Densus Anti Teror Tangkap Empat Terduga Teroris Jaringan Poso

Penulis: Andi Aan Pranata Pada: Sabtu, 11 Agu 2018, 13:36 WIB Nusantara
Densus Anti Teror Tangkap Empat Terduga Teroris Jaringan Poso

ANTARA/Adeng Bustomi

DETASEMEN Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri menangkap empat orang terduga teroris di wilayah Sulawesi Selatan, Sabtu (11/8). Dua orang dibekuk tanpa perlawanan di kabupaten Bone, dua lainnya di Luwu Timur.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Dicky Sondani mengatakan, empat orang ditangkap merupakan tersangka kasus terorisme yang diduga jaringan Poso, Sulawesi Tengah. Masing-masing berinisial B, M, I, dan R. Mereka disebut terhubung dengan Santoso dan Daeng Koro, yang telah ditembak mati.

"Empat orang ini sudah ikut dalam berbagai aksi teror sejak tahun 2011. Mereka diduga ikut menyuplai, mengamankan, menyiapkan perlindungan, dan menyiapkan bahan peledak," kata Dicky di Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (11/8).

Dicky menjelaskan, densus yang dibantu tim Anti Teror Polda Sulsel serta Polres Bone dan Luwu Timur turut menyita barang bukti 15 kilogram bahan peledak dalam jerigen. Bahan itu telah dicampur dengan berbagai zat dan siap diledakan.

Dicky memastikan empat tersangka sebagai warga Sulsel. Mereka kini beraktivitas sebagai petani. Namun polisi melacak mereka terlibat dalam berbagai aksi teror di wilayah Poso, Sulteng, dan sudah lama tergabung dalam jaringan Santoso.

"I, salah satu di antara mereka, disebut sebagai salah satu amir mujahidin atau pimpinan," ungkap Dicky.

Usai ditangkap, empat orang tersebut dibawa ke Markas Polda Sulawesi Selatan. Densus saat ini sedang memeriksa mereka untuk menelusuri sel jaringan teror lainnya di Sulteng. Rencananya, mereka diterbangkan ke Jakarta hari ini.

"Dengan adanya bahan ledak yang ditemukan, tidak menutup kemungkinan mereka merencanakan aksi. Dan dengan penangkapan ini kita bisa mencegah," pungkas Dicky. (Medcom/OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Pemungutan suara Pemilu Presiden dan Wapres (Pilpres) 2019 telah terlaksana. Saat ini, penghitungan manual masih berlangsung oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Perhitungan berjalan paralel dengan real count berbasis teknologi informasi (TI) oleh KPU. Hanya saja, terjadi beberapa kesalahan dalam input data dalam proses real count. Bagaimana menurut Anda seharusnya sikap KPU?





Berita Populer

Read More