Menghidupkan kembali Didi Petet

Penulis: (*/M-4) Pada: Sabtu, 18 Agu 2018, 03:00 WIB Humaniora
Menghidupkan kembali Didi Petet

Dok MI

INDONESIA kehilangan salah satu aktor hebatnya ketika Didi Widiatmoko atau lebih dikenal dengan Didi Petet meninggal dunia pada 15 Mei 2015. Hal itu juga menyisakan kepedihan bagi para penggemar maupun grup pantomime Sena Didi Mime (SDM), grup yang dibangunnya bersama Sena Utoya.

Yayu Unru, salah satu murid Didi Petet yang sudah mengikutinya selama 34 tahun termasuk salah satunya yang merasa kehilangan. Ia mengaku sangat terpukul dengan kepergian Didi. Kesedihannya itu dituangkan Yayu dalam sebuah puisi tentang bagaimana rasanya mati. Pertanyaan yang secara khusus ditujukan kepada Didi.

Selain Yayu, rasa kehilangan juga terselip dalam benak aktris dan penulis skenario Titiek Maliyati. Di awal kemunculannya, Didi menarik perhatian Titiek. Karena kedekatan keduanya, Titiek dikenal sebagai ibunya para aktor sekaligus guru buat Didi Petet.

"Saat tes improvisasi, dia (Didi Petet) bersama seorang peserta lain bernama Sena Utoyo, adegan mereka sungguh mengejutkan, terlihat hidup. Mengisyaratkan adanya pengalaman berkesenian yang sudah mereka miliki. Hal ini tentunya sangat membantu mereka dalam menempuh perkuliahan dan kreativitas di luar kampus," beber Titiek dalam prolog yang ada dalam buku berjudul Buku Aktingnya Didi Petet.

Buku yang dirilis awal Agustus 2018 itu ditulis Amato Assagaf yang didapatnya dari hasil wawancara langsung dengan Didi. Proses wawancara sebenarnya telah dimulai sejak 13 tahun yang lalu, tetapi urung rampung karena masih banyak kekeliruan yang dirasakan Amato mengenai bentuk dari buku yang akan ia buat.

Awalnya, Amato ingin menulis seluruh ajaran Didi ke dalam satu buah buku saja. Rupanya hal itu merupakan perkara yang sulit. "Dalam persepsi penulis, buku ini adalah sebuah langkah kecil namun merupakan upaya yang besar untuk menyalurkan ajaran mas Didi kepada semua orang," ungkap penulis kelahiran Manado, Sulawesi Utara itu.

Setelah dirasa cukup, akhirnya pada tahun ini, buku setebal 246 halaman itu pun bisa dirilis ke publik. Buku ini berisi paduan cara berakting Didi Petet yang dapat digunakan para calon aktor sebagai buku manual mereka dalam hal mengerti dan belajar akting.

Tak hanya itu, buku ini juga mempunyai filosofi dan pemikiran yang sangat mendalam dari seorang Didi Petet. Salah satu petuahnya ialah akting itu bukan berpura-pura. Akting akan begitu indah jika dibiarkan mengalir dan menjadikan peran hidup dalam tubuhnya.

Meski membahas hal serius, penempatan banyak ilustrasi dan penuturan kata secara sederhana dari penulisnya akan membuatnya mudah dan tak bosan menyelami isinya.

Berita Terkini

Read More

Poling

MENTERI Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan berdasarkan pembicaraan dengan Google, raksasa internet itu akan berhenti menerima iklan politik jelang Pilpres 2019. Ini merupakan kebijakan pihak Google untuk tidak terlibat dalam ranah politik. Bagaimana menurut Anda kebijakan Google ini?





Berita Populer

Read More