Erdogan tidak Gentar Hadapi AS

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Minggu, 12 Agu 2018, 23:50 WIB Internasional
Erdogan tidak Gentar Hadapi AS

AFP

PRESIDEN Turki Recep Tayyip Erdogan tidak gentar terhadap langkah Amerika Serikat (AS) yang berupaya melemahkan perekonomian negaranya. Ketegangan antarkedua negara memicu AS menaikkan tarif impor baja dan aluminium dari Turki serta berdampak pada pelemahan nilai tukar mata uang lira.

Perselisihan antarsekutu NATO itu dilatarbelakangi berbagai macam persoalan. Mulai kepentingan di Suriah, ambisi Turki membeli sistem antirudal S-400 buatan Rusia, hingga kasus penahanan pendeta berkewarganegaraan AS, Andrew Brunson, yang diadili di Turki atas tuduhan keterlibatan terorisme.

Sejak awal 2018, nilai tukar lira mengalami depresiasi lebih dari 30%. Begitu Presiden AS Donald Trump melipatgandakan tarif impor baja dan aluminium dari Turki, nilai tukar lira langsung anjlok sebesar 18,5%.

Belum lama ini, Erdogan yang berpidato di wilayah utara Turki menegaskan AS harus menebus perbuatannya lantaran telah menantang Turki demi hal-hal yang dia sebut sebagai kalkulasi kecil. Dengan lantang Erdogan mengecam Washington sebagai pihak yang memulai genderang perang ekonomi dan memberikan sanksi terhadap sejumlah negara.

Selain mengecam, Ankara memberikan sinyal untuk mencari sekutu baru apabila AS terus menggulirkan bola panas. Beberapa negara yang menjadi opsi di antaranya Rusia, Tiongkok, dan negara-negara Uni Eropa.

"Mereka yang sesungguhnya tidak dapat bersaing dengan kami, kemudian menggulirkan skema kurs fiktif daring yang tidak memiliki kaitan dengan realitas negara kami, baik dari sisi produktivitas maupun ekonomi riil," tukasnya.

Dia menekankan perekonomian Turki tidak sedang mengalami krisis atau kebangkrutan. Menurutnya, strategi untuk keluar dari skenario pelemahan mata uang ialah dengan meningkatkan produksi dan membatasi tingkat suku bunga acuan.

Hal itu sejalan dengan pemikiran Erdogan yang sedari awal menyebut dirinya sebagai 'musuh suka bunga' lantaran menginginkan kredit murah dari perbankan agar pertumbuhan ekonomi melesat.

 

Kecemasan investor

Kalangan investor cukup gusar terhadap memanasnya hubungan Turki-AS lantaran dapat membawa situasi perekonomian ke arah hard landing. Kekhawatiran itu memberikan sentimen negatif pada pergerakan harga indeks harga saham Turki.

Depresiasi lira yang terlalu dalam pun menimbulkan kegelisahan perbankan Uni Eropa yang menyuntikkan dana ke Turki. "Terjadi krisis mata uang di Turki akibat risiko geopolitik. Hal ini sudah jelas digunakan oleh para pembuat kebijakan luar negeri AS," kata analis sekuritas dan keuangan Selva Tor kepada Al Jazeera.

Kini, tensi antara Washington dan Ankara kian meningkat pascapenangkapan Pendeta Brunson yang telah dipenjara hampir dua tahun. Pemerintah Turki menuduh pendeta yang memimpin sebuah gereja protestan di wilayah Aegen, Izmir, itu melakukan spionase dan mendukung kelompok teroris.

Dia ditahan pasukan Turki pada 2016 lalu karena dianggap membantu sebuah organisasi pimpinan Fethullah Gulen yang berupaya melancarkan kudeta terhadap Erdogan.

Sementara itu, terkait kasus penahanan Brunson, Trump mendesak Erdogan segera membebaskan warga negara AS itu. Akan tetapi, Ankara mengingatkan AS tidak ikut campur dalam proses peradilan tersebut.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Mohammed Javad Zarif menyebut AS telah kecanduan menjatuhkan sanksi kepada negara lain serta bersikap intimidatif.   (I-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More