Lima ASN Didisposisikan Dipecat

Penulis: (KG/J-3) Pada: Jumat, 10 Agu 2018, 23:30 WIB Megapolitan
Lima ASN Didisposisikan Dipecat

thinkstock

LIMA pejabat aparatur sipil negara (ASN) di Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Depok didisposisikan dipecat. Sebab, mereka seharusnya menjadi penegak peraturan daerah, justru berlaku sebaliknya menjadi calo perizinan di sana.

Kepala Satpol PP Kota Depok, Yayan Arianto, mengatakan lima anak buahnya diusulkan dikeluarkan karena melakukan pelanggaran berat. Rekomendasi pemindahan mereka, sudah disampaikan langsung kepada Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Depok Supian Suri.

"Masalah pelanggaran disiplin lima pegawai ASN Satpol PP sudah dilaporkan ke Pak Supian Suri (Kepala BKPSDM) guna menyikapi pelanggaran tersebut," kata Yayan,  Jumat (10/8).

Pemberian saksi terhadap ASN yang indisipliner, ungkap Yayan, diatur dalam PP No 53/2010 tentang Disiplin ASN serta UU No 5/2014 tentang ASN. "Hukumannya macam-macam, bisa dipecat secara tidak hormat karena melakukan pelanggaran berat," tegas Yayan.

Dia menegaskan, rekomendasi pemberian hukuman diterapkan karena mereka menyalahgunakan wewenang. Mereka bertindak sebagai calo perizinan di Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Sistem Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Depok.

"Ada laporan disertai bukti memadai bahwa ada ASN kami menjadi calo perizinan. Ini harus diberantas dan Kepala Satpol PP wajib memberikan sanksi tegas. Saya harap instansi lain di Kota Depok menerapkan yang sama karena mereka telah mencoreng nama ASN," tegasnya.

Menurut Yayan, dari laporan yang diterimanya, bila apa yang diinginkan ASN belum dipenuhi oleh si pemohon, misalnya, surat izin mendirikan bangunan (IMB)-nya ditahan. "ASN tersebut sengaja menahan IMB-nya jika belum memberikan yang dimintanya," ucapnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

DRAMA penganiayaan Ratna Sarumpaet akhirnya terbongkar. Kisah hayalan Ratna itu menjadi ramai dipublik setelah beredar foto muka lebam dan membuat Capres Prabowo Subianto menggelar konpers khusus untuk mengutuk kejadian itu pada pada Selasa (2/10) malam. Acara ini bahkan disiarkan secara langsung TV One dengan menyela acara Indonesia Lawyers Club yang membahas soal gempa di Sulteng. Kejahatan memang tidak ada yang sempurna. Beberapa netizen mengungkap beberapa kejanggalan dan dugaan ini diperkuat hasil penyelidikan polisi. Akhirnya, Ratna pun mengakui kebohongannya. Dia mengaku mendapat bisikan setan untuk berbohong. Walau sudah ada pengakuan Ratna, Kadivhumas Polri Irjen Setyo Wasisto menegaskan tetap akan melakukan proses hukum karena kasus ini sudah bergulir dan menimbulkan keresahan. Apakah Anda setuju dengan sikap Polri ini?





Berita Populer

Read More