Edukasi Pemilahan Sampah lewat Dropping Box

Penulis: Zuq/M-2 Pada: Sabtu, 11 Agu 2018, 07:00 WIB Humaniora
Edukasi Pemilahan Sampah lewat Dropping Box

MI/ABDILLAH

BENTUKNYA sama seperti tempat sampah pada umumnya. Kotak dengan ukuran sekitar 90 cm x 80cm x 20 cm. Tidak hanya sekedar tempat pengumpulan sampah, kotak sampah itu juga dilengkapi dengan pengelompokan berdasarkan jenis sampah. Keunikan lain ialah warna atraktif yang didominasi dengan warna hijau dipadu dengan warna lain yang tidak terlalu beku.

Selain warna yang mengundang perhatian, dinding sekeliling kotak juga penuh dengan informasi tentang sampah. Bagian atas kotak terdapat cara menggunakan tempat sampah itu. Bagian kanan dan kiri terdapat infografis tentang edukasi terkait dengan pemilahan sampah rumah tangga dan bahaya sampah jika tidak dikelola dengan bijak.

Begitulah kotak sampah yang disebut dropping box yang diluncurkan kemarin di Colony Kemang, Jakarta, Rabu (8/8/2018). Kotak sampah itu dipersembahkan Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE) bermitra dengan Waste4change.

Sebanyak 100 dropping box akan disebar ke tempat-tempat publik sebagai kampanye dan aksi nyata mengatasi sampah di Jakarta. Dropping boxi itu juga sebagai solusi sistem pengumpulan sampah kemasan yang bertujuan mengedukasi sekaligus membentuk kebiasaan masyarakat untuk memilah sampah demi mendukung usaha daur ulang sampah kemasan.

Persoalan pengelolaan sampah khususnya di kota-kota besar memang menjadi tantangan besar. Pernah membayangkan berapa truk yang digunakan untuk mengangkut sampah yang dihasilkan warga Jakarta? Sekitar 1.200-1.400 truk dibutuhkan untuk mengangkut jumlah tersebut.

Saat ini, setiap orang di Indonesia rata-rata menghasilkan 0,5 kg-0,7 kg sampah per hari. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat timbulan sampah di seluruh Indonesia pada 2017 mencapai 65,8 juta ton per tahun. Sementara itu, di Jakarta, tercatat bahwa volume sampah telah mencapai 6.500 ton-7.000 ton per hari, seiring dengan semakin meningkatnya populasi penduduk dan kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Jumlah itu hanya terhitung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi.

"6.500 ton per hari. Itu semua akan lari ke mana? Itu semua dihitungnya di tonase Bantar Gebang. Berarti, kan, tidak 7.000 (ton), berarti, kan, lebih dari 7.000. Setiap hari seperti itu," terang Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Ali Maulana Hakim dalam acara tersebut.

Jika dibandingkan dengan inisiatif pemilahan, pengangkutan dan pengelolaan sampah yang sudah ada sebelumnya, dropping box itu mempunyai beberapa perbedaan.

Pertama, pemilahan sampah dilakukan langsung oleh pembuang sampah sesuai dengan pengelompokan yang sudah disediakan, yakni: kertas (kemasan karton, kertas, dan kardus) dan nonkertas (botol plastik, kaleng minuman, botol kaca, sachet, dan kantong plastik). Kedua, sampah kemasan yang terkumpul akan diangkut secara berkala dan disalurkan kepada mitra Bank Sampah.

"Kapasitasnya 15 kg dan itu bisa langsung angkut kalau penuh," tegas Pendiri Waste4change Mohamad Bijaksana Junerosano.

Ketiga, setelah penyortiran, kemasan yang dapat didaur ulang akan disalurkan ke pabrik daur ulang, sedangkan residu (bahan yang tidak dapat didaur ulang) akan diserahkan ke mitra pengolah dari Waste4change sehingga sampah kemasan yang terkumpul tidak akan berakhir di landfill (TPS maupun TPA) untuk meringankan beban penumpukan sampah di kedua lokasi tersebut.

Tidak terkelola

Mengenai kondisi pengelolaan sampah, riset terbaru dari Sustainable Waste Indonesia (SWI) pada 2018, mengungkapkan sebanyak 24% sampah di Indonesia masih tidak terkelola. Artinya, sekitar 15 juta ton sampah mengotori ekosistem dan lingkungan karena tidak ditangani. Data yang sama juga menunjukkan bahwa 69% sampah berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) dan baru 7% sampah berhasil didaur ulang.

"Mengubah persepsi dan kebiasaan masyarakat mengenai sampah hal adalah yang penting. Perlu disadari bersama bahwa kunci dari bernilai atau tidaknya sampah terletak pada pemilahan sampah yang tepat. Sayangnya, perilaku memilah sampah pada masyarakat Indonesia masih rendah," terang perwakilan PRAISE Sinta Kaniawati.

Data Badan Pusat Statistik pada 2014 menunjukkan, tingkat perilaku memilah sampah di rumah tangga baru mencapai 18,84%. Oleh karena itu, untuk bersama-sama memperbaiki kondisi ini, PRAISE menilai partisipasi masyarakat untuk mulai aktif memilah sampah harus terus digalakkan.

Disisi lain, pemerintah telah menetapkan kebijakan dan strategi pengelolaan sampah nasional atau Jakstranas. Lewat kebijakan tersebut, ditargetkan sampah berkurang sebesar 30% pada 2025 dan 70% tumpukan sampah dapat ditangani pada 2025 sesuai dengan Peraturan Presiden No 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

"Jakstranas merupakan terobosan baru dalam pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pengelolaan sampah terintegrasi mulai dari sumber sampai ke pemrosesan akhir. Oleh karena itu, kami menyambut baik dukungan dari seluruh pihak. Hal ini juga dalam upaya mendorong tumbuhnya circular economy yang komprehensif, salah satunya adalah meningkatkan collecting system dengan perubahan perilaku publik sebagai salah satu mata rantai yang sangat penting dalam tumbuhnya circular economy," terang Direktur Pengelolaan Sampah, Direktorat Jenderal Pengelolaan Limbah, Sampah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3), KLKH, Novrizal Tahar.

PRAISE sebagai sebuah asosiasi independen yang digawangi oleh enam perusahaan pendiri, yakni Coca-Cola, Indofood, Nestl, Tetra Pak, Danone, dan Unilever Indonesia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Tingkat kelulusan calon pegawai negeri sipil dalam tes seleksi kompetensi dasar kurang dari 10% atau sekitar 128.236 yang memenuhi ambang batas. Padahal, jumlah peserta yang diperlukan lolos ke tahap seleksi kompetensi bidang (SKB) adalah tiga kali dari jumlah formasi yang dibuka. Karena itu, pemerintah berencana mengurangi nilai ambang batas dan menurunkan 10 poin nilai untuk tes intelegensia umum. Setujukah Anda dengan rencana pemerintah itu?





Berita Populer

Read More