Menjadi Pemimpin Bangsa Berjiwa Besar

Penulis: Syarief Oebaidillah Pada: Jumat, 10 Agu 2018, 19:50 WIB Humaniora
Menjadi Pemimpin Bangsa Berjiwa Besar

ist

INDONESIA merupakan bangsa yang besar, maka pemimpinnya pun meski berjiwa besar, bijaksana dalam segala hal, dan mampu memberikan inspirasi bagi rakyat untuk bersama mencapai cita-cita kemanusian yang sejati.

Kehadiran sebuah bangsa sejatinya wujud nyata dari kehendak kemanusiaan itu sendiri. Bangsa ialah wujud perdamaian, wujud keamanan, wujud kesentosaan.

"Warga bangsa yang sadar bahwa sebuah bangsa adalah manifestasi dirinya yang menginginkan kedamaian, keamanan, dan kesentosaan maka mereka akan memilih yang terbaik dari yang baik, yang adil dan berkeadilan yang berkemanusiaan dan tentu yang berkarakter wujud nyata dari jiwa yang berketuhanan," papar Ketua Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (FKIP-Uhamka), Hari Naredi, melalui keterangannya di Jakarta, Jumat (10/8), terkait masalah kepemimpinan bangsa di masa depan.

Hari mengutarakan, rakyat nantinya akan menyadari harus ada yang fokus untuk melayani cita-cita kemanusiaan. Maka perwakilan merupakan bentuk hakikat dalam dimensi rasional dan nyata sehingga mesti ada dalam manifestasi sosok pemimpin yang dipilihnya.

Ia mengingatkan sosok pemimpin yang kesehariannya tidak menyadari bahwa ia sedang memimpin tetapi sangat disadari oleh orang-orang yang berada di dekat maupun yang jauh darinya karena pancaran kemanusiaan muncul dalam sikap, sifat, dan tingkah laku yang mampu mengayomi, melindungi, serta memberikan rasa aman dan tenteram lahir batin dirasakan banyak orang,

"Itulah pemimpin sejati yang akan didaulat oleh rakyat sebagai pemimpinnya," cetus dosen sejarah dan ilmu sosial FKIP Uhamka ini.

Hari melanjutkan, jika manusia sadar akan kemanusiaannya, manusia akan saling menjaga harkat dan martabat kemanusiaannya. Kehendak menjaga martabat kemanusiaan inilah yang akhirnya akan melahirkan suatu kesepahaman bersama dan pada akhirnya bersepakat untuk membentuk sebuah komunitas atas dasar saling memberi dan menerima segala perbedaan dan bersama menjaga dan membangun hakikat kemanusiaan.

"Semoga saja akan hadir calon-calon pemimpin bangsa masa depan yang sanggup dirasakan oleh banyak orang, karena sejalan dengan hakikat dan kehendak kemanusiaan. Keimanan mewujud dalam kedamaian dan kesentosaan dalam ruang hidup dan berkehidupan," pungkasnya. (OL-1)

 

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More