Asumsi Pertumbuhan Ekonomi 2019 Realistis

Penulis: (Pra/Cah/E-2) Pada: Senin, 20 Agu 2018, 02:30 WIB Ekonomi
Asumsi Pertumbuhan Ekonomi 2019 Realistis

Ilustrasi

DALAM pidato sidang tahunan MPR RI 2018 di DPR, (Kamis 19/8) lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan asumsi pertumbuhan ekonomi pada Rancangan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2019, diproyeksikan tumbuh 5,3%.

Menurut Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo, proyeksi tersebut sudah realistis.

Angka yang ditetapkan itu, menurut dia, lebih rendah daripada asumsi APBN 2018 yang kala itu menargetkan pertumbuhan 5,4%. Pemerintah, kata dia, memang perlu mewaspadai dinamika perekonomian global yang terjadi saat ini.

"Normalisasi kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat, masih menjadi ancaman bagi rupiah. Di sisi lain, kenaikan harga minyak dan ancaman perang dagang akan menambah beban defisit berjalan. Maka dari itu, dalam RAPBN 2019 pemerintah perlu menyusun anggaran yang mampu mendorong stabilitas rupiah dengan menjaga defisit APBN," ujar Yustinus, kemarin.

Selain asumsi pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menetapkan proyeksi nilai tukar rupiah di angka 14.400 per dolar Amerika Serikat. Nilai rupiah tersebut lebih tinggi daripada APBN 2018 sebesar 13.400. Adapun untuk inflasi, diproyeksikan 3,5%, tidak berbeda dengan target APBN 2018. Hingga Juli 2018, capaian inflasi tahunan tercatat sebesar 3,18%.

Pengamat ekonomi, Suria Dharma menyarankan Bank Indonesia sebaiknya mengantisipasi kebijakan The Fed dengan kembali menaikkan suku bunga.

"Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan selain krisis Turki, juga current account defisit (CAD) Indonesia yang mencapai 3%. Angka maksimum yang diizinkan. Akibatnya rupiah tertekan dan BI akhirnya menaikkan rate," ujarnya.

Namun, menurut Project Consultant Asian Development Bank Eric Sugandi berpendapat, dalam penyusunan RAPBN, pemerintah sudah menyusun secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global, termasuk kondisi yang tengah tidak kondusif di Turki.

"Yang perlu dipikirkan ialah bagaimana pemerintah kembali memulihkan daya beli dan konsumsi masyarakat karena konsumsi ingin digenjot di atas 5%," tuturnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More