Dihambat, Industri Bir Tetap Tumbuh

Penulis: Andhika Prasetyo Pada: Senin, 13 Agu 2018, 12:34 WIB Ekonomi
Dihambat, Industri Bir Tetap Tumbuh

wikipedia

INDUSTRI makanan dan minuman memiliki potensi pertumbuhan yang sangat besar karena didorong sumber daya alam yang melimpah dan permintaan yang terus meningkat, tidak terkecuali untuk segmen minuman beralkohol.

Pada 2017, sektor minuman beralkohol menyumbang penerimaan negara dari pita cukai hingga Rp5,2 triliun. Adapun, untuk kinerja ekspor, angkanya mencapai US$7,6 juta.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal (Dirjen) Agro Kementerian Perindustrian Ahmad Sigit Dwi Wahyono mengungkapkan ekspor bir naik rata-rata 12% per tahun.

Hal itu terjadi ditopang begitu pesatnya industri pariwisata Tanah Air yang secara tidak langsung memperkenalkan minuman beralkohol Indonesia kepada turis-turis mancanegara.

Mengingat besarnya potensi yang ada, Achmad mengatakan pemerintah terus berupaya meningkatkan kinerja di masa mendatang. Walaupun, tentu saja, dengan mengikuti aturan dan kaidah yang berlaku di dalam negeri.

Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka memutuskan untuk mempertahankan industri minuman beralkohol sebagai bidang usaha yang tertutup untuk investasi baru. Tidak hanya untuk investasi asing, melainkan juga untuk investasi baru dari pengusaha domestik.

Kendati demikian, pemerintah tidak melarang perusahaan bir existing untuk meluaskan ekspansi pabrik.

Regulasi itu, lanjut Achmad, tentunya menjadi batu hambatan bagi industi minuman beralkohol Tanah Air. Namun, ia berpendapat produk-produk Indonesia bisa terus meningkatkan daya saing dan berkompetisi dengan produsen-produsen dari negara lain dengan menerapkan industri 4.0 seperti penggunaan robotik dalam proses produksi.

"Sebagaimana tuntutan moral dari masyarakat, di Indonesia, industri ini tertutup untuk investasi, yang diperbolehkan hanya perluasan. Tetapi Kemenperin mencoba mendorong dengan menerapkan industri 4.0. Pemanfaatan teknologi diharapkan dapat meningkatkan daya saing baik dari aspek kapasitas maupun kualitas," ujar Achmad di Tangerang, Senin (13/8).

Hal itu pun kini dilakukan berbagai produsen bir dalam negeri, tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk tumbuh besar dan melebarkan sayap dengan mengekspor produk-produk ke luar negeri.

Salah satunya adalah PT Multi Bintang Indonesia yang dalam delapan bulan pertama di 2018 telah mengirim produk Bir Bintang ke Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS).

Korsel dan AS merupakan dua negara nontradisional yang baru pertama kali membuka pasar bir dari Indonesia.

Pencapaian itu tentu menjadi pertanda bahwa kualitas minuman beralkohol asal Indonesia sudah sangat bagus karena mampu memproduksi bir premium. Di samping dapat menggantikan bir-bir impor, produk tersebut juga kini mampu memenuhi pasar dunia.

"Industi mamin akan terus kami dorong untuk tumbuh. Pada 2017, kontribusi mamin untuk PDB mencapai 35,4%. Sementara pada triwulan pertama tahun ini, pertumbuhan industri mamin sudah 12,7%," jelasnya. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More