Dari Desa Menuju Dunia

Penulis: rul/S1-25 Pada: Kamis, 16 Agu 2018, 09:50 WIB Olahraga
Dari Desa Menuju Dunia

Dok. Kemenpora

MASA depan olahraga Indonesia berada di pundak Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) selaku penanggung jawab prestasi. Demi menghasilkan cikalbakal tim nasional (timnas) Indonesia yang berbakat, Kemenpora berinisiatif untuk mulai mencari bibit-bibit usia muda melalui kejuaraan tingkat provinsi, salah satunya ialah melalui ajang
Gala Desa.

Menteri Pemuda dan Olahraga mengatakan, momentum Gala Desa diharapkan menjadi bagian strategis dari pencarian bakat dan talenta muda yang dimiliki negeri ini. Menteri asal Bangkalan, Madura tersebut melanjutkan, dari kompetisi tingkat desa diharapkan dapat melahirkan atlet-atlet berbakat yang kelak dapat mengharumkan nama bangsa di mata dunia.

“Ini menjadi salah satu tujuan kami untuk membawa ke arah mana olahraga Indonesia, kita ingin membawa olahraga kita ke tingkat dunia. Saya baru susun kemarin itu buku Gala Desa dengan tema Dari desa untuk dunia, saya contohkan Lalu Muhammad Zohri, dia berasal dari Lombok, Nusa Tenggara Barat, tetapi dia bisa menjadi juara dunia di tingkat junior, ini membuktikan peluang kita untuk berprestasi itu ada, asal kita saling merangkul dan saling support satu sama lain,” jelas Imam saat dijumpai Media Indonesia di Kantor Kemenpora, Jakarta.

Gala Desa menjadi program unggulan Kemenpora dalam rangka mencari calon-calon atlet masa depan. Gala Desa 2018 dimulai di Provinsi Gorontalo pada 11 Agustus sebelum dilaksanakan di 136 kabupaten/kota dari 34 provinsi di Indonesia. Sebanyak enam cabang olahraga (cabor) akan dipertandingkan, seperti bola voli, sepak bola, tenis meja, sepak takraw, atletik, dan bulu tangkis.

Imam menegaskan, Gala Desa merupakan hal yang penting dalam menjaring bibit-bibit masa depan Indonesia. Karena itu, Imam mengharapkan, partisipasi dan dukungan yang besar dari masyarakat desa, keluarga, dan semua pihak.

“Banyak anak-anak di desa, di kampung yang punya harapan besar ingin menjadi atlet, ingin menjadi orang yang mengibarkan bendera Merah Putih, tetapi wahana mereka untuk berpartisipasi tentu tidak seluas yang dialami temanteman di kota. Karenanya Gala Desa ini menjadi hal yang paling penting, menjadi pondasi penting untuk melahirkan bibit-bibit masa depan Indonesia,” tandasnya.

Untuk menghasilkan atlet-atlet kelas dunia tentu harus dimulai dari pembinaan usia muda. Sayangnya, hingga saat ini, kompetisi yang berjenjang di usia muda tidak merata di
seluruh cabor.

“Ini yang perlu saya sampaikan bahwa pimpinan cabor seharusnya jangan hanya melihat kejuaraan nasional sebagai sebuah kegiatan mercusuar, tetapi harus dimulai betul dengan kompetisi di seluruh kelompok usia agar mereka bisa tertanam suasana berkompetisi, bertanding, bertemu dengan sahabatsahabat yang lain,” cetus Imam.

“Kalau soal dana yakinkan dunia usaha, BUMN, BUMD, siapa pun pasti dengan kepercayaan yang tinggi akan ada banyak orang yang akan membantu,” ujarnya. Sebelumnya, keberhasilan pergelaran Gala Desa satu tahun yang lalu digambarkan dalam sebuah buku bertajuk Olahraga Desa Menuju Dunia-Lebihi Ekspektasi di Gelaran Perdana yang diluncurkan Kemenpora pada Selasa (7/8). Dalam mendukung kesuksesan penyelenggaraan Gala Desa di tahun ini dan tahuntahun berikutnya, Imam mengaku siap menaikkan anggaran Gala Desa sebesar Rp40 miliar.

Pergelaran Gala Desa 2018 di Gorontalo Utara sudah dimulai pada Jumat (11/8). Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Gorontalo Utara Hartono Jusuf mengungkapkan, Kecamatan Sumalata akan menjadi tuan rumah pergelaran sepak takraw.

“Beberapa atlet timnas Indonesia untuk sepak takraw Asian Games 2018 berasal dari Sumalata sehingga kami memutuskan Sumalata menjadi tuan rumah. Kalau bola voli
digelar di Kecamatan Atinggola yang berbatasan dengan Sulawesi Utara,” pungkasnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More