Maraknya Kasus Pembunuhan Membuat Pengungsi Rohingya Tertekan

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Jumat, 17 Agu 2018, 19:44 WIB Internasional
Maraknya Kasus Pembunuhan Membuat Pengungsi Rohingya Tertekan

AFP/Munir UZ ZAMAN

PENGUNGSI Rohingya di perbatasan Bangladesh-Myanmar dihantui rasa takut. Sebab, mereka khawatir dengan maraknya kasus pembunuhan misterius yang terjadi di kamp-kamp pengungsian.

Petugas kepolisan yang jumlahnya tak lebih dari 1.000 personel, bahkan kewalahan untuk melindungi hampir 1 juta pengungsi yang dirundung trauma. Serangkaian kasus pembunuhan yang terjadi belakangan ini kemudian mendorong otoritas setempat untuk menggandakan kekuatan pengamanan.

Diketahui sebanyak 3 pemimpin yang dihormati di kalangan pengungsi Rohingnya, menjadi korban dari sederetan kasus pembunuhan. Pihak kepolisian menduga aksi keji tersebut dilatarbelakangi perebutan kekuasaan antara kalangan pengungsi Rohingya dan pengungsi di wilayah kumuh sekitar Cox's Bazar.

Salah satu korban, yakni Arifullah, ditemukan tewas di tepi jalan dengan 25 luka tusukan pada Juni lalu. Selang beberapa hari kemudian, dua orang pengungsi di Cox's Bazar diketahui menjadi korban pembunuh bertopeng. Kepolisian di distrik Cox's Bazar kini tengah menyelidiki 21 kasus pembunuhan pengungsi yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Banyak pengungsi di Kutupalong, sebuah kamp pengungsi terbesar di dunia, memandang aksi kekerasan yang tidak terkendali menjadikan kalangan pengungsi Rohingya di bawah belas kasihan para penjahat.

"Begitu beberapa anggota geng masuk ke kamp, kami memanggil polisi. Namun petugas kepolisian hanya datang setelah para penjahat hilang," ucap Runa Akter, yang belum lama kehilangan ayah dan pamannya.

Dengan suara bergetar, kepada AFP dia mengungkapkan ketakutannya akan ancaman penculikan dan pembunuhan. Remaja itu pun tak ingin kehilangan anggota keluarga yang lain.

Lebih dari 700 ribu orang Rohingya di Rakhine yang didominasi agama Muslim, terpaksa mengungsi ke perbatasan Bangladesh sejak mencuatnya kekerasan oleh tentara Myanmar. Berdasarkan pengamatan polisi, sejumlah penjahat sudah lama mengintai kamp pengungsian Rohingnya.

Pengungsi yang terlibat dalam jaringan narkoba dan perdagangan manusia di Bangladesh, bahkan tega menjual remaja perempuan Rohingnya demi mempertebal pundi-pundi. Anehnya salah satu penyelidik, SM Atiq Ullah, mengatakan belum ada tersangka yang terindentifikasi sejauh ini.

Dalam kunjungannya baru-baru ini, wartawan AFP sempat melihat satu unit polisi bersenjata dan tongkat patroli di sebuah kamp lokasi dua orang pengungsi yang ditemukan tewas.

Seorang pemimpin komunitas yang meminta namanya dirahasiakan mengungkapkan tidak ada satu pun petugas kepolisian yang berjaga pada tengah malam. Pun pada siang hari, mereka lebih memilih memantau dari pos jaga. Selain itu, minimnya petugas kepolisian yang mampu berbahasa Rohingya turut menghambat penyelidikan.

"Rasa takut membuat pengungsi Rohingya tutup mulut. Itulah mengapa orang Rohingya sulit maju. Karena mereka ketakutan. Jika di kota anda berkeliaran penjahat, perampok atau teroris, tentu anda akan takut," cetus Afruzul Haque Tutul, seorang polisi senior yang bertugas sebagai Deputy Chief of Cox's Bazar hingga pertengahan Agustus ini.

Kendati demikian, bantuan lampu sorot untuk meningkatkan aspek keamanan terus bergulir di kamp pengungsian. Terutama di area yang banyak dihuni perempuan. Pun, pos pemeriksaan polisi rencananya akan ditambah di daerah kumuh yang relatif rawan.

Akan tetapi, Mohibullah, pemimpin pengungsi Rohingya yang cukup berpengaruh, menilai pengawasan seperti ghetto malah membuat aksi kejahatan tidak dapat dielakkan. "Ini sangat buruk, tapi kami pikir ya kehidupan pengungsi memang seperti ini," tukasnya.(AFP/OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

BEBERAPA waktu lalu, nama Bung Hatta kembali ramai dibicarakan publik. Berawal dari pernyataan Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto, Dahnil Anzar, di sebuah video yang mengatakan kalau cawapresnya, Sandiaga Uno adalah sosok baru dari Bung Hatta. Hal itu langsung menuai keberatan dari cucu Bung Hatta, Gustika Jusuf Hatta. Sebelumnya, kubu Prabowo-Sandiaga juga sempat menyandingkan nama pahlawan seperti Cut Nyak Dien dan Kartini dengan Ratna Sarumpaet dan Neno Warisman. Setujukah Anda apabila pahlawan dijadikan komoditas politik guna meraih simpati masyarakat?





Berita Populer

Read More