Orang Utan Sumatra makin Terancam

Penulis: (YP/N-1) Pada: Minggu, 19 Agu 2018, 23:45 WIB Nusantara
Orang Utan Sumatra makin Terancam

AFP

HAMPIR 10% dari luas habitat orangutan di Sumatra yang tersisa terus berkurang saat ini. Perambahan dianggap sebagai ancaman terbesar bagi habitat hewan langka yang dilindungi ini.

Menurut Direktur Orangutan Information Centre (OIC) Panut Hadisiswoyo, seluas 10 ribu hektare hutan TNGL (Taman Nasional Gunung Leuser) sudah dirambah dalam 10 tahun terakhir, sedangkan di Sumatra Utara seluas 150 ribu hektare mengalami nasib serupa.

“Perambahan hutan tidak hanya dilakukan oleh masyarakat, tetapi juga oleh berbagai pemangku kewenangan terkait, termasuk aparat hukum. Dan bahkan yang terjadi selama ini, setelah hutan dirambah terbuka juga akses bagi perburuan dan perdagangan hewan yang dilindungi,” ujar Panut di kesempatan Orang Utan Festival 2018 di Medan, Minggu  (19/8).

Dia menjelaskan saat ini luas habitat orang utan yang tersisa di Sumatra tidak lebih dari 2,7 juta hektare. Jumlah itu hanya sekitar 5,6% dari luas Pulau Sumatra yang mencapai 47,3481 juta hektare.

“OIC mencatat, populasi orang utan di Sumatra tinggal sekitar 13.700 ekor. Diantaranya ada orang utan tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang hanya tersisa 800 ekor,” ucap Panut. Data itu dapat diartikan bahwa orang utan tapanuli juga terancam berada di ambang kepunahan. Karena itu, mereka juga mengajak masyarakat perkotaan ikut menjadi penjaga orang utan.

Panut menambahkan, peran masyarakat perkotaan begitu dibutuhkan karena akses dengan pemangku kebijakan lebih dekat. “Setidaknya terus­ menyuarakan orang utan yang kini tengah diambang kepunahan,” ujarnya.

Khawatirkan PLTA
Sementara itu, Ketua Forum Konservasi Orang Utan Sumatra (Fokus) Kusnadi menilai PLTA Batang Toru menjadi ancaman besar bagi kelangsungan populasi orang utan tapanuli. Karena kekhawatiran itu, pemerintah didesak meninjau ulang rencana pembangunannya.

Adapun ekosistem Batangtoru meliputi tiga kabupaten, mulai Tapanuli Selatan, Tapanuli­ Utara, sampai Tapanuli­ Tengah, dengan luas mencapai 150 ribu hektare. Mereka meyakini infrastruktur yang akan dibangun akan berdampak pada fragmentasi ekosistem sehingga orang utan tapanuli terancam.

Sebelum PLTA dibangun kawasan ekosistem Batangtoru sudah banyak terdegradasi kegiatan pertambangan dan eksplorasi geotermal. Di sisi lain, pembangunan PLTA Batangtoru berkapasitas 510 Mw di Kabupaten Tapanuli Selatan itu merupakan bagian integral dari Proyek Strategis Nasional 35 ribu Mw yang diharapkan bisa memacu akselerasi investasi Pulau Sumatra pada umumnya.(YP/N-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More