Bermulanya Optimisme Pajak?

Penulis: Ronny P Sasmita Direktur Eksekutif Economic Action Indonesia/Econact,Staf Ahli Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia Pada: Sabtu, 11 Agu 2018, 06:25 WIB Opini
Bermulanya Optimisme Pajak?

Ilutsrasi Duta

PENERIMAAN pajak dalam APBN 2018 direncanakan sebesar Rp1.424 triliun. Jika dibandingkan dengan realisasi penerimaan pajak tahun 2017 yang besarnya Rp1.151 triliun, angka itu terbilang tumbuh 23,6%. Nyatanya, angka pertumbuhan itu berada jauh di atas pertumbuhan alami yang hanya berkisar 8-9%. Adapun realisasi penerimaan pajak pada semester I-2018, tercatat sebesar Rp581,5 triliun atau 41% terhadap rencana setahun.

Pertumbuhan pencapaian penerimaan kali ini tentu sangat menggembirakan karena merupakan yang tertinggi untuk semester I dalam tiga tahun terakhir. Lihat saja, pada 2016, pertumbuhan pajak semester pertama hanya sebesar 34,12%, tahun 2017 naik jadi 39,89%.

Jumlah penerimaan Rp581,5 triliun tercatat berasal dari kontribusi perolehan dari pajak penghasilan (PPh) Rp359,4 triliun atau 61,8%%, pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPn-BM) Rp218,1 triliun atau 37,5%, serta pajak bumi dan bangunan (PBB) dan pajak lainnya Rp4,02 triliun atau 0,7%.

Sementara itu, berdasarkan sektor usaha, penerimaan pajak Rp581,5 triliun diperoleh dari sektor industri pengolahan Rp164,03 triliun atau 30,3%, perdagangan Rp111,76 triliun (20,6%), jasa keuangan Rp76,72 triliun (14,2%), pertambangan Rp38,75 triliun (7,2%). Lalu, konstruksi dan realestat Rp35,19 triliun (6,5%), serta sektor pertanian Rp10,87 triliun (2,0%).

Bila dibandingkan dengan semester I-2017, pertumbuhan per sektor penyumbang pajak juga sangat konstruktif. Jenis pajak PPh Pasal 21 tumbuh sebesar 20,26%, PPh badan 23,81%, dan PPN dalam negeri 9,12%. Terkait transaksi perdagangan internasional, PPh Pasal 22 impor tumbuh 28%, PPN impor 24,29%, dan PPn-BM impor 1,65%.

Membaiknya pertumbuhan penerimaan per sektor semester pertama 2018 tersebut didorong oleh beberapa faktor. Seperti kenaikan harga komoditas, termasuk Indonesia Crude Oil Price (ICP), kenaikan produksi dalam negeri, kenaikan konsumsi dalam negeri, penguatan impor, pembayaran tunjangan hari raya (THR), pun gaji ke-13.

Tak lupa pula kontribusi dari pelaksanaan pilkada serentak pada 27 Juni 2018 di berbagai daerah di Tanah Air, yang dalam beberapa waktu (bulan) sebelumnya membutuhkan berbagai alat peraga kampanye sebagai kebutuhan, mobilitas, dan lainnya.

Dalam kacamata fiskal dan ekonomi, ada beberapa hal baik yang dapat kita ambil sisi positifnya. Pertama, pemerintah melalui otoritas pajak terkait telah menunjukkan perbaikan kinerja pajak. Indikatornya tentu sangat sederhana, yakni membaiknya pencapaian dan pertumbuhan penerimaan dalam empat tahun terakhir.

Sementara itu, dari sisi pertumbuhan penerimaan pajak, terbukti telah terjadi pergerakan yang melebihi pertumbuhan alami penerimaan pajak, yaitu akumulasi dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi, yang biasanya sebagai standar minimal.

Di balik itu, prestasi kedua yang diakibatkannya ialah bahwa telah terjadi penguatan fondasi dan basis data perpajakan. Hal itu diperoleh antara lain melalui hasil pengampunan pajak (tax amnesty) tempo hari dan tentunya akan semakin bertambah lagi saat kebijakan data terkait akses informasi keuangan secara otomatis (UU No 9/2017) direalisasikan.

Nah, keberhasilan perluasan basis data pajak menyiratkan pesan bahwa ruang penerimaan pajak (tax revenue space) di tengah makin menggeliatnya perekonomian nasional, baik kategori menengah, besar, maupun UMKM yang marak tersebar di Tanah Air, nyatanya masih sangat luas. Hal itu tentu sangat wajar mengingat makin membaiknya iklim investasi sebagaimana dilansir International Business Report (IBR) kuartal II- 2018 yang dipublikasi lembaga riset Grant Thornton.

Rilis tersebut memaparkan perbaikan optimisme pebisnis di Indonesia yang sudah berada pada level tertinggi di dunia, yaitu dengan skor 98%. Raihan Indonesia terbilang sangat memuaskan jika bandingkan dengan kawasan lain yang umumnya menurun, yaitu optimisme global 54% (turun dari 61% pada kuartal I), ASEAN 64%, Asia Pasifik 55%, Uni Eropa 46%, Prancis 38%, Inggris 17%, Jerman 74%, Amerika Serikat 78%, dan perkecualian Tiongkok yang meningkat menjadi 79%.

Optimisme pebisnis bisa dijadikan salah satu indikator bahwa daya tarik sekaligus daya dorong bagi pebisnis untuk berivestasi di Indonesia telah bertumbuh lebih baik jika dibanding waktu-waktu sebelumnya sehingga ke depan bisa diproyeksikan akan ada peningkatan kegiatan bisnis baik skala besar, menengah, dan UMKM.

Pesan selanjutnya ialah bahwa adanya tekad pemerintah untuk tidak mengubah besaran APBN 2018, yang secara fiskal akan menjadikan motivasi dan daya dorong bagi semua pihak, terutama instansi pemerintah dan lembaga-lembaga terkait lainnya untuk menindaklanjuti Instruksi Presiden RI No 4/2018 tentang Peningkatan Pengawasan Penerimaan Pajak atas Belanja Pemerintah dan Penerimaan Negara bukan Pajak untuk optimalisasi penerimaan pajak, baik secara horizontal maupun vertikal.

Tak lupa pesan penting lainnya dari peningkatan kenaikan penerimaan pajak ialah bahwa telah terjadi peningkatan kepatuhan wajib pajak dalam menunaikan kewajiban pajaknya.

Secara fiskal, peningkatan penerimaan pajak juga terafirmasi dari pelaksanaan anggaran dalam APBN pada semester II yang umumnya jauh lebih besar dari semester I. Dengan cara pandang ini, tidak tertutup kemungkinan bahwa penerimaan pajak pada semester II-2018 berpeluang besar untuk meningkat dari nilai statistik semula 1,27 menjadi 1,45.

Dengan lain kata lain, penerimaan pajak 2018 diperkirakam akan berada pada level aman secara fiskal. Proyeksi itu setidaknya bisa dikatakan sejalan dengan pembangunan infrastruktur yang masif dan terus berlangsung di Tanah Air dari Aceh hingga Papua, baik dananya yang bersumber dari APBN (murni pendapatan), utang, maupun swasta murni.

Sejalan dengan itu, muncul pula banyak konsorsium bisnis dalam bentuk kerja sama operasi (joint operation) yang mengerjakan berbagai proyek strategis sebagai pertanda bahwa optimisme pajak ke depan ialah sebuah keniscayaan.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More