mempunyai andil besar dalam membentuk intelektualitas, wawasan kebangsaan, dan jiwa kepemimpinan seseorang. Karena itulah, kualitas pendidikan nasional kita benar-benar dituntut untuk memperbaiki dan menjaga kualitas agar dapat menghasilkan lulusan-lulusan yang bonafide sesuai keinginan setiap orangtua untuk kepentingan bangsa. Persoalannya, dari manakah kita memulai perbaikan pendidikan itu?

Tidaklah benar bila ada yang mengatakan usaha memperbaiki kualitas pendidikan hanya diperuntukkan di perguruan tinggi (PT), SLTP/SLTA, dan SD. Usaha untuk mencapai target maksimal, sejatinya kita memperbaikinya secara total terhadap lembaga-lembaga pendidikan mulai nol hingga ke paling atas.

Apa yang dimaksudkan 'dari nol' itu? Sering dilupakan, kita masih punya tingkat pendidikan paling bawah, yang biasa disebut dengan pendidikan anak usia dini (PAUD). UU No 20/2003 tentang Sisdiknas menyebutkan, PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Golden age dan generasi PAUD

Itu berarti, PAUD berperan besar dalam membentuk karakter dan kesiapan peserta didik sebelum ia masuk ke jenjang TK dan SD. Kesadaran akan pentingnya PAUD ini secara nyata berdampak positif untuk pertumbuhan anak, sebab pada usia inilah yang dalam ilmu psikologi disebut usia emas (golden age).

Golden age merupakan masa-masa penting bagi tumbuh kembang anak-anak. Para ahli psikologi dan pendidikan, sepakat tentang hal ini. Maria Montessori, ahli pendidikan anak dari Itali (1870-1952), pernah mengatakan, "Working with children older than 3 years is too late to have the most beneficial effect on their life."

Dalam konteks yang sama, John W Santrock (2007) menjelaskan secara detail proses perkembangan golden age pada anak, yaitu pada sekitar usia dua bulan, pusat kendali motorik otak berkembang hingga titik bayi mampu secara tiba-tiba meraih dan menggenggam objek yang dekat. Pada usia empat bulan, hubungan neural yang diperlukan untuk persepsi kedalaman mulai terbentuk. Dan pada usia sekitar 12 bulan pusat bicara otak diseimbangkan untuk menghasilkan salah satu dari kejadian-kejadian ajaib di masa bayi yaitu saat bayi mengucapkan kata pertamanya.

Peneliti telah menemukan bahwa percikan dalam aktivitas listrik otak terjadi dari sekitar usia 1,5 tahun hingga 2 tahun. Proses pertumbuhan otak ini secara terus-menerus, bahkan otak anak mengalami ledakan pertumbuhan yang cepat antara usia 3 tahun hingga 15 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 50% kapabilitas kecerdasan orang dewasa telah terjadi ketika anak berumur empat tahun, 80% telah terjadi ketika berumur delapan tahun dan mencapai titik kulminasi ketika anak berumur sekitar 18 tahun (Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini: 2004).

Hal ini berarti bahwa perkembangan yang terjadi dalam kurun waktu empat tahun pertama sama besarnya dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya sehingga periode emas ini merupakan periode krusial bagi anak, yakni perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa.

Golden age hanya datang sekali sehingga apabila terlewatkan, berarti juga mengabaikan peluang terbaik untuk membangun masa depan anak dan bangsa. Mendidik anak usia dini, terutama di lingkungan sekolah formal, tidaklah gampang. Diperlukan kecerdasan sekaligus kearifan karena usia emas ialah kunci masa depan anak sehingga mencoba sensasi melakukan karnaval perang--sebagaimana terjadi baru-baru ini--justru akan memengaruhi kognisi peserta didik di masa depan.

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More