Lira Turki Melemah, Indonesia Waspada

Penulis: Fetry Wuryasti Pada: Senin, 13 Agu 2018, 11:29 WIB Ekonomi
Lira Turki Melemah, Indonesia Waspada

Yasser Al-Zayyat / AFP

MATA uang Turki, lira, masih terus tertekan. Kabar terkini, US$1 sudah setara 5,8 lira. Padahal, pada Januari kemarin, dolar masih berada di kisaran 3,7 lira.

Nilai tukar rupiah dibuka di posisi Rp14.439 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pasar spot hari ini, Senin (13/8). Posisi ini memguat 39 poin atau 0,26% dari penutupan akhir pekan kemarin, Jumat (10/8) di Rp14.478 per dolar AS.

Namun, kurang dari sejam dibuka, rupiah langsung anjlok ke Rp14.602 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB.

Rupiah terpantau pada pukul 11.11 JATS  telah melemah 0,89% di level 14.615 per dolar AS.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan selalu ada berbagai faktor yang bisa saling mempengaruhi . Pada minggu terakhir ini faktor pelemahan mata uang Lira Turki menjadi sangat menonjol secara global .

"Dari sisi magnitudenya tidak hanya terjadi dinamika di Turki, tapi juga karena dari nature persoalannya yang menunjukkan persoalan yang sangat serius dari mulai nilai tukar mata uang juga  pengaruh kepada ekonomi domestik dan terutama dimensi quality dari security di sana," ujar Sri Mulyani usai acara "Convention and Innovation in the Disruption Era" di Jakarta, Senin (13/8).

Untuk Indonesia, di minggu ini sebetulnya berita baik berasal dari pertumbuhan  ekonomi triwulan II yang tumbuh 5,27% dan didorong konsumsi. Meski demikan pemerintah tetap menekankan investasi dan ekspor perlu dipacu.

Sedangkan neraca transaksi berjalan CAD mengalami peningkatan menjadi 3%. Sri Mulyani mengatakan angka ini masih lebih rendah dibandingkan situasi taper tantrum tahun 2015, yang membuat CAD menjadi di atas 4%.

Namun ditekankan Sri Mulyani,pemerintah harus tetap hati-hati karena lingkungan perekonomian kini jauh berbeda dengan 2015. Pada 2015 quantitative easing masih terjadi dan kenaikan suku bunga masih belum dilakukan.

Kini di 2018,  suku bunga sudah naik secara global dan quantitavie easing sudah mulai dikurangi. Ini yang menyebabkan tekanan menjadi lebih kuat terhadap berbagai mata uang di dunia.

"Kita akan terus wasapada dan melakukan exercise bagaimana kalau kondisi global menimbulkan dinamika yang lebih tinggi lagi. Itu yang terus kami siapkan," tukas Sri Mulyani. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More