Tantangan Ramadan

Penulis: Hariyanto Pada: Selasa, 23 Jun 2015, 00:00 WIB Spektrum
no-image.jpg

Umat muslim menjalankan salat tarawih di jembatan penyeberangan orang (JPO) kawasan Pasar Gembrong, Jakarta, Rabu (17/6). MI/Angga Yuniar


PUTARAN waktu membawa kita kembali pada Ramadan. Di Indonesia, negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Ramadan disambut penuh sukacita. Inilah bulan ketika rakyat, pemerintah, dan swasta  bergerak bersama memanfaatkan kesempatan.

Pemerintah melakukan berbagai persiapan, di antaranya meredam kenaikan harga pangan dan membenahi infrastruktur jalan demi kelancaran arus mudik Lebaran. Pembatasan operasi tempat-tempat hiburan juga dilakukan. Pun demikian dengan pihak swasta. Banyak korporasi yang menjadikan bulan suci sebagai bulan berbagi. Momen untuk membangun harmoni antara laku bisnis dan tanggung jawab sosial.

Bagi kalangan pewarta foto, Ramadan merupakan repetisi. Ia hadir berulang saban tahun, dengan 'warna' dan 'fenomena' yang nyaris sama. Ia serupa momen pesta olahraga atau momen-momen besar lainnya. Ia bak jalan panjang nan lurus, yang dikira bisa ditebak seperti apa ujungnya, padahal nyatanya kerap tak terduga.

Bagi mereka yang hanya terbiasa menggauli hal-hal besar tapi tidak mencintai detail, peristiwa yang berulang kerap dikerjakan dengan prinsip-prinsip pengulangan pula. Sebatas menjalankan kewajiban. Ia tetap wujud dari hasil kerja, tetapi minim sentuhan kreativitas. Padahal, mestinya tidak seperti itu. Galibnya pekerja seni, kreativitas dan kecintaan pada detail merupakan nyawa.

Mengabadikan peristiwa yang berulang seperti Ramadan bukanlah hal yang gampang. Ia menantang pelakunya untuk selalu menampilkan hal baru. Jika tidak, imaji yang dihasilkan akan terasa biasa-biasa saja, bahkan bisa membosankan. Karena menayangkan hal yang baru ialah sebuah keniscayaan, membekali diri dengan kekayaan pengetahuan merupakan kewajiban. Pengetahuan itulah yang mengarahkan ke mana jurnalis foto melangkah dan memberi makna pada foto-foto bidikannya.

Itulah sebabnya, Ramadan wajib dimaknai sebagai bulan penuh tantangan. Tantangan untuk menghasilkan karya yang bermakna dan menghadirkan kebaruan. Jika tidak, catatan visual tentang Ramadan akan terlewatkan tanpa kesan. Kepekaan seorang jurnalis foto (dan editornya tentu saja) akan menentukan dangkal-dalamnya pemaknaan Ramadan. Merekalah kunci penentu apakah foto-foto yang diterbitkan sekadar pengisi ruang-ruang kosong, atau mampu menggerakkan pembaca.

Hari-hari ini hampir semua media memberikan porsi yang cukup besar pada peristiwa yang terkait dengan Ramadan. Momen seperti salat tarawih pertama, suasana selama puasa, persiapan mudik, perjuangan saat mudik, hingga perayaan Lebaran terhampar di depan mata. Fakta terbuka yang berulang setiap tahunnya itu ialah ladang bagi jurnalis foto untuk menunjukkan kelasnya sekaligus memberikan kontribusinya pada kehidupan.

Pada konteks inilah, media mempunyai andil besar dalam menentukan arah pemaknaan Ramadan. Di tangan para kreator dan pecinta detail, pemilihan angle liputan dan pemuatan foto selama bulan puasa mestinya bukan sekadar kosmetik, melainkan makin bertumpu pada kedalaman makna. Dengan begitu, pewarta foto akan selalu haus dan lapar akan kebaruan sekaligus mampu menyingkirkan penyakit yang melumpuhkan kreativitas, yakni kejenuhan.

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More