Berbenah Layanan di Era Digital

Penulis: (Mut/S2-25) Pada: Kamis, 16 Agu 2018, 09:00 WIB Advertorial
Berbenah Layanan di Era Digital

PERKEMBANGAN teknologi di era digital semakin pesat. Demi mengimbangi tren kemajuan tersebut, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) pun menciptakan inovasi dalam bentuk transformasi atau perubahan layanan ke arah digital.

Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Ofy Sofiana mengatakan, sejak diresmikan pada 14 September 2016 oleh Presiden Joko Widodo, Perpusnas hingga kini telah mengembangkan empat jenis layanan berbasis digital.
Pertama, Indonesia One Search (IOS) atau layanan digital berbasis kerja sama. Dalam artian, di mana seluruh perpustakaan di Indonesia dapat bergabung di IOS dan menikmati layanan yang dapat diakses perpustakaan lain yang juga sudah tergabung dalam dalam platform tersebut.

“Antara perpustakaan di Papua dan Makassar, misalnya, itu bisa saling mengakses. Jadi basisnya adalah kerja sama antarperpustakaan tapi yang basisnya online sehingga sama-sama bisa mengakses buku digital,” ujarnya saat berbincang dengan Media Indonesia di Jakarta, Kamis (9/8).

Menurut Ofy, dari total 1.200 perpustakaan yang tergabung dalam IOS, mayoritas didominasi perpustakaan umum dan perpustakaan perguruan tinggi dengan jumlah koleksi mencapai 5,6 juta. Adapun perpustakaan sekolah baru sekitar 20%.

Transformasi berikut ialah iPusnas. iIPusnas adalah buku digital yang mudah diakses menggunakan ponsel pintar (smartphone). Tidak kurang dari 200 ribu judul dari berbagai buku sudah diakses oleh sekitar 500 sampai 600 ribu orang. Mulai buku anak-anak hingga dewasa dari berbagai bidang ilmu tersedia dan dapat diakses melalui iPusnas. Peraturan peminjamannya pun hampir sama dengan peminjaman manual, yakni pemustaka diperbolehkan mengakses buku yang ingin dibaca dalam kurun waktu tiga hari.

“Antrean peminjamannya saja mungkin yang cukup panjang. Tapi jangan khawatir karena kita sudah tambah volume, yang tadinya satu buku hanya 10 yang tersedia, sekarang untuk peminjaman 14 sampai 15 pun bisa,” ucap Ofy.

Ia pun menegaskan, upaya tersebut dilakukan agat dapat lebih mendekatkan buku kepada masyarakat. Dengan begitu, mereka yang tidak dapat datang langsung ke Perpusnas untuk membaca atau meminjam buku cetak, dapat mengakses versi digital.

“Sejauh ini yang terdeteksi hanya jumlah pemustaka saja, sedangkan kalau dilihat dari kategori buku yang dipinjam paling banyak adalah buku-buku umum,” imbuhnya.

Perpusnas juga berusaha mengakomodasi kebutuhan mahasiswa untuk dapat memperoleh e-journal dan e-book. Melalui pemusatan e-resources, Perpusnas telah melanggan sekitar 2 miliaran judul e-journal dan 20 ribu judul e-book.

E-resources merupakan bentuk transformasi layanan digital ketiga yang dikembangkan berdasarkan arahan Presiden Jokowi saat peresmian gedung Perpusnas. Baik e-journal maupun e-book diharapkan dapat membantu mahasiswa perguruan tinggi mencari referensi dengan terbitan paling mutakhir.

“Kesulitan perguruan tinggi selama ini, yang dilanggan oleh perguruan tinggi itu hanya bisa diakses oleh perguruan tinggi yang bersangkutan saja. Kalau di Perpusnas kan siapa pun bisa mengakses cukup dengan menjadi anggota Perpusnas dan itu gratis,” jelasnya.
Keempat, keanggotaan online. Cukup mendaftar melalui website www.perpusnas.go.id. Tinggal klik keanggotaan baru, calon pemustaka akan mendapatkan nomor anggota dan password untuk membuka seluruh koleksi yang ada.

“Untuk anggota sekarang sudah sekitar 5 juta dengan yang di Salemba. Hanya mungkin yang dulu sudah terdaftar sebagai anggota di Salemba perlu meng-update data-data di sini (Perpusnas Merdeka Selatan),” tuturnya.

Di samping empat transformasi layanan digital, Perpusnas pun menyediakan sekitar 60 portal digital, seperti portal kepresidenan, Batavia, tokoh perfilman dan candi. Di dalamnya juga tersedia naskah-naskah warisan budaya bangsa yang sudah didigitalkan.
“Ada sekitar 12 ribu dari total 33 ribu naskah yang tersebar di Indonesia. Memang belum semua, tapi untuk naskah yang masuk dalam memori ingatan dunia UNESCO sudah didigitalkan,” katanya dia. (Mut/S2-25)

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More