Pemerintah dan BI yang Bekerja

Penulis: Raja Suhud VHM Pada: Jumat, 07 Sep 2018, 08:45 WIB Opini
Pemerintah dan BI yang Bekerja

MI/Panca Syurkani

NILAI tukar rupiah yang bergerak liar dalam sepekan ini mulai menunjukan tanda-tanda menjinak.

Setelah sempat melewati level psikologis di Rp15 ribu per dolar AS pada perdagangan Rabu (5/9), nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (6/9) telah menguat jadi Rp14.810 per dolar AS.  Sebuah penguatan yang disambut pro dan kontra.  

Ada yang melihat itu sebagai sebuah keberhasilan. Tapi ada juga yang menganggap itu kegagalan. Alasannya, Bank Indonesia (BI) telah mengguyur market hingga Rp11 triliun namun hasilnya segitu-gitu aja,  belum mampu membawa rupiah ke level di bawah Rp14.000.

BI dikatakan bakal rugi kalau terus-terusan mengambil tindakan seperti itu. BI bakal merugi? Eits nanti dulu. Langkah yang dilakukan BI dengan mengguyur pasokan valas ke pasar dan membeli surat berharga negara (SBN) malah membuat BI bisa meraih untung. Pasalnya, BI mengguyur pasar valas dengan nilai tukar yang dahulu diperolehnya dengan harga di bawah harga jual saat ini.  

Selain itu, langkah BI menampung SBN juga bakal menguntungkan karena membeli dengan harga diskon. Jadi jangan khawatir BI bakal merugi dengan intervensi rupiah.  

Saya tidak ingin terlalu larut dalam pro kontra yang ada di media sosial. Bagi saya, terlalu banyak noise ketimbang voice yang bisa membuat keram otak bila diikuti.

Saya lebih ingin mengatakan betapa cantiknya cara kerja pemerintah dan BI menangani masalah gonjang ganjing rupiah.

Saya senang melihatnya sebab langkah yang diambil pemerintah sangat rinci dan terukur. Upaya menekan impor dilakukan dengan cara menaikkan tarif impor terhadap barang yang bisa diproduksi di dalam negeri dan bukan dengan membatasi secara langsung seluruh barang impor.

Pemerintah juga tidak ragu mengatur ulang proyek-proyek yang berpotensi menyedot devisa besar dan bukan membatalkan proyek. Hanya waktu pelaksanaannya digeser dan itu pun bagi proyek yang belum mendapat financial close atau dukungan pendanaan.

Jadi yang dilakukan pemerintah saat ini bukan sekedar seremoni seperti zaman krisis 1998 yang saat itu pejabat bergilir menukarkan dolar milik mereka ke rupiah dengan ekspose media secara besar-besaran. Itu sih kuno. Masih zaman old dan bukan gaya milenial kalau dilakukan sekarang.

Mengapa?  Sebab saat ini, bila ke bank atau money changer, sudah banyak orang menukarkan dolar miliknya ke rupiah karena nilainya yang sangat menguntungkan.Bilapun ada yang melakukan pembelian, kebanyakan adalah karena butuh dan bukan untuk spekulasi.

Jadi ini adalah buah dari ketekunan pemerintah dan BI yang bekerja secara cermat dan terukur. Masyarakat awam lebih tenang menghadapi gonjang ganjing nilai tukar yang ada.

Sebab, sebenarnya tidak banyak yang akan berubah bagi masyarakat kebanyakan dengan dolar naik. Harga BBM bersubsidi tidak naik, tarif listrik juga tetap. Bila ada gejolak harga kebutuhan pemerintah siap merespon dengan mengguyur stok yang ada.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah the worst is over, kondisi yang terburuk telah kita lalui? Tentu saja guncangan masih akan sangat mungkin terjadi. Nilai tukar rupiah bisa saja bergerak liar kembali.  Apalagi tekanan dari global masih tinggi, suku bunga AS masih akan naik lagi dan perang dagang AS dan Tiongkok belum jelas kapan berakhir.

Tapi, dengan melihat kerja keras yang dilakukan pemerintah dan BI, hati ini bisa lebih tenang. Karena yakin bahwa ada pemerintah yang bekerja. Ada BI yang menjaga stabilitas rupiah.

Bilapun kondisi sekarang ini seperti berada dalam goa yang gelap,  tapi dengan adanya secercah sinar di ujung sana,  timbul harapan yang  akan memberi kekuatan. Follow the light and you'll find the way.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More