Bangun Kesadaran Mengelola Sampah lewat Gerakan Masyarakat

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Senin, 13 Agu 2018, 07:00 WIB Humaniora
Bangun Kesadaran Mengelola Sampah lewat Gerakan Masyarakat

Dede Sudiana

PERTUMBUHAN penduduk turut berkontribusi dalam meningkatkan jumlah timbunan sampah di masyarakat. Pada tahun lalu, timbunan sampah Indonesia sebesar 65,8 juta ton. Jumlah tersebut diprediksi terus bertambah seiring dengan laju pertumbuhan penduduk tiap tahun.

Melalui Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Rumah Tangga, pemerintah menargetkan Indonesia terbebas dari sampah pada 2025 dengan strategi pengurangan dan penanganan sampah.

Penanganan sampah, terutama sejak dari sumbernya, menjadi salah satu langkah penting dengan porsi 70% dari keseluruhan strategi pengelolaan sampah. Dengan porsi terbesar itu, pemerintah seharusnya tidak sendiri dalam menangani makin meningginya timbunan sampah.

Peran serta masyarakat pun perlu didorong dalam penanganan sampah. Soalnya, salah satu pola yang ditargetkan pemerintah dalam penanganan sampah ialah mengurangi sampah sejak dari sumbernya. Hal itu turut mendorong lahirnya bank sampah di masyarakat.

Penanganan sampah menjadi krusial, mengingat beberapa jenis timbunan sampah tidak dapat terurai dengan cepat. Salah satunya ialah sampah plastik, yang butuh waktu ratusan tahun untuk terurai. Padahal, saat masih digunakan, plastik merupakan barang yang masa pakainya tidak lama.

Direktur Pengelolaan Sampah Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Novrizal Tahar, mengatakan, sampah plastik punya daya rusak dan pola pencemaran yang menakutkan terhadap tanah, air , dan laut. "Di area perkotaan, timbunan sampah plastik sudah mencapai 17% saat ini. Jika tidak dikelola, timbunan sampah plastik bisa mencapai 30% dari total timbunan sampah di perkotaan pada 2030. Persoalan sampah plastik kini mencapai taraf yang memprihatinkan," kata Novrizal.

Karena itu, ia menyambut baik gerakan masyarakat untuk mengelola sampah sejak dari sumbernya. Dirjen PSLB3 KLHK Rosa Vivien Ratnawati, menyebutkan, pihaknya sedang menggodok aturan terkait dengan gerakan masyarakat untuk mengelola sampah tersebut.

"Kami sekarang sedang merancang peraturan menteri tentang gerakan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pendekatan yang kami gunakan bisa secara sosial dan bantuan sarana dan prasarana, tapi bukan ditujukan kepada pemerintah daerah, lebih kepada gerakan masyarakat seperti tempat sampah terpilah dan lainnya," ujar Vivien.

 

Upaya sendiri

Salah satu gerakan di tingkat akar rumput yang sudah dilakukan ialah Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bakti Bumi, yang pertama kali lahir di Sidoarjo, Jawa Timur, melalui gagasan Gunawan Wibisono atau yang karib disapa Wawan tersebut. Bahkan, Bakti Bumi kini telah memiliki mesin pencacah sampah sendiri.

Wawan mengatakan, mesin tersebut dibelinya dengan modal sendiri. Bakti Bumi yang mulai beroperasi sejak 2013, kini menjadi salah satu contoh dalam pengelolaan sampah terpadu yang sukses, ke depan ia akan terus mengembangkan TPST di daerah lain.

"Sejak 3 tahun terakhir ini, berdasarkan surat Dinas Lingkungan Hidup, Bakti Bumi menjadi TPST yang mengelola skala kawasan atau minimal setara dengan satu kecamatan," kata Wawan.

Keberhasilan Bakti Bumi dalam mengelola sampah, selain mendapat acungan jempol pemda, juga berbuah uluran tangan dari pihak swasta. Sejak Februari lalu, Bakti Bumi telah bekerja sama dengan PT Unilever untuk mengumpulkan kemasan bekas periodik, sebagai bagian dari komitmen perusahaan tersebut menarik kemasan yang sudah tidak terpakai.

Pola kerja sama itu, menurut Wawan, melibatkan pihak ketiga yang akan mengumpulkan kemasan bekas produk Unilever dari Bakti Bumi untuk diserahkan kembali kepada perusahaan tersebut. Saat ini, sekitar 90 ton kemasan bekas produk Unilever, telah mampu dikumpulkan Bakti Bumi dalam tempo satu bulan.

"Itu bertahap karena yang diminta Unilever itu 3 ton setiap hari. Bulan pertama hanya dapat 20 ton, kemudian digenjot lagi sampai akhirnya 90 ton, tapi angka itu sempat menurun saat Ramadan kemarin karena pihak ketiga libur. Makanya, kami bilang kepada Unilever untuk menyiapkan tempat saja, biar kami taruh di sana," ujarnya.

Kerja sama masyarakat dengan pihak swasta dalam pengelolaan sampah juga ditunjukkan oleh produsen wadah plastik Twin Tulipware, yang bulan lalu meluncurkan program Kumpul Tukar Tebus (KTT), bekerja sama dengan Bank Sampah Induk Cimahi (Samici).

KTT merupakan program yang digagas oleh Kepala Cabang Cimahi Twin Tulipware, Yussy Vendriani. Program tersebut bertujuan mengubah perilaku masyarakat untuk lebih peduli terhadap sampah yang dihasilkan. Sampah yang diterima dalam program ini ialah kemasan PET, plastik kresek, dan kemasan botol minuman plastik.

"Kami terjun langsung ke unit sampai dengan RW dan dari mereka memang ada komitmen untuk tidak menggunakan kemasan sekali pakai, tapi keluhannya memang soal harga. Jadi, saya minta ke kantor pusat untuk bisa diikutkan dalam program subsidi. Setelah itu, sisanya ditebus dengan sampah," kata Yussy.

Tulipware sejak 18 tahun lalu didirikan, menurut Yussy, sudah melakukan upaya peduli sampah plastik lewat program Tulip Peduli yang terdiri atas tiga kegiatan utama. Pertama, Tulip Japri atau kunjungan pabrik untuk mengedukasi masyarakat soal pengenalan plastik ramah lingkungan.

Kedua, Tulip Mengajar, berupa kegiatan berkunjung ke sekolah untuk menumbuhkan perilaku penanganan sampah, terutama kemasan plastik sekali pakai. Ketiga, subsidi yang fokus pada pemberian potongan harga hingga 50% di suatu event atau kegiatan massa yang menerapkan kebijakan pengelolaan sampah.

Tulipware juga punya kegiatan menarik kemasan yang sudah tidak dapat digunakan kembali. Program itu bahkan sudah diperluas hingga bukan kemasan merek Tulipware saja yang diterima, tapi produk merek lain yang sejenis.

"Untuk sampah plastik wadah yang kami tarik untuk merek kami sendiri, rata-rata setiap bulan kalau diakumulasikan setahun mencapai 0,5 ton dengan rata-rata per bulan sekitar 50 kg. Nah, kalau kampanye tahunan kami untuk menarik semua merek tahun ini data Mei kemarin 2 ton hanya wilayah Cimahi dan Bandung sekitarnya, yang memungkinkan kami tarik ke Samici. Pada tahun sebelumnya untuk seluruh Indonesia, data kita 5-6 ton per tahun," ujar Yussy.

Teknologi

Kolaborasi lebih luas antara pihak swasta dan BUMN juga dilakukan dalam menciptakan ekosistem pintar pengelolaan sampah. Hal itu ditunjukkan oleh Danone-Aqua bersama Telkomsel, Alfamart, dan Smash yang meluncurkan Smart Drop Box atau tempat sampah pintar yang dilengkapi sistem pemindai barcode botol plastik.

Tempat sampah pintar, yang awalnya akan diperkenalkan di arena pertandingan Asian Games 2018 Jakarta-Palembang itu, nanti diaplikasikan di gerai Alfamart di Jakarta dan Tangerang sepanjang tahun ini. Smart Drop Box akan terhubung dengan aplikasi Mysmash, yang membantu mencatatkan jumlah botol plastik yang terkumpul. Botol plastik bekas itu dapat ditukar dengan produk uang elektronik telkomsel T-Cash.   (S4-25)

 

 

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More