Guru Sekolah di Tangsel Pukul Kepala Murid Pakai Kayu

Penulis: Deni Aryanto Pada: Jumat, 10 Agu 2018, 19:01 WIB Megapolitan
Guru Sekolah di Tangsel Pukul Kepala Murid Pakai Kayu

Ilustrasi/metrotvnews.com

TINDAK kekerasan di dunia pendidikan kembali terjadi di Kota Tangerang Selatan (Tangsel).

Kejadian tersebut dialami murid kelas VII SMP Islam Bahrul Ulum di Jalan Kali Baru RT07/06, Parigi Baru, Pondok Aren. Ia menerima pukulan kayu pada bagian kepala dari gurunya.

Awalnya, murid yang berinisal DR tengah mengikuti pelajaran pada Jumat (3/8) pekan lalu. Saat itu, guru kelas yang diketahui bernama Daprudin menanyakan tugas pekerjaan rumah kepada DR. Diakui DR, ia memang belum mengerjakan tugas dengan alasan beberapa hari sebelumnya dalam kondisi sakit. Alhasil, DR dipukul oleh gurunya dengan sebuah kayu kecil yang ada di dalam kelas.

“Saya emang belum kerjain pr (pekerjaan rumah). Sebelumnya enggak masuk karena sakit. Waktu saya bilang belum kerjain pr tau-tau kepala saya dipukul kayu,” cerita DR, Jumat (10/8).

Kejadian serupa, imbuh DR, bukan pertama kali dialaminya dengan guru yang sama. Pernah suatu ketika, ia dipukul dengan kayu pada bagian kakinya. Kekerasan seperti ini diketahui juga pernah dialami murid lainnya.

“Mukulnya kencang, saya sampai pusing. Waktu itu juga dipukul kaki kiri sama kanan saya. Pak Daprudin emang galak, temen-temen sering pada takut dipukul,” tuturnya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Sekolah Menengah Pertama Islam Bahrul Ulum Sapari mengatakan dirinya sudah mendapat informasi perihal kejadian tersebut. Hanya saja, peristiwa pemukulan sudah diselesaikan oleh kedua belah pihak. Dalam proses tersebut, tahap mediasi juga melibatkan pihak sekolah.

“Di ini (pukul kayu) lah belakangnya plak plak plak (menjelaskan pemukulan bagian kepala belakang), tiga kali. Sudah, permasalahannya sudah selesai dan saya mediasi dengan orangtua terkait. Tidak ada masalah. Malah siswa meminta agar guru tersebut tidak disanksi dan tidak diapa-apakan oleh pihak sekolah,” ujar Sapari.

Kejadian baru diketahui Sapari setelah satu hari berselang, orangtua DR mendatangi sekolah untuk mengadukan kejadian yang dialami putranya. Laporan tersebut langsung diterima Sapari dan membuatnya terkejut. Pasalnya, baru kali ini ada kejadian pemukulan.

“Dari tahun 2007 sampai sekarang tidak ada yang namanya guru mukul muridnya. Gaji guru honor memang kecil, cuma Rp400 ribu. Tapi kita disini pejuang-pejuang pendidikan,” paparnya.

Berbicara peraturan sekolah, sambung Sapari, tidak ada poin sanksi pukul untuk menegakan kedisiplinan. Terhadap peserta didik, mereka tetap diberikan ancaman hukuman yang bersifat edukatif apabila melakukan kesalahan. Hal itu juga disusun setelah ada kesepakatan pihak sekolah bersama orang tua murid.

“Itu sanksi untuk siswa karena merupakan program sekolah. Kalau buat gurunya, jika mengulang maka dikeluarkan dari sekolah atau dilaporkan ke pihak yang berwenang,” tandasnya.(OL-6)

Berita Terkini

Read More

Poling

TEKA-teki kontestan Pilpres 2019 terkuak sudah. Joko Widodo akhirnya memilih Ketua Umum MUI Ma'ruf Amin sebagai cawapres sedangkan Prabowo Subianto berpasangan dengan Sandiaga Uno. Mereka saat ini tengah melengkapi persyaratan dan akan mendatangi KPU pada Jumat (10/8) di batas akhir pendaftaran Capres/Cawapres 2019. Dari dua pasangan itu, siapa pilihan Anda?





Berita Populer

Read More