Jalan Start-up Meraih Unicorn

Penulis: Ghani Nurcahyadi Pada: Senin, 13 Agu 2018, 06:10 WIB Ekonomi
Jalan Start-up Meraih Unicorn

ANTARA/BASRI MARZUKI

EKSPANSI dulu, untung kemudian. Ini menjadi salah satu ciri khas konsep pertumbuhan bisnis dari perusahaan rintisan alias start-up. Tidak mirip bisnis konvensional yang melulu mengejar profit, tren yang berkembang bagi start-up, yaitu merugi sambil mengejar valuasi.

Indonesia saat ini memiliki empat start-up berlevel unicorn alias memiliki valuasi lebih dari US$1 miliar atau Rp13 triliun. Unicorn tersebut terbagi dalam tiga jenis industri, yaitu Go-Jek yang merajai sektor transportasi, Tokopedia dan Bukalapak di marketplace, serta Traveloka yang memanjakan masyarakat berhobi pelesir.

Ari Adil sebagai independent wealth management advisor mengamati fenomena masuknya dana fantastis dari asing pada start-up Indonesia itu. Go-Jek mendapat pendanaan senilai US$550 juta dari konsorsium 8 investor yang digawangi Sequoia Capital dan Warburg.

pada 2016 serta US$1,2 miliar dari Tencent Holding dan JD.com pada 2017.

Begitu pun Tokopedia memperoleh pendanaan senilai US$1,347 miliar. Investasi terbesar datang dari Alibaba pada 2017 dengan angka US$1,1 miliar. Di sisi lain, Traveloka menarik perhatian Expedia, layanan sejenis yang populer di luar negeri sehingga mengucurkan dana senilai US$350 juta pada 2017. Tambahan modal segar ini menggenapkan pendanaan untuk Traveloka menjadi US$500 juta.

"Hasil riset Google yang dirilis pada akhir 2017 bahkan menunjukkan bahwa nilai investasi di bidang start-up teknologi di Indonesia menempati urutan ketiga terbesar setelah sektor migas. Total investasi yang masuk berjumlah Rp40 triliun pada periode Januari hingga Agustus 2017," ujar Ari.

 

Investor lokal

Namun, Ari juga menyampaikan bahwa riset Google menyatakan bahwa dari segi kuantitas kesepakatan investasi start-up di Indonesia masih dikuasai investor lokal. Cuma, secara nilai, investasi tersebut masih didominasi investor asing.

Karena itu, Ari menyarankan beberapa hal agar investor lokal lebih agresif mendanai start-up. Ia meminta adanya terobosan peraturan untuk dapat menyediakan kendaraan yang tepat bagi investor lokal.

Di negara lain, investor dapat mendanai start-up melalui produk investasi sebagai kendaraan yang sering disebut venture capital. Produk tersebut dikelola manajer investasi.

"Badan Ekonomi Kreatif juga merekomendasikan insentif pengurangan pajak bagi pemodal start-up. Ini akan sangat baik mendorong iklim investasi," ujarnya.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengungkapkan salah satu sektor yang berpotensi besar mendorong start-up meraih unicorn, yaitu pendidikan. Hingga kini belum ada start-up di bidang pendidikan yang menjadi unicorn, meskipun tidak sedikit yang telah lahir, seperti Studi Ilmu.

Aplikasi Studi Ilmu menyelenggarakan kursus daring pertama di Indonesia. Kursus daring dengan biaya berlangganan terjangkau serta fasilitas sertifikat daring menjadi solusi yang menarik bagi para profesional yang ingin memperdalam kemampuan.

Studi Ilmu menyediakan ribuan kursus dan video dalam berbagai bidang, seperti business english, leadership, dan customer service. "Para instruktur Studi Ilmu berlatar belakang sebagai direktur, general manager, dan manajer dari perusahaan-perusahaan besar di Indonesia," tandas Berny Gomulya CEO sekaligus Founder Studi Ilmu.   (*/S-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More