Defisit Transanksi Berjalan Capai 3% Terhadap PDB

Penulis: Nur Aivanni Pada: Jumat, 10 Agu 2018, 20:55 WIB Ekonomi
Defisit Transanksi Berjalan Capai 3% Terhadap PDB

Dok BI . Direktur Eksekutif Kepala Departemen Statistik BI Yati Kurniati

DIREKTUR Eksekutif Kepala Departemen Statistik Bank Indonesia Yati Kurniati mengatakan bahwa defisit transaksi yang berjalan pada triwulan II 2018 tercatat USD 8,0 miliar atau 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat USD 5,7 miliar atau 2,2% terhadap PDB.

"(Defisit transaksi berjalan triwulan II) Ini lebih tinggi dari defisit transaksi berjalan triwulan I. Total triwulan I dan II, defisit transaksi berjalan masih dalam batas aman sebesar 2,6% terhadap PDB," katanya dalam konferensi pers, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (10/8).

Yati menjelaskan, peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas di tengah kenaikan defisit neraca perdagangan migas.

"Kenapa surplus perdagangan nonmigas ini turun? Itu kelihatan juga di PDB bahwa pertumbuhan impor itu tinggi. Impor-impor yang dilakukan tidak semata untuk konsumsi, tapi untuk kegiatan produktif. Impor yang tinggi adalah impor bahan baku dan barang modal," terangnya.

Lebih lanjut, Yati menyampaikan peningkatan defisit neraca perdagangan migas dipengaruhi oleh naiknya impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan yang lebih tinggi saat bulan Ramadhan dan libur sekolah.

"Triwulan II kita kan ada libur panjang dan Ramadhan. Itu ada peningkatan konsumsi yang juga meningkatkan kebutuhan bahan bakar, baik dari volumenya dan harganya, yang menyebabkan defisit migasnya juga meningkat," katanya.

Yati pun mengatakan bahwa pada triwulan II 2018 adalah waktu pembayaran dividen. Hal itu pun turut meningkatkan defisit neraca pendapatan primer.

Di sisi lain, Yati menyampaikan terjadi kenaikan surplus transaksi modal dan finansial. Hal itu, kata dia, sebagai cerminan adanya optimisme investor asing dan domestik terhadap kinerja ekonomi domestik.

"Transaksi modal dan finansial pada triwulan II 2018 mencatat surplus USD 4,0 miliar, lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya dengan surplus sebesar USD 2,4 miliar," katanya.

Surplus transaksi modal dan finansial tersebut berasal dari aliran masuk investasi langsung asing yang tetap tinggi dan investasi portofolio yang kembali mencatat surplus. Tak hanya itu, surplus investasi lainnya juga meningkat terutama dari penarikan simpanan penduduk pada bank di luar negeri untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan di dalam negeri.

Kendati demikian, sambung Yati, surplus transaksi modal dan finansial tersebut belum cukup untuk membiayai defisit pada neraca transaksi berjalan. "Sehingga pada triwulan II 2018 Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan mengalami defisit sebesar USD 4,3 miliar," jelasnya.

Dengan perkembangan tersebut, Yati mengatakan bahwa posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2018 menjadi sebesar USD 119,8 miliar. Jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional sebesar 3 bulan impor.

Yati pun berharap, kinerja NPI diperkirakan masih tetap baik dan dapat terus menopang ketahanan sektor eksternal. "Defisit transaksi berjalan untuk keseluruhan 2018 diprakirakan masih dalam batas aman yaitu tidak melebihi 3,0% dari PDB. Dalam hal ini, sejumlah langkah telah ditempuh Pemerintah melalui kebijakan memperkuat ekspor dan mengendalikan impor melalui peningkatan import substitution," katanya.

Ia mengatakan pemerintah akan terus memperkuat sektor pariwisata, terutama di empat daerah wisata prioritas, untuk mendukung neraca transaksi berjalan. Bank Indonesia pun, sambungnya, akan terus mencermati perkembangan global yang dapat memengaruhi prospek NPI, antara lain ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi, kecenderungan penerapan inward-oriented trade policy di sejumlah negara, dan kenaikan harga minyak dunia.

"Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi, serta memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam mendorong kelanjutan reformasi struktural," pungkasnya. (OL-7)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More