Buruknya Kualitas Udara Jakarta Jadi Evaluasi Asian Games

Penulis: Putri Anisa Yuliani Pada: Senin, 03 Sep 2018, 20:32 WIB Olahraga
Buruknya Kualitas Udara Jakarta Jadi Evaluasi Asian Games

ANTARA FOTO/Fauziyyah Sitanova

KOALISI masyarakat yang tergabung dalam Gerak Bersihkan Udara mendesak pemerintah serius benahi kualitas udara Jakarta meski Asian Games sudah usai. Pasalnya, sejumlah atlet Asian Games 2018 mengeluhkan kualitas udara di Jakarta.

Keluhan tersebut datang dari atlet yang juga juara dunia lari marathon asal Bahrain Rose Chelimo dan atlet pejalan cepat Indonesia Hendro Yap. Mereka sama-sama merasakan polusi dan kelembaban Jakarta hingga menyulitkan saat berkompetisi dalam pesta olahraga terbesar di Asia tersebut.

‘’Meski pemerintah terus menyangkal, beberapa atlet telah mengeluhkan faktor cuaca dan polusi di Jakarta. Pernyataan para atlet merupakan kritik keras bagi Indonesia sebagai tuan rumah ajang ini,” kata perwakilan koalisi yang juga Juru Kampanye Greenpeace Bondan Andriyanu dalam keterangan tertulisnya pada Senin (3/9).

Berdasarkan data Greenpeace, selama Asian Games, kualitas udara Jakarta berada pada posisi 'tidak sehat'. Konsentrasi partikel tak kasat mata atau Particular Matter (PM) 2,5 rata-rata di atas 38 µg/m³, bahkan sempat mencapai 100 µg/m³. Padahal batas aman WHO adalah 10 µg/m³.

PM 2,5 berbahaya bagi manusia apalagi bila terpapar dalam jangka panjang. Jika terhirup dan mengendap di organ pernapasan, partikel polutan ini dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut hingga kanker paru-paru.

‘’Polusi udara adalah ancaman nyata bagi masyarakat. Karena masyarakatlah yang terpapar dan harus menanggung biaya karena kesehatannya memburuk akibat polusi udara Jakarta,” tegas Bondan.

Hal senada juga dikatakan Juru Kampanye Urban dan Energi Walhi Eknas Dwi Sawung. Memperketat standar baku mutu ambien dan penambahan stasiun pemantau udara guna mengukur PM 2,5 harus jadi prioritas pemerintah.

“Apalagi ada indikasi Jakarta, bisa jadi kota penyelenggara olimpiade. Bila ini tidak dibenahi, nama baik Indonesia bisa tercoreng karena buruknya kualitas udara ini,” ujarnya.

Upaya memperbaiki polusi udara bukan hanya bisa dilakukan dengan mengatur sumber polusi bergerak seperti kendaraan bermotor. Ditegaskan Sawung, sumber pembangunan PLTU Batu Bara sebagai sumber polusi tidak bergerak juga harus dihentikan.

Apalagi PLTU Batubara merupakan sumber polusi yang paling cepat perkembangannya. Khusus Jakarta, kota ini akan menjadi ibu kota yang paling banyak dikelilingi PLTU dalam radius 100 km, sebanyak lebih dari 8 PLTU.

Sementara itu, berdasarkan data AirVisual pukul 09.00 WIB, dua kota di Indonesia yakni Jakarta dan Denpasar masuk lima besar kota dengan polusi terparah. Ini pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.

“Sekalipun penyelenggaraan Asian Games berlangsung baik, namun kita semakin sadar bahwa kita punya pekerjaan rumah dalam hal kesehatan lingkungan, yang intervensinya harus terencana dan jangka panjang. Kami harap pemerintah menggunakan momentum ini untuk menyelesaikan PR yang tertunda, misal intervensi berdasarkan airshed, inventarisasi sumber emisi dan pembuatan rencana aksi penanggulangan pencemaran udara,” ujar perwakilan koalisi lainnya, Margaretha Quina dari Indonesian Center for Environmental Law.

Gerak Bersih Udara merupakan koalisi yang terdiri dari Greenpeace, Walhi, Indonesia Center for Environmental Law (ICEL), International Institute for Sustainable Development (IISD), Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), dan Centre for Energy Research Asia (CERA).(X-10)

Berita Terkini

Read More

Poling

Minggu (17/3) digelar debat ketiga Pilpres 2019. Debat kali ini diikuti oleh Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Salahudin Uno. Debat ini akan mengangkat tema pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, dan budaya. Menurut Anda siapa yang akan unggul dalam debat kali ini?





Berita Populer

Read More