Seribu Kata Sepak Bola Kita

Penulis: Hariyanto Pada: Selasa, 16 Jun 2015, 00:00 WIB Spektrum
no-image.jpg

Antara/Muhammad Iqbal



A picture is worth a thousand words
. Adagium fotografi paling populer yang diungkapkan editor koran terkemuka Amerika Serikat Arthur Brisbane (1864-1936) itu menemukan maknanya pada foto utama halaman 1 Media Indonesia edisi Senin (15/6). Dalam karya fotografer Antara, Muhammad Iqbal, tersebut tercuplik adegan yang mencabik rasa. Mungkin ada yang tertawa atau sekadar mengulum senyum, tetapi saya kira banyak juga yang merasa iba.

Sebuah fakta visual yang tidak lumrah, penonton memberikan selembar uang pecahan Rp50 ribu kepada seorang pemain asing yang baru saja mencetak gol. Layaknya pentas goyang koplo penyanyi dangdut, penonton menyawer karena merasa terhibur. Pada jarak sejengkal, di pinggir lapangan, anak-anak dan orang dewasa memandanginya dengan gembira. Itulah sepenggal adegan pada laga final liga antarkampung di Lapangan Latus Jaya Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Minggu (14/7).

Di lapangan itu, pemain level nasional sekelas Titus Bonai, Nova Zaenal, Randy Siregar, David Laly, dan kiper Tema Musadat memamerkan kepiawaian mereka. Ada pula pemain impor seperti Patrice Dzeko, Charles Parker, Bissa Donald, dan Emile Mbamba. Agar suasana tambah meriah, selama pertandingan penonton juga diperdengarkan alunan musik dangdut dari sound system di pinggir lapangan.

Lantas, siapa gerangan pemain asing yang menerima saweran itu? Dialah Emile Mbamba. Jejaknya di jagat sepak bola boleh dibilang cukup cemerlang. Pemain asal Kamerun berusia 32 tahun itu pernah memperkuat timnas U-19 dan U-23 di negaranya. Pada periode 2000-2007 ia menjadi penyerang andalan klub-klub Liga Eropa seperti Vitesse Arnhem, Maccabi Tel Aviv, Maccabi Petah Tikva, dan Vitoria Setubal. Kiprah Mbamba kemudian berlanjut ke Indonesia. Sebelum  menjadi striker Persebaya, ia bermain di sejumlah klub, di antaranya Arema Malang, Bontang FC, dan Persiba Bantul.

Dari imaji adegan liga tarkam itu tergambarkan betapa kelamnya wajah sepak bola kita. Olahraga yang seharusnya menjadi cermin peradaban bangsa terpuruk kian dalam pada lorong kegelapan. Luka kian menganga. Elite PSSI, induk organisasi yang menaungi sepak bola negeri ini, lebih peduli pada kepentingan diri sendiri. Prestasi yang dinanti tak pernah diraih. Kekisruhan dengan jajaran Kemenpora dan minimnya prestasi berujung pada pembekuan PSSI oleh Menpora Imam Nahrawi. Dalam hitungan belum genap dua bulan, sanksi FIFA juga dijatuhkan.

Dampaknya, olahraga yang paling diminati di seluruh penjuru negeri ini tersebut mati suri. Beberapa klub membubarkan diri. Pemain-pemain kehilangan mata pencaharian. Rakyat kehilangan tontonan. Roda ekonomi yang terkait dengan sepak bola berhenti berputar. Akhirnya, bermain di turnamen skala kampung pun dilakoni. Selain itu bertujuan menjaga kebugaran, penghasilan didapatkan.

Keputusan membekukan PSSI dan sanksi FIFA ialah kenyataan pahit yang tak terelakkan. Hari-hari ini saatnya menata ulang sepak bola Indonesia. Penyakit kronis menahun harus segera disembuhkan meski sungguh tidak mudah dilakukan. Bila tidak, raihan prestasi hanyalah sebatas angan. Atau jangan heran jika nanti ada lagi pemain asing yang mati di negeri ini selain Diego Mendieta dan Salamon Begondou. Sepak bola pun akan terus mencoreng wajah bangsa dengan kekalahan-kekalahan memalukan.

Agar sepak bola kita tetap bergairah, menagih janji Menpora yang akan menggulirkan kompetisi setelah Ramadan merupakan keharusan. Berjalannya kompetisi profesional dan amatir, termasuk Piala Kemerdekaan, akan menghidupkan kembali denyut nadi sepak bola yang telah berhenti. Roda ekonomi pun berputar kembali. Gambar-gambar pemain dengan gurat wajah kegembiraan pun kembali menghiasi halaman-halaman koran dan tabloid, juga media daring.

Akankah epilog indah yang terjadi? Atau, kegetiran panjang yang terus menyelimuti? Biarlah PSSI dan Kemenpora yang menjawabnya. The show must go on. Fotografi jurnalistik akan terus mengabarkan, mengingatkan, dan menggerakkan dengan karya yang bermakna lebih dari seribu kata.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More