Ziarah Keberagaman di Tanah Sulawesi Utara 

Penulis: Iis Zatnika Pada: Jumat, 17 Agu 2018, 23:49 WIB Weekend
Ziarah Keberagaman di Tanah Sulawesi Utara 

MI/Panca Syurkani
Bukit Kasih di Desa Kanonang, Kabupaten Minahasa,Sulawesi Utara.

Momentum festival bunga
Festival Bunga Internasional Tomohon bisa jadi momentum utama buat menjelajahi provinsi yang berjarak tempuh sekitar 3 jam pernerbangan dari Jakarta ini. Pada 2018, festival yang menjadi perayaan keindahan Tomohon yang sejuk dan memang semarak dengan aneka bunga, baik yang dibudidayakan, hingga yang tumbuh di halaman rumah penduduk, bahkan liar itu, diadakan pada 8 hingga 10 Agustus lalu.

Usai menikmati festival yang menjagokan bunga krisan putih dan kuning Tomohon yang diklaim terbaik kualitasnya di dunia, saya menuntaskan agenda melancong religi yang destinasi utamanya juga di wilayah ini. Saya memilih untuk menikmati pelesir kali ini dengan berangkat santai saja dari Manado, menikmati pagi yang bergradasi, agak hangat di Manado namun berganti sejuk ketika perlahan melalui Jalan Raya Manado- Tomohon, sepanjang 25 km. Sejam kemudian, saya berjumpa satu per satu mobil yang dimodifikasi dengan aneka bunga disekelilingnya. 

Perempuan-perempuan Tomohon, yang tersohor karena kulitnya yang putih dan semburat merah muda di pipinya, tampak bersemangat, baik yang tampil dengan aneka gaun dan kostum  sebagai bintang yang melambai-lambaikan tangan dari atas mobil, hingga mereka yang menjadi penonton di pinggir jalan. Kontur alam dan suasana Tomohon menyerupai Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, yang jadi sentra perkebunan bunga dan sayur di Jawa Barat. 

Di kedua wilayah ini, alam tampak selalu bermurah hati, bahkan di sela rumput liar pun, perdu-perdu berbunga meriah. Bedanya, sejak 2006, Pemerintah Kota Tomohon menjadikan komoditas ini sebagai tema festival tahunan. Bunga dirayakan, dijadikan pemantik inovasi dan pengembangan industri agro, pun wisata. 

Nyatanya, 12 tahun diselenggarakan, festival itu kini diikuti Ceko, Nepal, Pakistan, Jepang, Kazakhstan, dan Georgia, pun masuk dalam Top 100 Calendar Event Pariwisata Indonesia.  Saya yang pernah meliput perhelatan festival ini pada 2007, mendapati, kini penyelenggaraan kian terorganisir. Kendaraan dibatasi 30, dengan panjang pawai, 10 kilometer, agar kualitas terjaga. Kali ini saya menjadi bagian dari 39.000 orang yang menonton, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, sebanyak 26.441, yang sebagian juga menyengaja dari luar Manado hingga luar pulau. 
 
Inspirasi Bukit Kasih 
Sebelum matahari kian tinggi, saya melanjutkan perjalanan menuju Bukit Kasih, di Desa Kanonang, Kabupaten Minahasa, yang berjarak kurang dari satu jam. Wujudnya, bukit dengan kandungan belerang yang menguarkan aroma tajam di antara hawanya yang sejuk. Ada tangga yang dibuat permanen di tengahnya, sehingga pengunjung bisa mendaki anak tangga dan menikmati panorama cadas yang dramatis. Di puncak, ada bangunan gereja Katolik, gereja Kristen, kuil, masjid, dan candi Hindu.

Ada 2.432 anak tangga yang harus dilalui sebelum mencapainya. Perjalanan yang menyita energi dan komitmen ini menjadi penanda, kedamaian harus diperjuangkan, pun menuntut pengorbanan. 

Setelah mengatur nafas, di puncak, nikmatilah sosok tugu kasih setinggi 20 meter dengan patung bumi dilingkari seekor merpati putih, lambang kasih yang menginspirasi. Lalu, plihlah salah satu lokasi tempat ibadah buat berdoa, atau bisa pula menyambangi satu persatu. 
Saya memilih menjelajah terlebih dahulu ke semua lokasi sebelum menunaikan shalat sebagai bentuk penghormatan di masjid. 

Inisiatif mendirikan lokasi wisata sarat pesan ini, menjadi relevan buat kondisi Indonesia, pun cerdas buat memikat lebih banyak wisatawan. Data pemeluk agama di Sulawesi Utara pada 2015 menunjukkan persentase yang sangat berwarna, Protestan 61,4%, Islam 31,6%, Katolik 5,81%, Hindu 0,93%, Budha 0,11%, dan Khonghucu 0,05%, menjadikan Bukit Kasih sangat relevan. Sulawesi Utara pun kemudian menyebarkan inspirasi tentang harmoni itu bagi para pelancong. Bangunan yang bersejajar, itu menjadi penanda, Indonesia penuh warna sehingga perbedaan adalah warna yang harus dirayakan.  

Berdoa di makam Imam Bonjol 
Buat menuntaskan ziarah istimewa, lokasi yang harus dituju selanjutnya adalah makam Tuanku Imam Bonjol, di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa. Pahlawan nasional asal Sumatera Barat ini menolak mengakui kekuasaan Hindia Belanda hingga dibuang ke wilayah yang berbeda kultur dan agama hingga akhirnya wafat setelah 20 tahun terasing dari kampung halamannya.

Saya menelusuri tangga hingga ke pinggir Sungai Malalayang untuk melihat sosok batu yang dipercaya sebagai lokasi sang pejuang menunaikan shalat. Lagi-lagi, saya shalat di musola di sana, dan menunaikan doa buat pahlawan Perang Padri yang berlangsung pada 1803-1838 itu.   

Di sekitar kawasan ini, seperti juga di wilayah Sulawesi Utara, gereja katolik silih berganti terlihat, sesekali ada pula gereja protestan. Dan kehadiran sebuah musola yang damai dan bersih, menjadi aksen yang menyenangkan. 

Warna-warni mi cakalang 
Ketika senja mulai merayap, ziarah istimewa saya di Sulawesi Utara nyaris mencapai penghujung. Namun, rekomendasi seorang kawan mmebuat saya memutuskan mampir ke dulu ke kawasan warung-warung bersahaja di kawasan Boulevard, Jalan Piere Tendean, Manado, sebelum menuju hotel yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari sana. 

Tak terasa, sambil mengamati lincahnya ibu berkerudung penjaga warung menggoreng, lima potong pisang goreng tandas saya kunyah. Tingkat kematangannya sempurna, manis namun tak lembek, dicocol dalam sambal pedas nan merah. Sambil mengantar mi cakalang dengan kuah beraroma ikan segar yang agak kental, kisah yang memvalidasi bahwa warna-warni di Manado itu menjadi berkah, dilontarkan sang ibu. 

Katanya, tak perlu risau mencari makanan halal di sini, pun tidak perlu ragu bertanya jika ragu saat memasuki tempat makan tertentu. Tanya saja, karena di sini, hampir semua dari mereka, punya saudara, tetangga bahkan adik atau kakak yang berbeda keyakinan.

Soekarno mengamati pelangi 
Esok harinya, saat menuju bandara Sam Ratulangi untuk perjalanan pulang, saya mampir buat berfoto di Jembatan Soekarno buat mengambil pemandangan Kampung Pelangi Kampung Sindulang. Kontras biru, merah, kuning dan hijau itu, yang terlihat dari jembatan yang namanya diambil dari sang pendiri negara, memvalidasi, alasan buat pelesir di Sulawesi Utara kini bertambah. Ikhtiaruntuk terus berinovasi, telah berbuah destinasi yang menyebarkan inspirasi harmoni dan pengalaman ziarah nan istimewa, yang berlaku buat semua umat Tuhan. (M-1)   

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More