Antara Jakarta dan Siberia

Penulis: Hariyanto Pada: Selasa, 09 Jun 2015, 00:00 WIB Spektrum
no-image.jpg

MI/Haryanto




CINTA memang serupa aliran darah yang menghidupi dan menggerakkan. Ribuan kilometer hanyalah jarak dalam angka. Udara beku tak membuat tubuh kaku. Dengan cinta, jarak dan cuaca mudah ditaklukkan. Lewat cinta pula, kesempatan kerap datang di luar perkiraan.

Itulah yang dialami fotografer Media Indonesia Panca Syurkani. Mulai Kamis (11/6) pekan ini, ia mendapat kepercayaan memamerkan karyanya di Pusat Kebudayaan Rusia, Jakarta. Pameran bertajuk Pesona Musim Dingin Siberia yang menjadi manuskrip visualnya selama dua pekan menjelajahi Siberia. Karya yang semula sebagai dokumentasi pribadi itu menjadi bingkai-bingkai visual penanda peringatan Hari Nasional Rusia.

Akhir Desember lalu, kali pertama ia menjejakkan kaki di Irkutsk, salah satu kota besar di Siberia, kota yang dikenal dunia karena keindahan alamnya. Kedatangannya bukan untuk melaksanakan tugas peliputan, melainkan demi menggapai impian masa depan. Atas nama cinta, ia terbang sekitar 11 jam melintasi benua. Dari Jakarta menuju Irkutsk, Siberia, tanah kelahiran sang pujaan, Aleona Tikhonova.

Hamparan salju menyambut kehadirannya. Musim dingin menyelimuti seantero negeri. Suhu udara tembus hingga minus 23 derajat. Namun, udara beku tak menjadikannya layu. Keakraban keluarga Aleona menghangatkan jiwanya. Cuaca ekstrem tak lagi jadi penghalang. Pelancongan panjang menuju benua seberang kian menantang.

Sebagai tamu istimewa, ia diperlakukan istimewa pula. Hampir tiap hari tuan rumah mengajaknya jalan-jalan merasakan atmosfer tanah Siberia. Dari pagi hingga malam tiba.  Banyak destinasi wisata yang dikunjunginya.

Salah satunya, keindahan dan kehidupan di tepian Danau Baikal, danau air tawar terdalam di dunia (dengan kedalaman hingga 1.637 meter) yang membentang sepanjang 636 kilometer. Musim dingin belum membuat air danau berjuluk the Pearl of Siberia atau 'Mutiara Siberia' itu membeku. Namun, pepohonan hijau di pinggir danau memutih terselimuti oleh salju.

Selain itu, ia menyusuri Sungai Anggara yang membelah Irkutsk menjadi dua bagian. Di sungai aliran Danau Baikal yang airnya membeku itu warga menemukan keceriaan. Mereka bermain ski es, sepak bola, berselancar, dan melakukan aktivitas lainnya dengan penuh sukacita. Panorama indah terhampar di depan mata.

Tempat-tempat baru itu menggerakkan insting jurnalistiknya. Sebagai jurnalis foto, pantang baginya membuang peluang. Walau hanya berbekal kamera dengan lensa sudut lebar, ia tetap semangat berkarya. Di sela muhibah, saban kesempatan dipergunakan untuk mengekspresikan kesan.

Melalui mata, hati, dan kamera ia berusaha membuat catatan visual. Memotret tiap-tiap perjalanan sekaligus sebagai terapi penghangat badan. Itulah catatan personal seorang pewarta foto yang menjadi musafir di Siberia demi ekspresi cinta. Ia kemudian membagikan cerita perjalanannya ke ruang-ruang dunia maya. Mengajak mereka yang melihatnya merasakan dinginnya Siberia. Penggalan visual pengembaraan Panca di Siberia juga bisa dilihat di Media Indonesia edisi Minggu (8/2).

Apa yang dilakukan Panca menggoreskan pesan bahwa jurnalis foto harus senantiasa menyadari perannya. Selalu siap menyampaikan fakta. Saat bekerja atau tidak bekerja. Saat pacaran atau liburan bersama keluarga. Mengapa? Karena fakta layak berita ada di mana saja dan kapan saja.

Selamat berpameran. Selamat membawa para pengunjung merasakan dinginnya selimut salju dan pesona Siberia.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More